SOMEWHERE

By. Walter De La Mare

Could you tell me the way to Somewhere-

Somewhere, Somewhere,

I have heard of a place called Somewhere-

But know not where it can be.

I’s makes no difference,

whether or not

I go in dreams

Or trudge on foot:

Would you tell me the way to Somewhere,

The Somewhere meant for me.

There is a little old house in Somewhere,

Somewhere, Sonewhere,

A queer little house, with a Cat and a Mouse-

Just room enough for three.

A kitchen, a larder,

A bin for bread,

A string of candles,

Or stars instead,

A table, a chair,

And a four-post bed-

There’s room for us all in Somewhere,

For the Cat and the Mouse and me.

Puss is called skimme in Somewhere,

In Somewhere, Somewhere;

S-K-I-M-M-E.

Miss Mouse in scarcely

One inch tall.

So she never needed

A name at all;

There squeaks no answer,

Great or small-

Though her tail is a sight times longer

than this is likely to be:

FOR

I want to be off to Somewhere,

To far, lone, lovely Somewhere be.

No matter where Somewhere be.

It makes no difference

Whether or not

I go in dreams

Or trudge on foot,

Or this time to-morrow

How far I’ve got,

Summer or Winter,

Cold, or When,

Or Why, or What-

Please, tell me the way to Somewhere;

The Somewhere meant for me.

@ a well- loved English poet

my fav poem. just it.

Gurem

mungkin matamu terlampau petang memula riuh. kita memantik sunyi di derap ingatan. seperti kutukan api di gerai masaimu

anne yang malang.
kita terlahir menjadi apa, siapa, dan mengapa. sudah terpetakan jejak-jejak. kedangkalan iman dan politik mengeruhkan hening. menyublim pikiran. biarkan dunia dengan kesedihannya tertatih.

di tempat jauh. ada yang membakar cemburu lewat ayat-ayat kepahitan. memotong sepi dini hari. pada diam mu dan doa- doa di dada.

“selamatkan iman kami, tuhan. engkau yang sewarna batu keagungan”

pada kita di ruang sunyi. mengikis senja yang hilang arah. ” pukul berapa mereka akan tiba?”
di matamu yang lampion ungu, terbaring sepasang coklat mataku. kosong.
dinding- dinding ruang berlipat waktu telah kau ayun. memastikan setiap hari adalah usia yang tanda tanya. mati hidupkah?

di kamar, seseorang memaknai mein kampf. literasi masa depan. bangsa-bangsa terkutuk. kidung-kidung pembakaran. asap- asap berkejaran mencari pembenaran. kita terpuruk dalam kisah tom dan cerobong asap. kumpulan dongeng indah sedunia. tapi dunia tak lagi indah. belum waktunya, katamu.

senyap, anne

tak ada lagi huruf-huruf berlarian, bertelanjang dada, gugur dari tebing matamu
kita memeluk rembulan diam-diam. meresapi. catatan tak sebatas berkisah dan jatuh dalam perenungan. dari curahan kabut oktober, memasiv tanda-tanda. pada sehelai napas di lembaran kusam.

bermimpilah, anne
di retak sudut ruang pena menyala-nyala. memanah kata dari tiap tanda baca.
aku di sini. di hadapan masa lalumu yang ku baca berulang. menghentikan angin utara di perairan okinawa. begitu jauh kita berjarak masa. dingin yang kembar, jari yang padu. seperti sudut mata engkau.

kadang impian patah begitu saja. berdejavu dalam ruang kenang. kawat-kawat melabirin ku dan mu tanpa tanda kutip atau apa pun yang dalam suratan.
kita, anne, terus menunggu dalam ruang penuh ayat-ayat tanpa wajah tuhan.

tuhan, dimanakah kau terletak kini?

sebatang lilin seolah membakar lidah. kita bersembahyang dalam keimanan dua warna. khusyuk serupa pekatnya hidup.
kian absurd nasib kita di ruang sana. nun. bintang di lengan-lengan. berlalu lalang menuju dusta.
dan anne,
andai saja,
ya, andai saja kita sempat jumpa dalam kotak pena. bersama kita membakar sunyi dalam serpihan sukaria. memainkan fur elise, tuts-tuts seraya bertop shoe dalam getir. merepih yang sudah- sudah. bermula dan berakhir kemudian.

kita tak pernah sampai ya, anne.
kita hanya manusia terbuang oleh mereka yang begitu damba musim kegelapan.

selamat senja, anne…

Catatan Akhir Tahun 2012

Seperti musim-musim yang datang dan pergi. Dan hari kemarin yang pernah jadii milik kita. Hari ini mungkin masih milik kita. Hari depan belum tentu milik kita. Namun setidaknya kita pernah memiliki ruang dalam sebuah ingatan. Yang akan kita bawa dalam perjalanan berikutnya. Dan di tiap jeda perhentian, kita bisa menguburnya, lalu kita taburkan bunga dan ucapan,’ Telah kita titip pada titik perhentian sekian, satu kotak ruang kenang. Yang di dalamnya tercetak segala lekat ingatan. Dalam kisah yang belum terpintal utuh, meski penuh. Mengendap dan abadi di keharibaan hari-hari terlewat. Lalu kita semua saling mengucapkan selamat jalan menuju satu, dua atau banyak persimpangan. Jalan kita semua, atau jalan mereka yang di sana. Mungkin di muaranya akan kita temukan kenangan baru. Atau hanya keheningan yang bening.

Mungkin tak ada yang harus terpahatkan bagi ingatan-ingatan yang tertinggal. Yang mengajak kita kembali telusuri lorong waktu pada hari-hari terlewat. Yang kemarin, yang sempat terlupa dan lepas. Kita kadang mencatatnya jauh dalam ceruk hati. Meletakkannya dalam sebuah bola kristal bening. Memandangnya sesekali untuk mengetahui apa yang akan terjadi. Alangkah banyaknya yang telah dan mungkin belum kita lakukan bagi diri sendiri, apalagi bagi kebahagiaan orang lain. Mungkin kita hanyalah gumpalan gumpalan ego yang meretaskan satu lilin yang orang lain nyalakan. Dari hari kepada minggu kepada bulan keqada tahun. Kita akan terus berlari melawan waktu. Kita berkejaran dalam gelombang lupa dan ingat yang menggenangi pusat kesadaran. Kadang berkabut dan meruap dalam lintasan musim. Tapi kita terus berjalan. Tertatih, namun pasti. Menuju kepulangan. Ke tempat kita berdiam.

 

Lihatlah, Statsiun, Bandara, Halte, Pelabuhan terus menorehkan rekam kenang bagi kita yang datang dan pergi. Menuju yang pasti, menuju yang entah. Bahkan setiap petualang pun pasti akan pulang. Ke rumah dan pelukan keluarga. Kita semua hanyalah pejalan-pejalan senyap di tengah keramaian. Atau mungkin pejalan gaduh di rimba hening. Kita hanya harus pulang sesekali atau selamanya. Untuk kemudian pergi lagi. Atau pilih menetap sementara, bahkan selamanya. Kita hanya tinggal memutuskan untuk pergi atau kembali pulang, begitu kata seorang teman. Bagaimana denganmu?

 

Selamat Tahun Baru.

 

 

Setiap hari adalah awal yang baru_Hemingway