Perjalanan…

Aku memutuskan takkan pernah berhenti. Sampai aku tiba di akhir perjalanan dan mencapai tujuanku_David livingstone : 1813-1873


Perjalanan itu sebenarnya selalu indah. Sepanjang jalan kita bisa menikmati hijaunya pepohonan, warna warni bunga , lalu lalang orang-orang dengan dengan segala aktivitasnya. Pemandangan itu membuat sebuah perjalanan menjadi meriah dan tidak membosankan. Itulah teman kita sepanjang jalan. Teman mata dan telinga kita. Fikiran serta perasaan kitapun ikut mewarnai semua yang terwakili oleh segenap panca indra.

Namun perjalanan tak selalu mulus. Ada banyak batu kerikil disana sini. Berserakan ditengah jalan, di tepi jalan, di jembatan, rel kereta, dengan bentuknya yang tak selalu kecil. Kadang batu itu begitu besar. Perlu tenaga ekstra untuk menyingkirkannya. Tak mudah saat perasaan sedang tak jelas arah. Keindahan bisa seperti ilusi. Atau seperti kue yang dihias penuh warna. Hingga keindahan aslinya hilang ditelan ketakjuban rasa.

Perjalanan yang kutempuh sejauh ini belum banyak kurasakan terpaan anginnya. Akankah tiba dengan selamat atau berbelok kearah lain. Atau bahkan tiba-tiba harus terhenti dititik tertentu begitu saja. Adakalanya ditengah perjalanan aku merasa dikejar waktu. Atau cenderung santai karena yakin semua yang perlu ku bawa dan ku urus dalam menempuh perjalanan ini sudah kupersiapkan dengan sebaik mungkin. Sedangkan merasa dikejar waktu adalah saat aku merasa serba kurang mempersiapkan ini itu. Bagiku, bekal perjalanan tak pernah cukup, bahkan meski hanya untuk satu hari.

Perjalanan….seberapa perspektifnya aku memaknai kata ini?……PERJALANAN.
Terasa begitu jauh, lelah, indah. Akankah berakhir menyenangkan? menyedihkan? atau sekedar rasa lelah yang akan hilang tergantikan oleh harap yang akupasang sepanjang jalan. Sepanjang aku menempuhnya….bahkan jauh sebelum perjalanan itu kulakukan.
Aku dalam perjalanan ini….menembus ruang dan waktu, begitu banyak  yang kutempuh. Membuat kaya hati, kaya jiwa, hingga perasaan miskin rasa, miskin kreatifitas, kembali lagi, berdesir lagi….tenggelam di jurang tepi jalan…membasah lalu kembali kering di panah matahari…oh perjalanan ini begitu lambat…begitu ingin segera kutahu bagaimana akhir perjuangan ini. Perjuangan menjadi seorang pengelana.
Pengelana kehidupan.

Aku ingat, perjalanan yang kutempuh sejak kecil hingga dewasa, kadang kurasakan sama saja dengan yang orang lain tempuh. Lelah, bosan, senang dan sedih. Namun yang kulihat dan kurasakan, setiap orang menjalaninya dengan cara yang unik dan berbeda. Melihat bagaimana setiap insan menjalaninya dengan cara yang berbeda memberikan pembelajaran tersendiri bagiku. Sama sama menempuh perjalanan yang terus saja berjalan seolah tak pernah ada akhirnya. Sama sama melewatinya dengan cara masing-masing. Mengambil yang sesuai jiwaku, melupakan yang memberatkan perasaan. Hidup adalah perjalanan itu sendiri. Bagaimanapun akhirnya, kita hanya mampu berharap…yang terbaik mampu melarung yang belum sempurna.

pada sebuah jalan
panjang dan berkelok
aku menanti seorang teman

temanku tak datang,
perjalanan bukan untuk sebuah pertaruhan, ujarnya
karena didalamnya terselip filosofi kehidupan

kukembalikan waktu yang sempat terbelah dua

menjadi hitam putihnya kehidupan

aku melintas sendiri di jalan itu
tanpa dirinya

dengan segenap filosofi yang telah dia ajarkan…


Aku berusaha meminimalisir resiko. Dan membuat sebuah keputusan kadang perlu dengan istirahat sejenak, kalau tidak mau mati saja ditengah jalan. Berselimut debu, diguyur hujan, diterpa salju musim dingin, di gulung ombak tsunami, dibakar mentari. Itulah yang mungkin akan terjadi. Perjalanan ternyata tak sesederhana yang kita bayangkan. Disetiap perhentian, selalu ada keputusan yang harus diambil. Ke kanan atau ke kiri. Terus atau lanjut. Sesuai rute atau lewat jalan alternatif. Semua ternyata perlu kompromi. Perjalanan yang awalnya indah pada titik tertentu bisa jadi lelah. Dan kelelahan kadang mengakibatkan salah mengambil keputusan.

Ya, kalau keputusan itu hanya berakibat pada diri sendiri mungkin masih bisa diterima. Tapi kalau efeknya kemana-mana, akan berpengaruh pada orang lain.Keputusan yang kita ambil saat ini kadang mampu mengubah masa depan kita dan juga orang lain.Aku kadang bingung bagaimana memulai sebuah perjalanan. Atau kadang malah terfikir bagaimana bila aku hentikan saja perjalanan yang tengah kutempuh. Kembali ke rumah dan tidur. Namun itu tak mungkin kulakukan dalam hidupku. Perjalanan ini belum selesai. Mungkin masih panjang dan jauh. Ke arah masa depan yang masih gelap. Memilih berhenti berarti mengorbankan waktu dan energi. Mengorbankan perasaan diri sendiri juga. Bisa jadi kita menyesalinya setelah kembali ke rumah. Kita takkan pernah tahu kalau tak ingin mencobanya.

Aku tetapkan hati berkemas , kembali menempuh perjalanan ini. Yang membahagiakan sudah kulewati dibelakang hari. Yang menyedihkan baru saja kutempuh. Dan kini jauh di depan mata, sahara kehidupan telah menanti. Dengan memicingkan mata, kutatap kehidupan didepan sana.

Perjalanan ini tampaknya akan semakin jauh…panjang dan kosong. Belum ada tetumbuhan seperti perjalanan sebelumnya. Tampak gersang dan penuh liku.  Adakah perjalanan ini tetap kulanjutkan? Aku menoleh pada sebuah bayang yang melintas. Tanpa sadar kubertanya, “Bagaimana denganmu? ajak aku bila jawaban itu telah yakin kau temukan. Kita akan menempuhnya bersama. Karena setengah dari perjalanan ini, telah kulalui bersamamu…

“…waktu berjalan di dalam diriku. Lebih hening daripada bayanganku, aku berjalan melewati gerombolan tamak  yang sombong itu. Mereka tak  tergantikan, unik, layak untuk masa depan. Namaku adalah seseorang dan siapa saja. Aku berjalan perlahan, seperti seseorang yang datang dari tempat sedemikian jauh sehingga dia tak berharap akan sampai_Jorge Luis Borges