Yang Datang Dan Pergi

mereka yang datang dan pergi, adalah mereka yang merayakan waktu

Aku teringat satu moment kecil beberapa minggu lalu. Saat menunggu kereta pulang. Di ujung peron, seseorang tengah sibuk sendiri diantara orang yg lalu lalang. Dia adalah salah satu dari pelukis muda yang kerap disebut sebagai pelukis jalanan. Para pelukis jalanan sesekali saling bergantian mampir ke stasiun untuk beberapa hari. Sebelum akhirnya mereka pergi dan menghilang entah kemana. Sejauh ini hanya sesekali kuperhatikan kesibukannya dari bangku tunggu. Diantara lembaran buku yang tengah kubaca.

Suatu hari tiba-tiba tubuhku yang lelah, telah berjalan ketempatnya. Duduk di dekatnya. Tanpa membuatnya menoleh sedikitpun kepadaku. Di hadapan kami, tampak lukisan petang yg muram. Dengan gradasi warna jingga kelabu dan merah mendarah. Serta coklat yg entah. Kami saling diam mendiamkan. Diantara kanvas, diriku dan dirinya. Lama-lama kutemukan seraut wajah telah terbentuk setengah jadi lewat goresannya. Yang terasa akrab. Wajah dibingkai senja itu. Wajahku sendiri. Dengan topi setengah miring. Dan rambut setengah jatuh di kening.

Maaf, bukankah itu diriku?, tanyaku heran. Dia tak menanggapi. Sempat kutemukan senyum samar mengiris wajahnya. Aku yakin dia mendengar suaraku yang gugup. Lima menit kemudian dia berhenti. Menoleh sekilas padaku, dan…sudah selesai, katanya pelan. Lukisan itu belum utuh, cetusku tanpa sadar. Ya, dan memang tak bermaksud ku utuhkan, jawabnya diplomatis. Dia menandatangani namanya disudut bawah, sebelum memberikannya padaku. Kami berbincang sesaat sebelum keretaku tiba, dan aku harus segera pergi. Kujabat tangannya dengan hati gerimis. Diantara hujan yg tiba-tiba jatuh.

Dari balik jendela kereta, masih sempat kulihat sosoknya kembali melukis. Itu terakhir kali aku melihatnya. Karena sejak hari itu dia tak lagi kutemukan di sudut manapun. Kulambaikan tangan tanpa sempat dilihatnya. Kereta melaju. Bersama tas selempang yang di dalamnya ada satu benda berharga pemberiannya. Sebuah lukisan yang tak utuh. Dan tiket langganan kereta paling murah di saku jeansku. Yang baru kubeli dari sebagian honor kerja paruh waktu. Di kota ini, tak mengenal kata gratisan. Bukan pula berarti tak ada. Lukisan itu contohnya. Sebuah moment kembali kudapatkan.

Sepanjang perjalanan pulang, terngiang tutur dan pesannya. Bawalah lukisan ini pulang. Aku sering melihatmu duduk dibangku tunggu yang paling senyap. Sendirian dan sibuk membaca. Atau mengetik sesuatu. Tapi sering pula melihatmu hanya melamun dengan di temani lagu-lagu di telingamu. Kadang kau memandang kearahku. Tapi tak pernah benar-benar datang. Jadi anggap saja hari ini kita saling berbagi hadiah. Kau datang, dan lukisan setengah jadi ini milikmu. Karena Tuhan sempat mempertemukan kita di dunia yang luas ini. Simpan atau berikan pada orang yg paling kau sayang.

Aku memilih janji menyimpannya untuk diriku sendiri. Karena ada sedikit rasa haru. Dalam perjalanan musim, orang-orang datang dan pergi dari arah belakang dan depan hidup kita. Memasuki ruang-ruang tersembunyi. Hati dan pikiran. Selebihnya mungkin hanya selintas lewat seperti kereta yang singgah sesaat. Mereka meninggalkan jejak kenang terjejak, atau tak berjejak yang memperkaya jiwa. Pada akhirnya kita tahu, tak akan pernah benar-benar sepi. Tak akan pernah benar-benar sendiri…

One day in your life
you’ll remember a place
Someone’s touching your face
You’ll come back and you’ll look around you
_Michael Jackson

Kita Di Bulan Mei

kita, kelak tiba pada musim kuncup dan kematian
yang berjalan beriringan. bergandeng tangan dan berselonjor santai.
dimana ranting ranting, saling lempar senyum diantara cemas tersembunyi .
pada musim tiada yang sebentar lagi tiba.

dan pada hari pemakaman kita.
hati kita saling melihat . memantra puja puja. pada yang fana fana. yang kita tak tahu apa apa.
setelah lelah mengadukan takdir pada tuhan. nyatanya kita tetap tak pernah kemana mana.

kita tahu. kau dan aku adalah sepasang, yang sendirian. memilih berkelana dari peron ke peron
menjinjing tanya yang berjatuhan.
cobalah, buka matamu, pada kehidupan yang berlarian. diantara dua kaki kita. melewati lengan, dagu dan kepala.
kau lihat,
kita terus tertatih. diantara gumpalan hujan dan terik amaterasu. menguliti habis kisah dan masa depan. hingga tinggal ruang ruang kosong melolong.
stasiun terakhir sebentar lagi. baiknya kita nikmati perjalanan ini. melewati dinding dinding peradaban, lembah dan pinggiran kota.
kau tahu, tentu.
saat mei bertemu juni,
apa yang kita harapkan selain tidur yang lelap?
begitu lelap, hingga memakan habis sisa cerita di bangku tunggu.