Penulis Yang Sakit Punggungnya

Penulis sepuh itu memijat kembai punggungnya dengan tangan yang dilingkarkannya ke belakang. Agak sulit memang. Namun demi mengurangi rasa sakitnya yang mulai mengganggu konsentrasi kerjanya, dipaksakannya tangan lemah itu memijat belakang punggungnya. Punggung yang sudah membungkuk dimakan usia dan derita hidup. Kacamatanya nyaris melorot. Wajahnya sedikit meringis, menahan nyeri. Baginya tak ada yang lebih mengganggu selain serangan periodik nyeri punggngnya itu.

“Akh, mungkin memang sudah saatnya aku istirahat dari aktifitas yang menguras segala sisi kehidupanku ini “, batinnya pasrah. Setelah agak reda diambilnya secangkir teh hangat buatan wanita yang sudah lima tahun ini membantu mengurus rumah tangganya. Ya, mereka hanya tinggal berdua di tempat sunyi itu. Agak dipinggiran kota, dan sedikit masuk hutan kecil yang asri.

Wanita yang biasa di sapa Sofia itu awalnya adalah penduduk desa tetangga. Usianya tak lebih sepuh dari tuannya yang berprofesi sebagi penulis ternama dunia. Wanita itu mengabdikan diri dirumah sang penulis, setelah bencana di kampung halamannya lima tahun lalu merengut habis keluarganya. Rumahnya dan masa depannya. Begitu pula dengan sisa keluarga lainnya yang juga lenyap di telan bencana. Wanita sepuh akhirnya hanya seorang diri. Tetapi kemudian seorang penulis yang tinggal tak jauh dari desanya kini telah mengangkatnya menjadi pekerja tetap yang bertugas mengurus segala keperluannya sehari-hari

Tak banyak yang diketahui wanita tua itu akan masa lalu sang tuan yang kesehariannya tak lain hanya berkutat dengan mesin tik tuanya dan setumpuk buku buku yang mengelilinginya. Ditambah lagi lembaran lembaran naskah yang seakan berlomba memasuki keranjang sampah mungilnya di sudut meja antik itu. Sang tuan yang sering di sapanya dengan tuan penulis, betah berjam jam memainkan jemarinya yang entah terbuat dari apa itu, hingga selama lima tahun ini tak hentinya jemari itu menari nari diatas mesin tik yang agaknya sudah layak dimusiumkan. Setiap pagi dan sore wanita itu menyediakan secangkir teh hangat kesukaan tuannya. Teh hangat beraroma lavender. Bagus untuk meredakan kepenatan yang mungkin menyapa konsentrasi kerja tuannya hari itu. Sang tuan juga harus rutin minum obat anti kejang. Dia pengidap epilepsi. Bila terlalu lelah tak jarang penyakitnya kambuh dan itu sangat menguras kesabaran wanita lembut tersebut. Penduduk desa sudah lama mengetahui penyakit sang penulis yang sering mereka juluki dengan si penyair. Sebagian dari mereka pernah menyaksikan saat sang penulis itu kambuh penyakitnya Beberapa diantaranya mengiranya kesurupan. Atau bahkan sakaw karena over dosis. Namun mereka tak pernah benar benar berani mengusiknya lebih jauh. Kehidupan sang penyair tua itu begitu misterius. Nyaris tak pernah terlihat berkumpul dengan penduduk sekitar. Mereka hanya melihatnya sesekali saat sang penyair menyiram bunga gardenia kesayangannya. Bunga gardenia yang subur itu adalah kebanggannya.

Baik wanita pekerja rumah tangganya maupun penduduk sekitar tak pernah tahu bagaimana penyair tua itu bisa hadir di desa mereka. Namun dari kasak kusuk yang berseliweran diantara penduduk kota kecil sampai desa itu, mereka akhirnya tahu sedikit tentang sosok misterius tsb. Beberapa wartawan dalam dan luar negeri sering bertandang mengunjunginya. Dan dari merekalah para penduduk mendapat banyak keterangan yang meliputi aktifitasnya. Ternyata dia seorang yang ramah dan sopan. Namun tak suka bersosialisasi pada masyarakat banyak atau memang tak ada waktunya untuk lakukan hal itu. Lambat laun para penduduk mulai terbiasa dengan kehidupan penuh rahasia sang penyair yang agaknya punya pandangan tersendiri akan gaya hidupnya. Hidupnya yang selalu di liputi kesunyian. Namun tak pernah menolak siapapun yang bertandang kerumahnya. Asal bukan dia yang disuruh meninggalkan rumah mungilnya yang lengang tersebut.

Kembali di teguknya sisa teh hangat yang tersisa, Lalu dia mulai merasakan jarinya gemetar. Akhirnya dengan langkah tertatih dia meninggalkan kursi dan mesin tiknya. Novelnya hampir selesai. Kali ini kisah diambil sebagian besar dari perjalanan hidupnya sendiri. Kisah yang diputuskannya sebagai tulisan terakhir sepanjang karirnya dari dunia menulis. Dunia yang telah menghidupinya sejak remaja. Dunia yang dicintainya meski sepanjang perjalanan menuju puncak kejayaannya sebagai penulis dunia, harus dilaluinya dengan pengorbanan kehidupan pribadinya. Rumah tangganya yang dibangun sebanyak tiga kali, semua kandas ditengah jalan. Anak anaknya yang berjumlah lima orang dari masing masing istrinya, tak ada satupun yang mengikuti jejaknya. Mereka tak suka dengan kehidupan dan profesi sang ayah. Sang ayah yang awalnya sempat membuat bangga saat menerima hadiah Nobel sebagai puncak prestasinya. Namun semua itu ternyata tak bisa membuat keluarga yang dibangunnya sesempurna hasil karyanya dibidang sastra.

Keluarganya kehilangan dia. Kehilangan sosok yang hangat dan normal. Hingga fondasi keluarganya mulai runtuh satu persatu. Sampai akhirnya mereka semua benar benar meninggalkannya. Membuat sang ayah semakin bebas bergelut dalam dunia yang tak bisa mereka fahami. Dan kini sang penulis memilih menyepi di kota kecil pinggiran kota Allamo, sebuah kota kecil di selatan negeri yang selalu tak jelas cuacanya itu. Saat badai salju, sang penulis makin mendekam di kamarnya yang sunyi. Hanya berteman dengan suara mesin tik tuanya. Desa itu damai , tenang tak tersentuh perang dunia yang tengah melanda seantero negeri. Sesekali terdengar sirine meraung di tengah kota sampai ke desa kecil itu. Namun sampai kini tak pernah desa dan tempat tinggalnya terkena serangan dadakan. Sesekali terlihat dari kaca buram di jendela kamarnya iring-iringan pengungsi dari arah utara menuju desa mereka. Agaknya desa mereka merupakan zona aman hingga sang penulis merasa semuanya akan baik baik saja.

Dan memang bukan perang yang membuatnya resah. Melainkan nyeri punggungnya yang makin menghebat. Wanita sepuh pekerjanya itu sesekali membantunya memijat selama sejam. Tak hendak pula penulis itu berobat kerumah sakit terdekat. Ataupun memanggil dokter desa. Entah apa yang ada dalam fikirannya hingga bisa bertahan terus menerus menahan sakit. “Kukira lebih baik tuan kedokter saja. Akan sangat mengganggu bukan kalau dibiarkan terus? “ , Saran wanita sepuh itu pada majikan kesayangannya suatu hari saat kembali memijat punggung sang tuan yang kembali kambuh.. Sang majikan diam saja, menarik nafas.

Suatu hari sang tuan memanggilnya. Diajaknya wanita tua itu duduk disampingnya.

“Aku ingin menyampaikan sebuah pesan penting untukmu. Hanya kau yang bisa kupercaya. Benarkan kau bisa kupercaya?“, tanyanya untuk lebih meyakinkan. Wanita tua itu cepat cepat menganggukan kepalanya. Perasannya terasa aneh. Dia merasa tak nyaman pada rona wajah tuannya yang tampak memucat. “ Sakit parahkah dia? “ benaknya bertanya.

Sang tuan masih menatapnya. “ Sophie, aku mau menitipkan sebuah surat wasiat. Tolong kau tandatangani juga sebagai saksi satu-satunya. Ini hanya surat wasiat biasa. Tak perlu sampai mendatangkan orang orang penting dari biro hukum yang sering membuatku emosi itu. Fahamkah dirimu? “

Wanita tua itu mengangguk. Ada sedikit raut cemas di wajahnya yang berkerut. Sang penulis itu tersenyum arif. “ Tak apa. Kau tahu aku ini tak suka ribut ribut. Tak suka banyak orang ikut campur dalam urusan pribadiku. Surat ini untuk keluargaku. Anak anakku. Tanpa ibunya masing masing tentunya. Tadi aku telah menelpon mereka semua, kelima anakku itu. Dan setelah mengetahui apa pesanku, mereka langsung menyetujui untuk berkunjung kesini. Menyelesaikan urusan surat wasiat ini. Dan karena aku enggan banyak kata, ditambah lelah pula, maka kau saja yang jadi perwakilanku ya. Kau cerdas dan baik. Usia tak menghalangimu untuk mengetahui persoalan penting ini. Dan aku percaya padamu selama ini. Kejujuran dan kesetiaanmu.” . Wanita sepuh itu tak mengatakan apapun untuk merespon amanat tuannya. Hanya didengarnya semua pesan tuannya dengan sepenuh jiwa. Tuan yang telah ikut membangun kehidupannya selama ini.

Setelah menerima berkas surat yang terlihat amat penting itu, dan sepucuk surat kecil berstempel. Sang tuan dibimbingnya memasuki kembali ruang kerjanya. Dipijatnya kembali punggung yang seakan sudah menjadi bagian dari kawan setianya beberapa tahun ini. Menemaninya dalam kesakitan fisik dan bathinnya yang sepi.

Punggung tua yang membungkuk. Yang telah ikut menanggung beban derita kehidupan pribadinya. Bahkan juga perjalanan karirnya yang tampak gemilang.

Lalu sang tuan mulai lagi mengetik. Sofia, wanita tua itu beranjak meninggalkannya untuk menyimpan wasiat tuan besarnya. Seraya menunggu buah hati sang majikan berdatangan kerumah yang sudah tiga tahun sepi dari suara sanak keluarganya. Ada rasa bahagia, akhirnya putra putri sang majikan mau juga berkunjung lagi ke tempat sunyi ini. Menengok sang ayah yang dia tahu sangat merindukan mereka. Wanita tua itu tak ingin memikirkan apakah karena surat wasiat itu, maka belahan jiwa sang majikan akhirnya bersedia datang kembali mengunjungi ayahandanya yang unik itu.

Suara mesin tik tak lagi terdengar. Sementara sore mulai menjelang. Saatnya dia menyiapkan teh hangat kesukaan tuannya.Juga untuk menyambut kedatangan putra putri sang majikan.. Di musim gugur itu hawa terasa mulai menusuk tulang. Dingin dan tajam. Namun diluar tampak damai dan tenang. Sesekali tampak kereta kuda penduduk sekitar melintas di jalan setapak tak jauh dari rumah tuannya.

Dimatikannya kompor yang mulai mendidihkan teh panas aroma lavender kesukaan tuannya. Lalu di potongnya roti gandum hangat buatannya. Sang tuan sangat menyukai tradisi minum teh sore hari yang menghangatkan jiwanya itu.

Tak lama kemudian terdengar suara kereta kuda beriringan dan berhenti tepat di depan rumah asri majikannya. Wanita tua itu segera menyambut kehadiran putra putri tuannya yang tampak lelah dalam pakaian gemerlap mereka yang ala kota.

Suasana tampak sedikit ramai. Menghangatkan kebekuan udara yang menusuk.

Angin musim gugur yang gelisah.

Mereka bertanya dimana sang ayah, dan tersenyum setelah mendapat penjelasan wanita pekerja rumah tangga ayahnya itu. “ Akh , masih seperti biasanya ayah kita itu. Bersunyi sunyi dalam kamarnya yang pengap dan penuh buku. Apakah dia baik baik saja? “, Tanya si bungsu yang tampak lebih ceria. Seorang wanita pengacara yang sukses. Sofia menganggukan kepalanya dengan hormat. “ Punggungnya selalu sakit. Hanya itu yang mengganggu aktifitasnya selama ini. “, Jawabnya pelan. Anak-anak sang majikan saling melirik satu sama lain, lalu mengangkat bahunya tanda maklum. Baginya wajar sang ayah berpenyakit punggung. Karena sepanjang hidupnya tak lain hanya duduk di kursi antik itu guna menghasilkan karya –karya yang memang gemilang. Yang dulu sempat membuat mereka bangga, namun justru berbalik jadi bumerang bagi kehidupan remaja mereka yang serasa dinomorduakan. Merekapun mulai beristirahat.

“Aku akan membangunkan tuan, nona. Pasti dia tertidur karena lelah mengetik seperti biasanya.” wanita tua itu berkata pada Irena, salah satu anak tuannya. Namun yang menjawab si sulung. Edu.

“Baiklah,” jawabnya acuh tak acuh. Edu seorang pemain sepakbola yang sedang merintis karirnya.

Mereka masih asyik membereskan barang bawaan dan sebagian mulai menikmati teh hangat dan roti gandum, saat terdengar jerit pilu wanita penjaga rumah tangga ayahnya. Terpana sesaat , lantas berlarian kelima putra putri sang penulis itu kearah kamar sang ayah di sudut rumah. Tampak sang penulis terkulai di meja kerjanya dengan mulut menyisakan busa. Di sampingnya terlihat dua botol obat yang entah apa itu, namun sudah tak ada lagi sisanya. Agaknya ayah mereka telah menelannya semua dengan sengaja untuk mengkahiri hidupnya yang sekelam karya-karyanya yang gemilang. Sang putra sulung dengan tangan bergetar hebat membuka sepucuk surat kecil yang di letakkan ayahnya di atas bingkai foto. Hatinya remuk seketika. Isi surat itu sangat mengharukan.

” Kutinggalkan hanya sepucuk surat tak bermakna, Bagi kalian belahan jiwa yang sempat tercecer di tanganku. Maafkanlah ayahandamu yang tak pandai berdamai pada dirinya sendiri ini. Titip Sofia diantara kalian. Serta naskah terakhir sebagai sosok diriku yang tak pandai meretas waktu. Salam ”

Maka denga rasa tak percaya mereka menjadi histeris. Ada rasa sesal yang tiba tiba menyelinap dalam hati masing masing. Sementara angin Oktober disenja kelam itu semakin kencang bertiup.

Mengugurkan segala rasa yang ada…

Sekar Hanya Ingin Jadi Priyayi

Sekar bersimpuh memijat kaki simbah yang napak kelelahan setelah seharian bekerja menjadi kuli panggul hasil bumi di ujung pasar dekat alun alun kota. Namun senyum tulus yang membias di sudut bibir simbah sempat membuatnya lega. Ah, simbah ndak sakit toh? Cuma lelah, Ya kan mbah?” Batin Sekar dalam hatinya. Bocahlugu itu kian giat memijat tiap lekuk jemari simbahnya dengan sekuat tenaga. Keringat mulai mengalir membasahi keningnya. Simbah melihat itu. Diangkatnya tangan cucu tercinta semata wayangnya itu. Diusap usapnya penuh sayang.

 

“Sudah nduk, simbah sudah segeran. Sekarang kamu ayo makan dulu. Kamu juga capek kan?” ujar simbah penuh sayang. Sekar mengangguk tersipu. Disiapkannya dua piring nasi beras kualitas rendah yang agak keras itu. Beserta sambal terasi dan beberapa potong tempe beserta lalap daun singkong kesukaan simbahnya. Mereka makan penuh khidmat. Sebagai kuli panggul pasar, simbahnya yang meski sudah uzur namun masih nampak gesit itu, penghasilannya tidak menentu. Sekali manggul kadang hanya diupah tak seberapa. Hanya cukup untuk makan sehari. Tak heran kehidupan mereka berdua selalu prihatin. Sekar hanya bisa sekolah di SD gratis binaan kakak kakak mahasiswa dari kampus negeri d kotanya. Sekolah calon guru, ujar Diah anak tetangga sebayanya yang tinggal di sebelah rumah gubuknya.

 

Setiap hari dia harus bersekolah. Belajar membaca dan menulis. Serta ilmu lainnya. Sekar tak pernah mengenal sekolah sebelumnya. Usianya kini 6 tahun. Tak pernah masuk Taman Kanak Kanak. Dia hanyalah anak yang terlahir tak diinginkan. Tidak mengenal siapa orangtuanya. Ditemukan sebagai bayi mungil di sudut pasar pada suatu malam oleh pedagang yang nginap dipasar. Tak ada yang mau mengambilnya. Tak ada pula yang mau melapornya tentang kejadian itu pada aparat setempat. Simbah yang hidup sebatang karapun mengambilnya sebagai cucunya. Dan orang orang pasar tampak lega seakan terlepas beban mereka akan juga dikenai tanggungjawab atas kehidupan bayi malang itu selanjutnya. Maklum kehidupan ekonomi merekapun sudah kembang kempis.

