Sajak Angin Utara

Mengingatmu, menyempurnakan keheningan. Meredam yang berhembus. Menggores kenang. Merindukanmu, membuatku merasa pintar melakukan kebodohan. Hanya untuk mengirim pesan yang tak pernah terbaca. Kosong tanpa huruf-huruf. Akibatnya, Shinkansen terasa lambat menuju Tokyo. Setiap wajah adalah wajahmu yang hanya siluit pesan. Mungkin lain kali kupilih patah hati ketimbang jatuh cinta. Namun musim-musim tetap saja sama. Mengabadikan kesalahan. Aku yang gigil di sudut peron. Selamat datang di kota, dimana uang saku habis dalam secangkir teh masa lalu. Serta sekotak nabe masa depan yg mengepul. Sementara kita makin berjarak. Petang nanti melemparku kembali ke sudut Kuil Atsuka, Nagoya. Sesungguhnya aku tak butuh pengampunan untuk sebuah cinta yang gagal. Rindu ini masih bertahan. Riuh rendah di sisa debar.

***

Angin utara Okinawa
kutitip debar
hadirmu, pelangi
petangku membelah…

***

kita,
adalah masa lalu yang membusuk
di langit Tokyo…

Sisa Oktober, 2011

*untuk ombak yang kurindu