Catatan Akhir Tahun 2012

Seperti musim-musim yang datang dan pergi. Dan hari kemarin yang pernah jadii milik kita. Hari ini mungkin masih milik kita. Hari depan belum tentu milik kita. Namun setidaknya kita pernah memiliki ruang dalam sebuah ingatan. Yang akan kita bawa dalam perjalanan berikutnya. Dan di tiap jeda perhentian, kita bisa menguburnya, lalu kita taburkan bunga dan ucapan,’ Telah kita titip pada titik perhentian sekian, satu kotak ruang kenang. Yang di dalamnya tercetak segala lekat ingatan. Dalam kisah yang belum terpintal utuh, meski penuh. Mengendap dan abadi di keharibaan hari-hari terlewat. Lalu kita semua saling mengucapkan selamat jalan menuju satu, dua atau banyak persimpangan. Jalan kita semua, atau jalan mereka yang di sana. Mungkin di muaranya akan kita temukan kenangan baru. Atau hanya keheningan yang bening.

Mungkin tak ada yang harus terpahatkan bagi ingatan-ingatan yang tertinggal. Yang mengajak kita kembali telusuri lorong waktu pada hari-hari terlewat. Yang kemarin, yang sempat terlupa dan lepas. Kita kadang mencatatnya jauh dalam ceruk hati. Meletakkannya dalam sebuah bola kristal bening. Memandangnya sesekali untuk mengetahui apa yang akan terjadi. Alangkah banyaknya yang telah dan mungkin belum kita lakukan bagi diri sendiri, apalagi bagi kebahagiaan orang lain. Mungkin kita hanyalah gumpalan gumpalan ego yang meretaskan satu lilin yang orang lain nyalakan. Dari hari kepada minggu kepada bulan keqada tahun. Kita akan terus berlari melawan waktu. Kita berkejaran dalam gelombang lupa dan ingat yang menggenangi pusat kesadaran. Kadang berkabut dan meruap dalam lintasan musim. Tapi kita terus berjalan. Tertatih, namun pasti. Menuju kepulangan. Ke tempat kita berdiam.

 

Lihatlah, Statsiun, Bandara, Halte, Pelabuhan terus menorehkan rekam kenang bagi kita yang datang dan pergi. Menuju yang pasti, menuju yang entah. Bahkan setiap petualang pun pasti akan pulang. Ke rumah dan pelukan keluarga. Kita semua hanyalah pejalan-pejalan senyap di tengah keramaian. Atau mungkin pejalan gaduh di rimba hening. Kita hanya harus pulang sesekali atau selamanya. Untuk kemudian pergi lagi. Atau pilih menetap sementara, bahkan selamanya. Kita hanya tinggal memutuskan untuk pergi atau kembali pulang, begitu kata seorang teman. Bagaimana denganmu?

 

Selamat Tahun Baru.

 

 

Setiap hari adalah awal yang baru_Hemingway

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *