POHON, RANTING, DAN KISAH

Kehidupan sama dengan pohon. Sama-sama mengarah pada cahaya_kutipan

 

 

Ini hanya kisah sebatang pohon tua.

 

Berdiri diatas tanah berumput yang berjarak 100 meter dari sebuah kolam kecil yang airnya sedingin es. Kukuh berdiri di tengah empat musim yang datang silih berganti. Diantara angin utara dan selatan yang saling bersaing merontokan daun saat musim gugur tiba. Sesekali penduduk desa yang lelah, singgah berharap keteduhannya dari selesai mengolah hasil ladang. Lalu domba-domba, kuda dan anjing gembala yang kerap terbaring diatas akar-akar bagian tubuh yang selalu tabah menyangga beban apapun diatasnya.

Semua yang suka singgah dianggap sebagai tetangga dan sahabat-sahabatnya. Kawan lama dan kawan baru. Mereka semua menarik perhatiannya. Kehadiran mereka membuat dirinya tidak merasa sendirian, di tengah padang rumput dekat lereng bukit. Pohon itu menyambut kedatangan siapapun didekatnya dengan hati riang. asal tak membuatnya cemas. Seperti membuang puntung rokok sembarangan yang kerap dilakukan penarik gerobak pembawa gandum. Ataupun anak-anak muda yang tengah merencanakan keisengan dibawah keteduhannya. Yang saling bertaruh untuk mengganggu para petani dengan mencuri buah melon atau telur ayam milik mereka.

*** ***

Suatu hari seorang lelaki paruh baya datang dan memandanginya dengan cermat serta mata memerah. Nampaknya dia seorang pengembara. Dengan tas ransel lusuh dan sebotol minuman keras ditangannya yang kotor, lelaki paruh baya itu terhuyung jatuh dihadapannya. Susah payah mengangkat tubuh dan mulai duduk bersandar padanya. Mulutnya mulai mengoceh. Suaranya serak dan berat.

“Hei, pohon tua. Aku ini pengembara dari wilayah Barat. Kau tahu itu, kawan? Disana sedang ada Festival Bunga Peoni. Yang warnanya merah menggiurkan. Ah Peoni-Peoni itu, kawan. Mengingatkanku pada seorang perempuan dari masa lalu. Perempuan brengsek yang suka merampas botol-botol alkoholku. Lalu membuangnya seperti ludah yang di lepahkan begitu saja ke wajahku. Ah.. perempuan itu kawan, akhirnya dia kawin dengan petani setempat. Yang memberinya sepetak ladang gandum dan perahu kecil untuk mencari ikan di danau. Perempuan itu terus hidup, kawan. Sementara aku mati sia-sia dengan ketololan yang kubuat sendiri. Hahahhah. Hidup ini lucu ya, kawan?”

Lalu ditenggaknya kembali sisa alkohol dalam botol yang warnanya tak jelas lagi. Seperti baru diambil dari penampungan sampah kota musim gugur yang terletak satu kilometer di perbatasan. Lelaki itu menengadahankan tangannya sebelum menenggaknya sekali lagi. Untuk sisa tetes terakhir.

“Bravo untukmu, Perempanku. Matahariku. Semoga kau bahagia di neraka!”

Glek..glek..glek. Dilemparnya botol kosong itu ke sembarang arah.

Pohon itu cemas. Lelaki itu benar-benar seorang pemabuk yang tak berguna. Bahkan untuk dirinya sendiri sekalipun. Apa dia tak tahu botol yang kini pecah itu mungkin akan melukai kaki orang-orang yang suka lewat di dekatnya? Atau kaki hewan ternak yang sering melintas di jalan ini? Bagaimana kalau sampai terinjak botol yang sudah pecah itu?

Pohon itu sedikit menyesal telah mengizinkannya memberi keteduhan di naungannya. Tapi juga terbit rasa kasihannya melihatnya begitu tak berdaya sebagai seorang lelaki. Dilihatnya daun-daunnya berjatuhan makin banyak. Mereka gugur serempak. Jatuh begitu saja ke permukaan bumi. Tepat di dekat sepatu pengembara yang kini tampak merenung setelah kehabisan minumannya.

Lalu lelaki pengembara itu berdiri. Membersihkan anak-anak ranting yang menempel di celananya. Mengangkat tas ransel dan kembali pergi begitu saja. Tanpa ucapan terimakasih ataupun selamat tinggal. Dipandangnya lelaki pengembara itu berjalan terseok-seok makin menjauh. Hingga hanya tampak sebagai titik samar yang berbelok ke balik punggung bukit. Menghilang dari pandangan. Di tatapnya botol pecah yang ditinggalkan pengembara itu. Seperti halnya benda-benda mati yang tak berguna lagi bagi pemiliknya. Botol itu tampak tergeletak dengan luka-luka ditubuhnya. Sendiri dan kesepian. Pemiliknya sudah pergi dengan membawa luka hidup yang harus ditanggung. Botol itu telah memisahkan lelaki itu dari perempuannya.

Pohon itu menghela nafas. Berkaca pada dirinya sendiri. Puluhan tahun tubuhnya berdiri kukuh disini. Tanah ini. Wilayah ini adalah rumahnya. Halamannya. Lingkungannya. Meski dia tak punya majikan manusia untUk mengurusnya agar tetap asri dan hidup. Pohon itu merasa bahagia. Dirinya adalah pohon tak bertuan. Namun mampu bertahan hidup hingga detik ini. Mampu bersahabat dengan siapa saja yang tiba-tiba datang dan berteduh dirindang daunnya di musim panas. Menikmati semilirnya angin. Mampu menyenangkan mata siapa saja yang menghampirinya di musim gugur. Mengagumi sekaligus menangisi daun-daunnya yang jatuh dengan anggun. Helai demi helai. Melayang seperti Ballerina dalam opera angsa putih. Bocah-bocah sering berebut memungutinya. Mengumpulkannya dalam kantung kertas berwarna coklat, atau dalam kantung gaunnya yang lebar-lebar. Membawanya entah kemana. Bocah-bocah itu amat riang. Dengan pipi penuh kemerahan, dan rambut berayun-ayun di bawah topi jerami mereka. Jeritan riang para bocah adalah musik alam bagi tubuhnya yang mulai renta.

Seorang bocah di musim semi beberapa tahun lalu, pernah berbaring di rerindangnya. Lalu mengadu tentang nilai pelajaran sekolah yang terus jatuh karena waktu belajarnya amat sedikit. Bocah itu anak seorang penggembala yang rajin dan pandai. Berharap saat besar nanti tak ingin seperti ayahnya yang terus sibuk diantara hewan-hewan. Bocah itu ingin menjadi anak kota yang dimatanya selalu rapi dan wangi seperti beberapa anak kota yang pernah singgah di desa mereka. Dan berkemah di sekitar lereng bukit yang penuh bunga liar. Bocah itu merasa anak-anak kota lebih punya waktu untuk bersenang-senang menikmati masa kecilnya. Tanpa harus memandikan dan menjaga ternak yang bau dan kotor, meskipun dimandikan setiap hari.

Bocah itu tidak tahu, anak-anak kota yang berkemah itu juga sering singgah di rerindangnya. Mereka berceloteh betapa menyenangkan menjadi anak gembala atau petani bunga, yang mereka temui di sekitar kemah. Anak-anak kota itu merasa iri karena tidak setiap hari bisa bergaul dengan hewan-hewan. Serta menghirup udara sehat dan bersih di lereng bukit. Anak-anak kota itu berkhayal kalau besar nanti ingin jadi petani, peternak sapi dan punya rumah yang dekat dengan sungai dan bukit. Bukan di pinggir jalan raya tempat debu-debu knalpot berterbangan seperti rumah mereka di kota besar.

Musim berikutnya bocah yang bercita-cita menjadi anak kota tak lagi terlihat. Mungkin sudah benar-benar meninggalkan desanya. Sementara anak-anak kota masih terus berdatangan ke desa mereka. Mengisi ruang batin agar kalau sudah besar nanti tak lupa menginjak bumi.

*** ***

Musim terus berganti. Membawa cerita dari setiap persinggahan. Manusia, hewan, angin, hujan, petir, atau udara pembawa hangat dan dingin. Pohon itu terus menyimpan kisahnya. Dari hari kehari. Musim ke musim. Tahun ke tahun.

Dan bila saat musim dingin tiba. Alam menjadi sunyi seketika. Musim dingin adalah musim terberat bagi sahabat-sahabatnya. Manusia dan sebagian hewan seperti kuda, sapi dan lainnya. Mereka bekerja keras untuk tetap hidup di bekunya alam. Namun musim dingin ibarat musim pergantian kulit bagi pohon-pohon seperti dirinya. Saatnya beristirahat. Berpuasa. Bahkan sebagian hewan seperti beruangpun memilih beristirahat dan tidur panjang selama musim yang berat ini. Mereka membentuk sarang dan lubang perlindungan. Dan terus tidur sepanjang musim dingin.

Perut mereka sebelumnya di isi sekenyang-kenyangnya sebelum memasuki masa puasa.

Desa itu seperti desa mati yang menunggu ajal. Hanya sesekali kereta kuda petani atau peternak melintas menyusuri sunyinya alam. Pohon itupun sendirian. Ya ini adalah musim kesendiriannya. Tak ada bocah bermain-main di antara dahannya. Tak ada petani, penjual alat rumah tangga atau anak gembala yang numpang berteduh sambil mengajaknya ngobrol. Ataupun mengadukan nasib buruknya seperti yang dilakukan pengembara yang pernah singgah di musim gugurnya beberapa waktu lalu. Ataupun sepasang muda mudi yang berantem dan berkasih-kasihan di depan hidungnya. Membuatnya jengah, takut bahkan tersipu.

Semua sahabat sibuk mengurus dirinya di musim beku. Pun dirinya harus memanfaatkan musim ini untuk beristirahat. Agar kembali berguna menemani manusia, hewan dan alam semesta yang tentunya akan kembali singgah mengisi hari-harinya yang tak pernah beranjak dari tempatnya berdiam. Pohon-pohon tak pernah pergi. Setia di setiap tempat bertumbuh. Manusia atau hewanlah yang kerap membawanya pergi dari tanahnya. Dari akar-akarnya. Dari kampung halamannya.

*** ***

Kini senja tiba. Udara makin gigil. Ranting-ranting tampak kering dan memutih. Terselaput kapas-kapas putih yang jatuh dari altar langit. Tak memberi kehangatan seperti matahari sahabatnya yang mampu memberi hangat. Meski kini menampakkan wajah suram kelabu. Atau rembulan malam yang lewat cahaya lembutnya mampu menerangi padang rumput sunyi itu menjadi berbinar-binar. Menghangatkan malam disaat matahari terlelap.

Pohon itu terus merenta. Melintasi musim-musim. Hangatnya musim panas, bekunya musim dingin, indahnya musim semi hingga dramatisnya musim gugur yang memisahkan dedaun di tubuh dan ranting yang menemaninya selama ini.

Ranting-ranting itu ikut kesepian tanpa daun. Tapi tak pernah meninggalkan tubuhnya. Ranting-ranting itu tetap di tempatnya. Sesekali anak ranting memang tak kuat menahan badai. Lalu patah dan jatuh dari pelukan. Dari tubuh pohon itu. Menyadarkan dirinya memang hanya sebatang pohon yang menunggu takdir. Namun setidaknya tubuhnya sempat memberi setetes bahagia bagi sahabat sesama alam dan juga manusia.

Pohon itu mengantuk. Dan tertidur di tengah guyuran salju. Berharap masih ada esok untuk bertemu matahari yang akan membangunkan dari gigilnya mimpi.

Pohon itu teringat sang pengembara yang kehilangan perempuannya. Bocah kecil yang ingin ke kota. Anak-anak kota yang ingin hijrah ke desa. Dan sepasang sejoli yang tak tahu untuk apa cinta tumbuh diantara mereka. Pohon itu berdoa agar mereka yang pernah menitipkan kisahnya di setiap musim, menemukan kebahagiaan di perjalanan berikutnya.

Pada akhirnya semua sahabatnya harus tetap melangkah. Menuju nasib. Menantang takdir yang telah digariskan.

Pun dirinya. Meski hanya sebatang pohon…

 

 

Bahwa sesuatu yang kita cintai bukanlah satu-satunya alasan mengapa kita memilih jalan hidup yang sudah kita pilih saat ini

_kutipan dari seorang blogger kompasiana. (maaf lupa namanya)

Mam, Subuh Telah Datang…

Mam, malam ini mata tak mampu lelap. Gelisah memunahkan mimpi. Bertanya tanya, bagaimana kau di peraduan? tanpaku memeluk sunyimu. Sudah jelang fajar di tempatku berdiam. Suara senjata tak lagi terdengar. Sembunyi dari patahan kenang. Yang terus hidup menghidupkan. Sementara kau tak lagi bisa mendengar. Atau sebatas menenangkan kalbu. Apalagi yang hendak kuceritakan? tentang kesendirian diantara desing peluru?

dan harmonika tua telah menjelma suaramu di hari-hariku yang lugu.

Teman bersembunyi di tempat-tempat rahasia. Memindahkan suara desing ke nada nina bobo.

Aku masih mendengarnya. Sementara.

 

Ku lihat cuaca tak lagi jernih. Terombang ambing antara hitam dan putih. Laksana gerak cahaya menuju gelap. Begitu kata puisi yang pernah kau bacakan. Datang dan pergi memahat doa. Seperti perdamaian yang tak mampu hadir.

Mungkin Tuhan telah lari. Bosan dan kecewa telah membuat manusia kecil menjadi sosok dewasa.

 

Akupun tak ingin dewasa. Bila harus kehilangan dongeng-dongeng tentang dunia yang indah.

Terlupa pada janji-janji masa kecil. Seperti kisah merpati yang tak pernah ingkar janji. Tapi manusia bukan merpati.

Bahkan  subuh tetap datang. Menyapa pelan pelan. Melukis guratan jingga di dinding mata. Ku rasakan hangatnya perapian tua. Mengingatkan pelukmu di masa terlewat.

 

Dan Mam, ada yang hendak kukabarkan. Hujan kadang jatuh menyisakan tetes. Menuntaskan debu dan darah. Sisa musim-musim terdiam. Hening ini mulai menguncup. Menjadikanmu sebentuk siluet. Yang ku lukis di kegelapan. Dalam rasa takut yang getir. Dengan cahaya teram yang menggelisahkan November.

Cemas tak berkesudahan.Aku masih disini. Terkurung dalam labirin peperangan.

 

Entah kapan berakhir. Mungkin hari ini. Atau esok pagi. Lusa mungkin juga. Seterusnya biarlah tangan Tuhan yang kugenggam. Semoga DIA menurunkan tangga dari surga-Nya. Agar aku dapat naik…naik..dan naik. Menuju awan-awan. Dimana hanya ada kau dan aku.Berjumpa seraya memungut air mata. Meluruhkan yang tersisa.

 

Mam, kini subuh benar-benar datang. Lewat saku-saku bajuku yang bolong.Bahkan sisa air dan makanan.

Kosong seperti janji-janji pemimpin dunia.Yang lupa pada indahnya masa kanak tanpa senjata.

Namun subuh menepati janjinya padaku.

 

Lihat, cahaya fajar berbaik hati. Membawakan sosokmu yang diam. Luruh dalam senyum.

Perangpun kuharap usai. Hingga aku bisa berlari pulang. Ke rumah kita.

Itupun kalau masih ada…

 

 

 

~Catatan ini telah di revisi. Dedicate to children war.

Terimakasih atas jejak kenangnya.

 

 

 

Kekerasan hanya melahirkan kekerasan_kutipan

 

Pelan Dan Pasti

Lihat disana, jalan~jalan kembali basah. Semalam hujan. Dan sebelumnya pepohonan menggugurkan dedaun. Senantiasa musim~musim kembali datang lalu pergi. Seperti sejarah berulang dan berulang. Mungkin sejatinya hidup seperti daun~daun itu. Bertunas, menumbuh mekar untuk kemudian luruh dipaksa waktu. Saat itu, ranting~ranting berhenti bernyanyi. Saatnya mengucap selamat tinggal pada yg selama ini menemani. Ranting pada daun. Adalah keniscayaan. Seperti katamu tentang pertemuan perpisahan di stasiun, halte, bandara dan pelabuhan. Maka pandanglah matahari yang menghangatkan akar akar willow, sakura dan tumbuhan empat musim yang melahirkan Peoni Peoni bermekar memerah. Dan itu, lihatlah. Taman taman menjadi sunyi saat pohon pohon menggigil. Meski matahari hadir menghangatkan pagi, kulihat alam tetap suram. Langit melukis mendung yang mengalirkan kristal bening di hati dan pelupuk. Pada tebing mata, tertahan karena hidup tak baik selalu ditangisi. Dan daun daun jatuh mengajarkan kita bagaimana prosesi alam berlangsung. Tak ada yang benar~benar abadi. Aku yang kadang tertatih berjalan diantara serakannya. Daun daun itu. Begitu warna warni. Beberapa diantaranya kupunguti. Mereka berbisik bisik padaku. Mengingatkan tentang senja yang bertemu fajar. Romantisme yang gagal di epilogkan. Epitaf masa lalu dan masa depan. Juga yang sesaat terlupakan. Demikian daun daun terus berjatuhan. Melayang menerbangkan cita cita. Bagaimana harus kuterjemahkan musim gugurmu? sementara aku hanyalah musim dingin yang membekukan bumi. Saat ini tubuhku penuh daun merah, kuning, ungu dan hijau. Mewarnai langkah kecil kecil jalan setapak penuh kerikil. Aku disini. Masih termangu diantara guguran daunmu.

Terus berjatuhan. Pelan dan pasti…

 

hanya catatan kecil tanpa edit dalam perjalanan kereta.