Yang (tak) Terlupakan Di Stasiun Tachikawa

Stasiun Tachikawa, bertahun lalu.

Sebuah boneka mungil berbentuk Koala, duduk sendiri di sebuah bangku tunggu. Kesepian diantara wajah yang lalu lalang. Sedih dan merasa ditinggalkan. Bingung mengapa bocah kecil yang suka menyanyikannya lagu, meninggalkannya begitu saja. Tadi bocah itu tertidur di pelukan Ayahnya. Masih terbayang di mata Koala kecil, pita biru yang melambai lambai. Seolah tangan sang bocah saat meninggalkannya tadi. Dia tak bisa memanggil bocah tersayangnya itu, ataupun Ayahnya. Dia hanya menatap kecewa saat melihat Kereta bergerak membawa keduanya pergi. Sang bocah yang terlihat masih mengantuk, dan Ayahnya, tak sekalipun sempatkan diri menoleh kearahnya. Bahkan tak ada ucapan perpisahan atau lambaian selamat tinggal. Mereka telah melupakannya begitu saja.

 

**

 

Sementara, sebuah Kereta Metro terus berlari membelah kota Tokyo. Membawa pergi seorang bocah yang hanya mampu meneteskan embun kecil di tebing matanya. Menyesali Koala kecilnya yang tertinggal. Mereka baru menyadarinya setelah Kereta berangkat. Ayahnya berjanji, petang nanti akan di jemputnya kembali boneka Koalanya di Stasiun tadi.

 

Bocah itu terus saja bersedih. Memikirkan boneka Koala yang menemani hidupnya selama ini. Yang di bawa dari tanah kelahirannya, yang juga tanah air Ibundanya. Hadiah ulang tahunnya yang pertama saat dirinya masih bayi. Boneka satu-satunya yang ia miliki. Karena si bocah jarang bermain dengan boneka. Dia lebih suka berteman dengan sepeda mininya yang di depannya ada keranjang kecil tempat Koala kecilnya bersembunyi. Sedangkan ayahnya lebih suka membelikannya permainan kubus-kubus yang harus disusunnya agar terbentuk sesuatu. Atau sebaliknya. Sambil mempertanyakan sebab akibat, yang kadang belum mampu di cerna pikirannya. Serta setumpuk buku-buku dongeng yang harus dia warnai sendiri gambarnya.

 

Kereta terus berlari. Menembus pagi berkabut di musim dngin. Sang bocah masih terus terkenang-kenang. Dan di bangku peron yang ramai, Koala kecil masih terus kebingungan.

 

Ternyata, baru tiga bulan kemudian, petang membawa bocah pemiliknya itu kembali. Sang Ayah terlalu lama memenuhi janjinya. Stasiun telah melupakannya. Bangku tunggu telah melupakannya. Mungkinkah Koalanya ikut melupakannya, dan memilih pergi?

Marahkah dia?. Andai saja petang itu dia dan Ayahnya sempat kembali, Koala kecilnya mungkin masih ada dipelukannya. Seperti umumnya barang penumpang yang tertinggal di Stasiun itu. Permohonan maaf dari Staf Stasiun yang tak bisa membantu, dan juga penyesalan Ayahnya, tak mampu meretaskan lara di hatinya yang masih kuncup. Koala kecilnya tak pernah ditemukannya lagi. Mungkin dia juga kecewa dan memilih menghilang. Atau ada orang yang membawanya pergi.

Kau dimana, Mimo Kiku?

 

Saat pulang ke tanah air, boneka Koalanya tak bersamanya lagi. Ibundanya yang menjemput, berjanji akan membelikannya boneka Koala baru. Tapi sejak saat itu, diantara koleksi mainannya yang hanya sedikit, tak pernah ada lagi yang berbentuk Koala. Bocah itu tak ingin ada Koala lain yang menggantikan Mimo Kiku. Dia tak pernah melupakannya. Tak ada yang bisa menggantikan Mimo Kikunya yang menghilang. Yang telah dia tinggalkan di sebuah bangku tunggu. Di Negeri ayahnya yang begitu jauh.

Watashi no sei, begitu katanya selalu.

 

 

***

 

Kini bocah itu telah kembali ke Kota itu lagi. Dalam sosok dirinya yang menjelma seorang dara. Tak lagi bersama Ayahnya yang telah tiada. Tak lagi mudah menangis untuk sebuah kehilangan. Dia akan sering berada di Stasiun yang sama. Di Kota kelahiran Ayahnya. Untuk suatu kesempatan yang datang dari Pamannya yang baik hati. Yang lama tak dilihatnya kembali. Sang dara selalu menyempatkan diri berjalan perlahan sepanjang Peron, saat waktu tunggu. Kadang dia berhenti di sekitar Ecute. Ada banyak kios, termasuk kios-kios boneka. Mungkinkah Mimo Kikunya ada di situ? Sekilas senyum liris di rasa mengiris wajahnya.

 

Sudah bertahun-tahun. Mungkin seseorang sudah mengambil dan membawanya pergi. Dia kembali kearah tangga naik turun. Di antara bangku-bangku yang entah. Sampai akhirnya tiba di sebuah bangku paling sudut. Dekat kotak mesin makanan dan minuman.

Bertahun lalu….mungkin, memang bangku ini yang pernah jadi saksi kesedihannya di masa itu. Di pagi yang mendung. Saat dia pertamakali menginjakkan kaki di tanah air Ayahnya tercinta. Kepulauan Suci, demikian kata Sang Ayah, selalu.

Dia tak pernah melupakan sahabat kecil yang menemaninya saat itu.

 

“Kemana pergimu, Mimo Kiku?”

 

Mungkin pertanyaan ini ada di benakmu saat kau kutinggalkan dulu, pikir sang dara. Sebelum melangkahkan kakinya ke sebuah Kereta yang baru tiba. Dia memandang sejenak ke bangku itu. Di sana tak ada Koala kecilnya yang duduk manis. Moment itu lama mengendap di ruang kenangnya . Stasiun ini telah menyimpan kisah sedih masa kecilnya. Saat Mimo Kikunya tertinggal dan kini entah dimana…

 

Zutto anata o omotteru, Mimo Kiku. Mo aenai…