 

Tak ada yang bertanya, bagaimana mungkin simbah yang miskin dan hanya kuli panggul itu mampu merawatnya? Karena selain hanya sebagai kuli panggul, simbah juga hanya bekerja sebagi buruh cuci. Maka adakalanya Sekar membantu simbahnya melipat baju2 yang telah di gosok simbah agar tampak rapi. Simbah tak mengizinkan Sekar ikut jadi pengamen jalanan seperti anak lainnya yang berkeliaran di jalan atau pasar demi rupiah. Simbah tak rela melihat cucu pungutnya itu kepanasan. Meski tak mampu membelikan apa apa, namun simbah berusaha memenuhi kebutuhan pangan sang cucu kecilnya tsb. Baginya itu saja dulu yang utama. Agar sang cucu dapat tumbuh sehat dan kuat. Maka simbah yang sudah uzur itupun makin giat mengangkat hasil bumi pedagang di pasar pasar demi rupiah yang tiada artinya bagi orang lain, namun sangat berarti bagi dirinya dan sang cucu tercinta.

 

Suatu malam saat mereka sedang santai di dipan kayu rumah reyot yang lebih tepat disebut gubuk itu. Simbah memandang cucunya dengan penuh arti.

“ Nduk. Kamu harus rajin sekolah ya. Agar bisa mentas nanti. Jangan dadi wong cilik terus seperti simbah iki. Syukur syukur kamu kelak bisa jadi priyayi . Hidupmu senang, simbahpun ikut senang nanti. Ya nduk? “

 

“ Inggih mbah, Sekar akan rajin sekolah. Tapi kata mba Icha, sekolahnya mau dipindah sama orang lain. Sopo iku, Sekar ndak tahu mbaaah. Mungkin orang gede. Gitu mbah kata ibunya Diah juga kemareen “.

 

Simbah terdiam sesaat. Merenungi kembali peristiwa setahun lalu. Saat dia mau daftarkan sang cucu ke sekolah gratisan di dekat rel kereta itu. Namun rupanya justru bertepatan dengan acara pembubaran sekolah gratis itu, lagi2 atas klaim sang pemilik area yang mengaku tak lagi bisa meneruskan proyek sosialnya karena hal hal yang tak jelas menurut daya nalarnya sebagai orang tak berpendidikan. Maka simbahpun pulang sambil menggandeng tangan sang cucu yang hanya bisa melongo tak mengerti.

 

Maka berita dari Sekar malam ini cukup membuatnya menahan nafas beberapa detik. Tak ada kata lain yang bisa diperbuatnya kecuali berdoa diam diam dalam hati, agar Gusti Allah dapat mencarikan jalan terbaik untuk kelanjutan pendidikan sang cucu tercinta.

Maka malam itu meski lelah seharian bekerja, simbah dengan khusyuk berdoa memohon agar Tuhan mau menolongnya. Demi sang cucu. Karena dia tak bisa berharap dari manusia, kecuali pada-NYA.

 

Namun di pagi itu, Sekar yang siap membantu keperluan simbahnya terkejut mendapati sosok kaku simbahnya yang bersimpuh di atas sajadah panjang yang kumal. Dibangunkannya simbah pelan pelan. Tubuhnya kaku, diam dan dingin. Namun parasnya tampak lembut dan damai.

Bocah itu bingung dan tiba tiba merasa takut. Ditinggalkannya simbah dan dia berlari ke tetangga depan rumah. Menggedor pintu rumah mereka dan menceritakan bahwa simbahnya kok seperti sudah mati. Kaget dan gempar seisi rumah tetangganya itu. Sebagian mengikuti Sekar kerumahnya untuk melihat simbah. Sebagian bergegas memberitahu tetangga lainnya. Maka tak berapa lama pun terdengar lengkingan pilu suara bocah kecil yang sangat berduka kehilangan orang yang dikasihinya. Para tetangga bertanya padanya apa simbahnya sakit sebelumnya. Namun bocah itu tak memahami apa yang terjadi. Tak sampai pada alam fikir kanak-kanaknya bahwa jantung simbah tak lagi kuat menahan kesedihan pada berita yang sempat didengarnya dari mulut cucunya semalam , saat dia baru saja menyampaikan harapannya. Bahwa sekolah gratis itupun bakal terancam dibubarkan lagi. Seperti tahun lalu.

 

Seminggu setelah kematian yang mengagetkan itu, Sekar hidup dari pemberian sedekah para tetangganya. Bergantian mereka memberinya uang ala kadarnya dan makanan apa saja yang kebetulan mereka punya. Namun tak ada yang mengajaknya untuk tinggal bersama dirumah mereka masing masing. Mungkin karena rumah merekapun tak lagi mampu menampung tanggungjawab satu nyawa yang akan resmi tinggal dirumahnya kelak. Sekolah gratis itupun memang bubar sudah. Tak ada respon dari pejabat setempat atas kelangsungan pendidikan anak anak golongan syudra itu selanjutnya. Semua sibuk mencari pembenaran dan tentunya saling mengkambinghitamkan satu sama lain.

 

Karena hal seperti itu sudah biasa terjadi di kota itu, maka peristiwa yang dialami Sekar dan juga sekolah gratisnya itu sering luput dari pemberitaan media masa setempat. Apalagi media saat ini lebih fokus memburu berita tentang para teroris yang entah siapa itu. Berita berita tentang mereka menjadi headline di semua media. Ditayangkan terus berulang ulang dan dikupas dari berbagai sisi di acara-acara di tivi. Seakan hanya itu hal paling penting yang jadi prioritas media untuk selalu diberitakan terus menerus ke publik.

Dan setiap orangpun seakan melupakan tugasnya masing masing. Sibuk sana sini membicarakan soal pengepungan di rumah teroris yang lagi lagi entah siapa mereka.

 

Sekar tak hirau pada segala hiruk pikuk tentang sepak terjang para teroris itu. Baginya mereka tak penting dan bukan keluarganya pula. Sore itu fikirannya sedang sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan seorang mahasiswi yang sedang memegang tanganya sambil memandangnya dengan senyum. Mba Ambar seorang mahasiswi diantara beberapa kakak-kakak mahasiswa yang beberapa waktu lalu sempat mengajarnya , kini tengah duduk dihadapannya. Menatapnya penuh empati.

Mereka bertemu saat Sekar yang tak sengaja bertemu dengannya di dekat pasar kopi. Sekar menyapanya malu malu..Tak terkira betapa pertemuan itu menjadi sangat mengharukan. Terlebih bagi Ambar setelah mendengar apa yang dialami mantan anak didiknya tsb. Ada perasaan menyesal yang tak bisa diungkapkan, namun dia tahu dirinya dan kawan-kawannyanya ikut berperan atas apa yang terjadi pada salah satu mantan muruidnya ini. Kepanikan dan kurang profesionalnya mereka dalam mengetahui kehidupan keluarga muridnya satu persatu adalah salah satu penyebab , mereka telat mendapat berita duka cita itu. Tapi setidaknya sekarang mereka belum terlambat untuk turut memikirkan nasib bocah yatim piatu ini, pikir gadis semester akhir itu. Kesempatan masih ada untuk membuat kehidupan bocah cilik itu menjadi lebih baik. Akan segera dirundingkannya dengan kawan kawan dalam komunitasnya nanti.

 

Maka lewat perjuangan para mahasiswa yang sebenarnya hanyalah anak anak rantau yang hidup ngekost itu, dapatlah diusahakan agar Sekar bisa diajak tinggal disalah satu tempat penampungan anak anak terlantar. Bocah cilik itu menurut saja. Baginya hidupnya mungkin lebih terjamin disana ketimbang seorang diri mengemis pada tetangganya yang juga hidup prihatin. Di rumah baru tersebut dia masih dapat makan minum, bermain dengan teman teman baru, dan yang baginya teramat penting adalah, dia masih dapat belajar lagi dengan gratis. Karena dibenaknya Sekar tak ingin jadi apapun selain ingin mentas sesuai pesan simbahnya sebelum meninggal mendadak itu. Sekar tak ingin jadi dokter, insinyur, pelukis ataupun sastrawan seperti yang dicitakan teman teman sebayanya. Dia tak mengerti semua istilah itu. Baginya hanya satu keinginan yang kelak akan dikejarnya. Menurut pemahamannya yang selugu simbahnya itu, ada istilah yang lebih akrab di telinganya sebagai wong cilik, yang pastinya akan menjadikan kehidupannya sejahtera turun temurun.Yaitu…menjadi Priyayi !!!

 

 

mentas : jadi seseorang yang tlah jadi/berhasil

dadi : jadi

iki : ini

inggih : iya