Sunyi…

Pada malam kutitip lupa. Untuk diolah jadi ingatan.

Tentang sebuah kisah yang tercecer. Sepanjang ingatan yang meretak.

Mungkin kelak akan benderang. Seperti bulatan gembung dilkejauhan.

Setia pada malam. Lembut tak menyilaukan.

Pada sore kutitip sumpah. Melarung ingatan yang menyampah tak bersalur.

Retaslah, dan biarkan lepas. Karena malam semakin wangi. Dan puisi semakin sunyi…

Penyihir Hati

 

Cinta menghampiri kita dengan cara berbeda, namun tetap sama_IL mare

 

Biarawan Jose akhirnya menetapkan Bella sebagai penyihir. Gadis bermata dua warna. Abu-abu dan kecoklatan. Di masa abad tengah, sungguh mengerikan bila status penyihir sudah ditetapkan rohaniwan pada seorang gadis muda yang dikaruniai Tuhan dua warna mata. Hukuman terhadap mereka yang telah di tetapkan bersalah,tak lain selain di  bakar atau di gantung.

Bella hanya menatap dingin wajah biarawan Jose yang tertunduk sambil mengepit rosarionya yang dimatanya nyaris retak. Seretak hatinya yang kosong sejak pemuda masa lalunya itu meninggalkannya untuk menjadi pelayan Tuhan.

Di abad 12, dimana perang suci atas nama Tuhan tengah berkobar dimana-mana, para pemuda, pedagang, para biarawan, ksatria-ksatria, sampai para pangeran, putra mahkota dan raja-raja di seluruh negeri dan benua, tergerak memaknai panggilan tersebut. Membela tanah suci. Membela kedaulatan Tuhan. Biarawan Jose salah satu diantaranya yang terpanggil. Hanya bedanya, dia memilih mendekam di biara tua desanya, berdoa sepanjang malam. Berkhidmat pada kedamaiannya sendiri.

Jose tidak ingin melangkahkan kaki di tanah suci. Biar para pangeran dan para pemuda seantero negeri saja yang berjuang meregang nyawa disana. Jose punya tugas lain yang tak kalah pentingnya disini. Di desanya sendiri. Mengajak penduduk memerangi para penyihir atas perintah gereja. Mereka adalah para heretic yang didalamnya bersemayam iblis perusak iman. Dan menurut pandangan gereja dan masyarakat setempat, bahkan di seluruh negeri, gadis-gadis muda adalah target utama racun iblis. Sebagai rohaniwan, pandangan Josepun secara umum demikian. Namun segalanya berubah karena yang akan dihadapinya adalah seorang tertuduh penyihir yang amat dikenalnya. Seseorang yang dilindunginya selama ini dari tuduhan sihir akibat memiliki dua warna mata.

Kini, dihadapannya telah berdiri sang tertuduh dengan wajah pucat termangu. Dan sorot mata yang dingin mempesona. Wajah gadisnya dimasa lalu. Gadis tetangga masa kecil yang diam-diam dikasihinya. Mungkin dia adalah gadis satu-satunya yang pernah dicintainya. Kalau memang itu adalah rasa cinta antara lelaki dan perempuan.

Gadis bernama Bella itu masih menantinya. Menanti apa yang akan dilakukan biarawan muda dihadapannya  setelah penetapan status sihirnya. Jose sangat tahu apa yang ada dibalik wajah pucat itu. Apa yang dirasakannya. Saat dia sekali lagi menatap mata gadis itu, dia menahana nafas. Aura tak terima dan pembrontakan terpancar di mata yang bening itu. Kini wajah Jose mulai memucat. Diam-diam dia berdoa.

”Tuhan, izinkan aku memberikan yang terbaik untuk-Mu. Jangan biarkan hatiku meleleh dihadapannya. Aku berikrar atas nama-Mu, dia pernah menguasai hatiku dimasa lalu. Tidakkah Kau juga tahu, wahai Cahaya semesta?”

Doa kecil itu menggetarkan hatinya sendiri. Karena hanya terucap dihati.

Sebuah gerakan tiba-tiba, mengejutkan khusyuknya. Orang-orang berteriak. Tapi biarawan muda itu merasa terlambat. Gadis dihadapannya telah memotong urat nadinya sendiri dengan gerakan cepat. Ada pisau kecil yang luput dari perhatiannya. Tangan gadis itu memang tidak diikat atas izinnya. Darah meleleh dan menderas. Mata gadis itu mulai meremang seperti wajah langit yang kehilangan cahaya bintang. Biarawan muda itu tergesa mendekapnya. Orang-orang ribut saling berteriak.

”Biarkan saja dia mati!, toh dia akan di gantung juga.

Yang lain saling menimpali bersahutan dengan nada marah dan rasa tidak puas.

”Tidak!dia tidak seharusnya mati oleh tangan sihirnya sendiri. Dia harus mati ditangan kita. Dia curang. Diam-diam telah persiapkan matinya sendiri. Dasar penyihir terkutuk!”

”Kurang ajar dia, memilih mati sendiri tanpa melalui proses dari kita. Semoga Tuhan membalasnya di neraka. Cepat gantung saja dia! Gantung! cepat biarawan muda, gantung dia. Anda sudah menjadi pelindungnya selama ini.”

Di rundung rasa terkejut, Jose masih termangu saat beberapa pemuda tiba-tiba menyeret mayat yang masih hangat itu dari dekapannya. Beberapa tetua disitu mulai menyiapkan eksekusi yang terlambat dilakukan. Jose terduduk dibatu. Dekat tempat Bella-nya berbaring bersimbah darah. Ada hati yang tercekat. Dia tak percaya, hatinya begitu sakit. Sepedih saat dia harus menetapkan status penyihir bagi sang gadis tetangga. Keyakinan berbalut keraguan yang dirasakannya selama ini akibat isu masyarakat, terus mengedor perasaannya.

”Apa yang telah Kau lakukan padaku, Tuhan?”, bisiknya pelan ditengah hiruk pikuk persiapan eksekusi sesosok mayat yang pucat pasi itu. ”Inikah balasan-Mu karena aku tak menyertai para hamba-Mu ke tanah suci?. Jose cepat-cepat membekukan perasaannya, saat dirasakannya tangan seseorang memegang pundaknya. Pastor Julian tengah menatapnya. Raut wajahnya datar. Hati Jose melecos.”Matilah aku”, getirnya seraya bangkit berdiri. Dia tahu kesalahannya. Reaksi lambatnya menyikapi kejadian mengejutkan tadi.

Memilih duduk terdiam, sibuk sendiri dengan pikirannya ketimbang sibuk menyampaikan sesuatu yang menenangkan pada warga desa yang tengah emosi, adalah tak patut dilakukan seorang rohaniwan muda yang shaleh. Jose sadar itu. Dia bahkan tak berdaya saat beberapa pemuda tak sabar, dan mulai merebut mayat itu dari hadapannya, ketimbang menunggu dirinya bersikap.

”Pergilah ke biara. Tenangkan dirimu. Kau tampak tak karuan. Citra yang buruk di hadapan umat, kau tahu itu!”, kecam pastor Ju dengan suara dalam berwibawa.

Namun Jose menolak pergi. ”Maafkan saya, Bapa. izinkan saya menyelesaikan ini semua. Maafkan saya.” Pastor Julian memandangnya ragu, lalu membiarkan. Kini dia yang memimpin doa untuk jiwa-jiwa yang mati akibat tenung para penyihir di desa itu. Juga memohon Tuhan untuk membalas sekaligus memohon pengampunan bagi para tertuduh penyihir yang telah berkiblat pada iblis. Warga desa mengaminkan serentak. Dan eksekusipun dimulai.

Tentu Jose tahu, Bella tak lagi bisa merasakan kesakitan saat tali kasar itu menjerat batang lehernya. Namun melihat tubuh gadis itu melayang-layang tak jelas arah, hati Jose serasa ikut melayang. Dia tiba-tiba ingin berteriak mengutuk warga desanya. Mengutuk ketetapan gereja pada orang-orang yang dicurigai sebagai penyihir. Siapa lagi kalau bukan mata dua warna yang dianggapnya paling berpotensi menjadi pengikut iblis tersebut?

Dan pada akhirnya nasib Bella si gadis tetangga memang sampai juga pada takdirnya. Sejak kecil masyarakat sekitar sudah mengisolasinya karena matanya yang dua warna. Hanya Jose temannya. Hanya Jose yang mau mendengar curahan hatinya. Soal isu tentang Bella, Jose sejak lama memilih untuk tidak seratus persen percaya. Dan dalam pertemanannya dengan gadis itu, dia berharap mampu menemukan kejanggalan-kejanggalan. Namun akhirnya, justru dialah yang paling andil menjadi penyebab kematiannya. Dia tak mampu melindunginya terus menerus.

Benarkah Bella keturunan penyihir seperti yang selalu diisukan masyarakat desanya ? Selama ini tak sekalipun dia melihat gadis itu melakukan hal-hal yang mencemaskan. Kesibukannya hanya sebagai pengantar susu dan roti bagi beberapa warga keturunan bangsawan  yang tak terlalu merisaukan dua warna matanya. Begitu juga biara tempatnya berdiam, masih mau menerimanya bila gadis itu memerlukan sesuatu disana. Meski sebagian besar penghuni biara sering menatapnya curiga bila gadis itu tengah singgah disana. Bisik-bisik tentang perlindungan pastor Julian dan biarawan muda Jose terhadap gadis sebatang kara itu, telah menjadi isu panas di biara dan gereja setempat. Ada rumor, karena Bella masih ada hubungan kerabat dengan Jose, seorang biarawan muda yang paling cerdas dan terpercaya di kalangan gereja.

Namun ibarat gunung es, selalu ada saat tepat untuk melampiaskan segala puncak cemas atas dasar curiga. Dan Bellapun menemui takdirnya sama seperti beberapa penduduk yang anaknya terlahir dengan mata dua warna. Jose sadar, kedekatan dirinya dengan Bella selama ini membuat gadis itu masih dapat melanjutkan hidupnya hingga remaja. Mungkin kalau tidak, sejak kecil gadis itu sudah diseret ketiang gantungan atau dibakar.

Saat eksekusi selesai, masyarakat bubar sambil berdoa bisik-bisik. Menenangkan diri mereka sendiri. Pastor Julian mengajak Jose kembali ke biara, namun biarawan muda itu hanya menggelengkan kepalanya. Mayat Bella masih tergantung. Esok hari barulah beberapa pemuda akan menguburnya atas perintah pemimpin warga dan pastor setempat yang paling berwenang. Pastor Julian menatap Jose dengan penuh makna.

”Ikhlaskanlah dia, dia pantas menerimanya kalau memang itu yang dilakukannya.” ujarnya pelan.

”Tapi selama ini masyarakat tidak pernah bersikap ekstrim padanya, Bapa. Dan memang tak pernah ada bukti nona Bella melakukan hal-hal yang berbau sihir.”

”Tidakkah Bapa merasakannya?, Jose menatap wajah pastor Julian dengan wajah penuh duka berbalut penyesalan.

Tak mampu lagi disimpannya segala yang dirasakannya saat ini. Dia mempercayai pastor Ju yang juga selalu baik padanya dan Bella sering bercerita mengenai kebaikannya memberikannya pencerahan. Bagaimana mungkin lelaki paruh baya dihadapannya akhirnya memilih percaya isu masyarakat tentang Bella?”

Pastor Julian tak mengatakan apa-apa. Jemarinya sibuk menghitung bulir-bulir suci.

”Orang seperti kitapun kadang tak mampu melihat cahaya dibalik gelap, wahai anak muda. Kita semua tahu sebatas apa pengabdian kita kepada-Nya. Kita masih terus belajar apa itu pengorbanan. Kita manusia, bukan Tuhan. Dan saat ini  mungkin Tuhan sedang menunjuKkan ambivalensi yang terjadi disekitar kita….mungkin juga gereja. Kita hidup di jaman yang tak mudah menjadi diri sendiri, karena ada keterikatan tertentu. Dan kita memilih mematuhinya, bukan?”.

Pastor Ju tersenyum samar. Melangkah pergi meninggalkan Jose dengan segala kedukaannya sejak masyarakat akhirnya mendesak pihak gereja menetapkan status penyihir bagi Bella-nya. Dia pula yang kena tugas biaranya untuk memimpin hukuman tersebut.

”Izinkan aku berdoa sekali lagi untukmu, Bella. Doa khusus, dimana hanya Tuhan yang mampu mencernanya. Aku yakin DIA menerimamu dalam kerajaan-Nya. Biarlah padanya kutitipkan yang tak mampu kuberikan padamu selain persahabatan kita. Dan maafkan aku tak lagi mampu melindungimu.”

Sebelum pergi meningglkan sosok mayat yang masih tergantung-gantung dalam hening, biarawan muda itu menoleh sekali lagi. ”Siapapun dirimu, aku yakin kau gadis baik dan suci. Mereka tak berhak mengutukmu. Akupun mungkin tak berhak mengeksekusimu. Kau tak mungkin di neraka. Tidakkah kau tahu? Bagaimana mungkin kau ada neraka kini, saat dirimu masih berdiam di hatiku?”

Gemericik air sungai membawa duka sang biarawan muda pergi menyebrangi pembatas antara dirinya dan gadis masa kecilnya. Terus terbawa hingga ke tanah suci saat dia akhirnya memilih berangkat kesana.

Bukan untuk berperang dengan sesama. Tapi untuk mencari ampunan Tuhan bagi dirinya, dan semua orang yang dikasihinya.

 

How can you be in hell, when you’re in my heart?_Kingdom of Heaven

 

On somewhere the sun shines, June 2011

Ditulis berdasarkan inspirasi dari film-film dan buku-buku dengan setting abad pertengahan.

 

Jejak Kenang:

Helena Adriany

pengen banget marah sama penulisnya. coba si jose yang cerdas lebih bisa fokus untuk mencari bukti2 kepenyihiran spy “at least” Bella yang dikenalnya dan telah ditinggalkannya demi mengikuti “jalan” kebaikan bagi dirinya sendiri bisa terlep…as dari tuduhan penyihir hanya dikarenakan dua warna bola mata. memangnya penyihir ga pengen masuk surga juga kalo tau caranya. ckckck. kadang2 kita berpikir bahwa surga itu limited place. padahal seandainya manusia2 yang merasa suci itu tahu, bahwa mengelola surga itu capek kalo ga bareng-bareng. biar rasain nanti klo udah pada masuk surga, biar nanti pada kesepian di surga, karena makin banyak orang yang bisa sampai kesana surga bakalan makin seru. hehehe. aku kesel naaa sama si jose dan si penulis. hahahahaha. ternyata semedimu menghasilkan tulisan yang keren.
‎”Cinta menghampiri kita dengan cara berbeda, namun tetap sama_IL mare”
….aku ingat kata kata itu Yuri….

selebihnya….cerpenmu bagus….aku jd teringat keluarga Callas….yang pernah diceritakan Voltaire….

salam hangat

begitulah rasa ia lebih jernih lebih bening,selaksa nurani yang berpijak pada kebenaran ia takan terkalahkan,apapun bentuk intimidasi takan pernah bisa mengendurkan nurani….

KembaRa Gelungan Hitam maka pilihan adalah permintaan hati sebagai kepastian, meski ia datang dengan cara yang tak diduga

Sue Munggaran

‎>>
seperti masuk k negeri dongeng..penuh dgn setting yg benar2 fantastik..
ajaib banget tulisannya Sayuri Yosiana..

boleh ya..aq simpan dsini satu note aq..
…sprtinya catatanmu ini adlh jawaban dr note aq..he he hee

“suicide”
ada satu bagian di hidup ini yang pasti akan cocok dengan kita
dan,
ketika kamu sudah tidak bisa menemukannya kenapa tidak mengucapkan selamat tinggal saja

“mayatmayat itu akan mengeluarkan cahaya ketika malam tiba”

aq menyenangi tulisanmu..krn lain dr yg lain..=)
salam sayangku

SusyAyu Dua menggetarkan , dear sayuri…..semua dikemas dlm satu cerpen..luar biasa…!!! salam sayangku, muaaah!

Fidelis R. Situmorang Jelas sekali penindasan terhadap perempuan pada abad pertengahan ya… Semua yang dituduh sebagai penyihir dan dieksekusi adalah perempuan. : ((
Makasih untuk ceritanya, Ito Yosi…

Laurentius Santawan aku memetik satire dalam cerpen ini, bagus sekali penyampaian pesannya, wanita yang tidak mudah disihir lepas dari belenggu was-was. terimakasih Yosi telah berbagi cerita.

Frans Wibawa Tragedi takdir kehidupan hanya dapat dihadapi dengan tulusnya kepasrahan dan bijaknya pemahaman, bahwa semua itu bagian dari permainanNya (sanskrit: liila) yang dilandasi Misteri dan Cinta.

Awan Hitam

Tema yang diangkat seakan mengajakku ke zaman pertengahan, dimana teror dan inkuisisi dan tuduhan heretik banyak terjadi. Pernah aku menonton film tentang tema ini – tidak sama tentunya – maksudku settingnya- , sudah lama sekali, mungkin be…rdasar base true story, judulnya Stealing Heaven dengan mengambil kisah tentang percintaan Abelard dan Heloise, dimana Abelard adalah seorang yang berdasar keyakinannnya tak boleh menikah, namun mereka saling jatuh cinta. Namun memang sedikit berbeda, disini tak ada tokoh heretik nya…namun mengajakku untuk mengingat novel In The Name of The Rose..disitu di tunjukan tentang masalah heretik dan perisitiwa inkuisisi..serta tokohnya bernama Adso berhubungan dengan gadis yang tidak dikenalnya dan dia jatuh cinta kepada gadis itu..namun gadis itu ditinggalkannya karena pengabdiannya kepada gereja,,namun dia tak melupakan cinta nya kepada gadis itu sampai akir hayatnya…meskipun dia tak tahu namanya 🙂 Begitulah mengutip kalimat awal tulisan mba Sayuri bahwa …”Cinta menghampiri kita dengan cara berbeda, namun tetap sama_IL mare” Begitulah cinta melampau batasan batasan dan hadirnya adalah misteri.

Salam hangat ku mba Sayuri ..tulisan memikat

Gayo Dihardjo bagus, ini yg namanya melempar dua burung dg satu batu. Satu cerita darimu menyuguhkan imajinasi yg menarik, ttg cinta dan cinta, terima kasih yosi, aku menyukainya…

Ade Anita Zaibi hiks… yuriiiiiiiiiiii… cerpenmu bagus banget… amat menyentuh…lembut seperti biasa… tapi kali ini menggetarkan

Cepi Sabre bagus banget cerpenmu, yuri. mumpung tidak ada yang lihat, aku nangis dulu ya…

Anosuke Sagara nice story, yuri san… ! jd inget film nicolas cage yg season of the witch. tp ceritanya lebih bagus cerpen ini 😀

 

Biarkan rasa ini mengalir

Pada tapak tanganmu, kueja sebuah kisah. Meski gemetar, kutunjukkan kalau aku perhatian.

Ternyata terlalu sulit membaca namaku dipermukaan Meski tiap hari jemari kita bergenggaman.

Kupilih letakan tanganmu dihati. Agar kau tahu, ada aku di sudut manapun kau sembunyi

Tak ada yang aneh antara kau dan aku. Biarlah rahasiamu menjadi rahasiaku

Tetap kubiarkan rasa ini mengalir hingga sunyi mampu kau patahkan..