Gurem

mungkin matamu terlampau petang memula riuh. kita memantik sunyi di derap ingatan. seperti kutukan api di gerai masaimu

anne yang malang.
kita terlahir menjadi apa, siapa, dan mengapa. sudah terpetakan jejak-jejak. kedangkalan iman dan politik mengeruhkan hening. menyublim pikiran. biarkan dunia dengan kesedihannya tertatih.

di tempat jauh. ada yang membakar cemburu lewat ayat-ayat kepahitan. memotong sepi dini hari. pada diam mu dan doa- doa di dada.

“selamatkan iman kami, tuhan. engkau yang sewarna batu keagungan”

pada kita di ruang sunyi. mengikis senja yang hilang arah. ” pukul berapa mereka akan tiba?”
di matamu yang lampion ungu, terbaring sepasang coklat mataku. kosong.
dinding- dinding ruang berlipat waktu telah kau ayun. memastikan setiap hari adalah usia yang tanda tanya. mati hidupkah?

di kamar, seseorang memaknai mein kampf. literasi masa depan. bangsa-bangsa terkutuk. kidung-kidung pembakaran. asap- asap berkejaran mencari pembenaran. kita terpuruk dalam kisah tom dan cerobong asap. kumpulan dongeng indah sedunia. tapi dunia tak lagi indah. belum waktunya, katamu.

senyap, anne

tak ada lagi huruf-huruf berlarian, bertelanjang dada, gugur dari tebing matamu
kita memeluk rembulan diam-diam. meresapi. catatan tak sebatas berkisah dan jatuh dalam perenungan. dari curahan kabut oktober, memasiv tanda-tanda. pada sehelai napas di lembaran kusam.

bermimpilah, anne
di retak sudut ruang pena menyala-nyala. memanah kata dari tiap tanda baca.
aku di sini. di hadapan masa lalumu yang ku baca berulang. menghentikan angin utara di perairan okinawa. begitu jauh kita berjarak masa. dingin yang kembar, jari yang padu. seperti sudut mata engkau.

kadang impian patah begitu saja. berdejavu dalam ruang kenang. kawat-kawat melabirin ku dan mu tanpa tanda kutip atau apa pun yang dalam suratan.
kita, anne, terus menunggu dalam ruang penuh ayat-ayat tanpa wajah tuhan.

tuhan, dimanakah kau terletak kini?

sebatang lilin seolah membakar lidah. kita bersembahyang dalam keimanan dua warna. khusyuk serupa pekatnya hidup.
kian absurd nasib kita di ruang sana. nun. bintang di lengan-lengan. berlalu lalang menuju dusta.
dan anne,
andai saja,
ya, andai saja kita sempat jumpa dalam kotak pena. bersama kita membakar sunyi dalam serpihan sukaria. memainkan fur elise, tuts-tuts seraya bertop shoe dalam getir. merepih yang sudah- sudah. bermula dan berakhir kemudian.

kita tak pernah sampai ya, anne.
kita hanya manusia terbuang oleh mereka yang begitu damba musim kegelapan.

selamat senja, anne…