Adinda Dan Sakura Musim Semi

Kisah itu berakhir sudah. Pelan dan tenang. Seperti keheningan yang sengaja diciptakan. Tak ada yang bersuara melebihi teriakan macan kumbang. Atau sapaan burung hantu di malam gulita dengan aura magisnya. Adinda khidmat dalam diamnya yang merapuh. Tangannya sibuk menari diatas buku diary yang mulai hilang wanginya. Adinda sedang menentramkan genta hati yang berdentum dalam kebisuan malam. Aliran darah yang tiba tiba deras mengalir tadi perlahan mengurangi kecepatannya. Seakan jantung si empunya tak lagi kuat menjalankan tugasnya karena ada hati yang tengah berduka.

Dengan tekun digoreskan pena hitam dalam genggaman jari mungilnya diatas lembar lembar diarynya. Parasnya yang nampak tenang cenderung dingin terlihat sedikit memucat. Diambilnya segelas jus strawberry kesukaannya. Diteguknya pelan penuh nikmat. Dinginnya air murni berpadu dengan serat serat buah ranum asam manis tersebut sedikit meredam kekecewaannya. Isi gelas tinggal setengah, Dinda tak hendak meneruskan tegukan terakhirnya. Fikirannya yang gaduh riuh harus kembali di fokuskan pada kekinian yang sunyi. Tangannya kembali bergerak lincah menembus aksara kata kata yang baginya kali ini di torehnya dengan sepenuh jiwa raga. Sebuah kisah tentang gugurnya sakura setelah dua minggu sempat bersemi. Sakura yang sebenarnya sudah dia prediksi hanya akan gugur dalam dua minggu saja ,lewat terpaan angin musim semi yang tak kenal kata romantis meski bunga bunga justru bermekaran dalam masanya.

Sang cinta telah menetapkan sebuah keputusan penting dalam hidupnya. Memang tak lagi bisa diteruskan. Ada banyak kendala dimasa depan. Ada banyak etika diri yang harus dijaga. Ada banyak persoalan keluarga yang akan berkusut kusut diri diantara tumpukan jerami kehidupan pribadinya kelak. Ada banyak pengorbanan yang tadinya dengan optimis ditiupkan sang cinta dalam geloranya, namun seakan tiada lagi jejaknya kini. Sang cinta yang adalah pemuda pilihan hatinya. Pemuda dengan banyak perbedaan dalam segala hal. Dengan prinsip hidup yang bertolak belakang pula. Pemuda yang dikenalnya dalam sebuah komunitas beladiri, wushu yang ditekuninya sejak kecil. Wushu adalah hidupnya. Dan hanya wushu satu satunya yang menjadi kesamaannya dengan pemuda bermata teduh itu. Pemuda misterius yang tak banyak bicara. Yang selalu menyapanya setiap pagi dan petang di ujung dermaga kota. Dekat pelabuhan okinawa.

Adinda remaja mengakui itu. Entah mengapa dia mencintai pemuda itu. Sang cinta begitu jauh diatas sana. Memang hanya akan dilihatnya saja dari kejauhan kini. Diantara bintang bintang dilangit. Begitu banyak bintang dilangit. Namun Dinda tahu mana bintang kecintaannya berada dalam posisi edarnya. Yang mengedip padanya setiap malam. Yang akan tetap tersenyum tanpa harus ada lagi sapa mesra. Adinda tahu berat baginya melupakan segala kemesraan yang pernah terjalin. Yang begitu romantis dan penuh tata karma. Yang hanya ada dalam dongeng dongeng senjanya . Cintanya adalah ilusi yang terlihat, unik dan rahasia. Dan hanya dia sendiri yang tahu keberadaan hatinya. Kalaupun ada sebagian keluarganya yang merasakan aura asmara yang mulai tercum aromanya, tidaklah akan membuat hatinya gentar karena baginya segala keindahan dan kebahagiaan cintanyanya haruslah di nikmati berdua saja. Tak perlu diakui pada semesta.

Karena cinta yang hebat akan memancar dengan sendirinya. Cinta adalah kesaksian hidup itu sendiri. Begitulah cinta menurut versinya yang naif.

Sepoi angin malam yang membekukan hatinya perlahan mencair lewat alunan nada nada saksofonnya Kenny G yang melantunkan lagu lama Dying Young warisan kakak cowonya sang kolektor kaset, dan sekarag tengah belajar di negeri seribu pulau bernama Indonesia. Belajar budaya Indonesia. Negeri leluhur ibundanya. Lagu dari kisah cinta yang juga miris dan haru biru. Namun terselip masih ada harapan dalam kebahagiaan yang masih bersandar pada dinding dinding hati para tokoh utamanya. Lewat tuts tuts piano yang dikuasainya, gadis mungil itu suka memainkannya dikala senggang.

Jemari gadis itu masih sibuk menari menumpahkan segala emosi dirinya. Ada tetesan tetesan embun yang pelan bergulir satu persatu membasahi lembaran kertas birunya. Seakan membawa segala kepedihan hatinya agar tak lagi menetap dalam raganya. Maka dibiarkannya semakin menderas , bening dan mengkristal diatas aksara hitam yang tengah menatapnya dingin. Satu kata pamungkas telah ditulisnya sebagai ending dalam kisah cintanya yang manis namun berakhir singkat, “Sayonara Cinta,…Aishiteru…”

Ditutupnya lembar diary terakhirnya. Dipandangnya penuh hampa. Terbersit kata tanya dalam benaknya. Mengapa ada begitu banyak luka dalam hidupnya? Tak berhakkah dia bahagia? Mengapa bahagia enggan berlama lama temani hidupnya. Adakah hikmah didalamnya?

Didorongnya kursi berwarna abu abu di depan meja tulisnya. Perlahan dia membuka jendela kamar. Duduk diatas balkon kamarnya. Sinar bulan menerpa parasnya yang pucat bagai tak bernyawa. Tak tampak lagi binar binar indah sang rembulan menari dalam telaga bening itu. Sang Rembulan tlah ikut tenggelam dalam telaga matanya. Menenggelamkan diri dengan segala kerelaannya.

Entah sampai kapan dia akan duduk terpekur di kesunyian malam yang membeku. Ditepi pantai okinawa dengan anginnya yang tak jelas. Ada perasaan yang rasanya ingin diteriakkan gadis itu pada gelombang malam di samudra depan rumah pantainya. ” Mengapa kau cabut lagi tunas yang tengah bersemi, cinta ! “

Namun tak ada suara yang keluar. Hanya desau angin malam yang menyapanya berebutan. Seakan ingin menghibur perasaan sunyinya yang mencekam. Dan menghiburnya dalam nada riang nyanyian ombak di pantai seberang.

Terdengar suara jam dinding berdetak lembut..satu..dua…tiga. Jam tiga pagi. Adinda membiarkan dirinya tertidur berselimut udara malam. Berharap esok pagi sang mentari akan kembali terbit dengan membawa cahaya hatinya kembali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *