Bayang-Bayang

Aku tersesat dibenaknya. Tak ada jalan untuk kembali

 

Dia merasa benci pada bayang-bayang itu. Bayang-bayang yang selalu mengikuti kemanapun dirinya sembunyi. Seakan tak ada orang lain yang patut di hantuinya selain dirinya semata. Bayang-bayang itu sejak lama gigih mengikutinya. Kadang hilang entah dimana atau kemana. Dia kadang memikirkannya, kadang terlupa di dera kesibukan. Bayang-bayang itu datang dan pergi seenaknya. Seakan dirinya hanyalah tempat persinggahan yang tak punya hati. “Benar-benar brengsek! Desisnya geram tiap kali tak bisa tidur, di hantui bayang-bayang yang seakan dia sendiri mengenalnya, namun ah tidak! Sesungguhnya dia tak pernah mengenalnya.

Suatu malam saat dirinya fokus mengerjakan salah satu novelnya yang tak kunjung usai, bayang-bayang itu hadir kembali. Langsung menghancurkan konsentrasinya. Merusak moodnya. Oh, betapa dia ingin membunuh bayang-bayang itu seperti dia membunuh kucingnya seminggu lalu. Ya, si Cupu sudah mati ditangannya sendiri. Dia cekik sekencang-kencangnya. Matilah dikau, kucing setan!” teriaknya gemas. Entah apa salah si Cupu. Tinggalah si Duduls kembaran si cupu yang kini sebatang kara. Sedih tak terkira. Logikanya sebagai kucing belum mampu menangkap, mengapa majikannya yang kelihatannya lembut, begitu tega memisahkan dirinya dan saudara kembarnya. Kini Duduls hanya mampu berdoa bagi keselamatan si Cupu di alam baqa. Semoga damai sejahtera dan masuk syurga.

***   *****   ***

Hari ke hari dia masih terus mengerjakan novelnya. Jenis thriller dengan nuansa melodramatik yang pas-pasan. Tokohnya hanya empat orang. Mendominasi seluruh isi cerita. Tokoh utama adalah dirinya sendiri. Seorang psikiater yang juga penulis. Lalu dua kucing kembarnya yang manis dan imut. Serta satu lagi adalah, bayang-bayang yang selalu menghantuinya. Bayang-bayang yang sangat mengganggu. Dan jelas sangat dibencinya. Bayang-bayang yang entah. Yang seakan selalu mengejeknya apapun yang dia kerjakan, atau apapun yang dia tulis. Kesabarannya mulai habis. Sebuah rencana yang menurutnya briliant, mampir di benaknya. Menggedor pikirannya yang sejak lama liar.

****  ***   ***

Malam ini senyap. Denting jam mungil mulai bersenandung. Membuatnya sadar pada rencana yang terucap siang tadi. Rencananya bersama si Duduls. Hasil pikirannya yang lama mampir untuk segera direalisir.

”Saatnya tiba Duls. Sudah siapkah dirimu? Kita akan menghabisinya malam ini. Ingat ya, kau tak boleh melakukan kesalahan! Harga mati, tauk!.”  Si Duduls hanya mengangguk pasrah dengan wajah imutnya nyaris ketakutan. Ancaman dan tatapan mata majikannya itu amat mengerikan. Khas seorang pembunuh, batin Duduls gemetar. Meskipun begitu, Duduls tak pernah berniat meninggalkannya. Apalagi mengkhianatinya.

Purnama gelisah. Menanti fajar segera tiba. Desir angin seakan bisikan setan. Dia menyiapkan segalanya dengan cermat. Satu tabung kecil cukuplah, katanya pada si Duduls yang langsung mengaminkan penuh hikmat.

Dia mengingat-ingat adegan film salah satu agen rahasia kesayangannya. Aktor favoritnya dengan bernas berhasil menghabisi satu lagi ”musuh”nya. Musuh yang pernah jadi rekannya. Kesuksesan itu menginspirasinya sejak lama sebagai salah satu cara untuk mengakhiri bayang-bayang yang selalu mengganggunya. Hanya saja moodnya yang sedang bagus, sementara dia salurkan untuk menyelesaikan novelnya. Novel ini harus selesai! sebagai unjuk eksistensi dirinya yang sedang merintis karir sebagai penulis. Dia ingin namanya kelak berjajar anggun disamping penulis-penulis keren macam Stephen King. Dan berangan  tokoh-tokoh fiksinya kelak menjadi legenda baru menggantikan sosok-sosok dalam dunia nyata seperti Jack The Ripper, atau Elizabeth Berthoy. Sosok-sosok nyata yang terkenal mandi darah. Atau Ted Bundypun tak apalah meski kacangan, khayalnya sambil senyum mengerikan. Kucing kecilnya yang sedang memeperhatikan, makin gemetar. Manis-manis kok sadis dan gila, pikirnya polos.

Dengan menggendong si Duduls, dia memulai segalanya. Hidung Duduls yang tajam langsung mencium sesuatu. Apa ini ya, pikirnya heran. Jelas bukan bau Whiskas atau ikan goreng kesukaannya. Perutnya langsung bernyanyi mengingat makanan kesayangannya itu. Sudah dua hari dia tak diberi makan oleh majikannya. Sebagai hukuman karena bersin seenaknya di dekat sang majikan yang sedang sibuk melamun, mencari inspirasi buat novel thrillernya tersebut. Penyesalan Duduls tak ada habis-habisnya. Melebihi penyesalan atas kematian si Cupu kembarannya. Perut adalah segalanya bagi Duduls.

Dia mengelus ngelus leher kucingnya. ”Duls, bayang-bayang itu mulai datang. Sibuk mengejekku. Memerintahku. Aku akan segera menghabisinya malam ini juga. Kau siap?” Duduls mengeong pasrah. Tak pernah sekalipun Duduls melihat bayang-bayang yang dimaksud majikannya. Dimana gerangan? Diam-diam Duduls bersumpah, andai bisa menemukannya, akan langsung diterkamnya. Di cakar dan dimakannya seperti ikan. Agar tak lagi mengganggu sang majikan. Juga agar  dirinya tak selalu jadi sasaran keluh kesahnya. Karena kalau menyatakan kebosanannya, nasibnya akan berakhir seperti si Cupu.

Duduls terus mengawasi majikannya yang tengah sibuk menjalankan rencana. Mengakhiri bayang-bayang sialan itu. ”Segera mampuslah, kau!”, bisik majikannya dengan mata menyala. Duduls memejamkan mata.

Que sera sera!

*****   ***   *****

Sebulan kemudian di sebuah kafe baca, aku khusuk membaca berita.  Sebuah ledakan yang memecah keheningan malam. Menghancurkan beberapa kamar dan menewaskan banyak orang. Hatiku bersorak. Pusat ledakan terjadi disebuah kamar apartemen kecil di sudut kota. Aku menatap  foto korban. Seorang bocah remaja berparas dingin, tanpa senyum. Wajah yang amat familiar. Wajah yang memancarkan kekosongan. Disebelahnya kulihat gambar dua ekor kucing. Si Duduls dan si Cupu. Hatiku merasa lega. Rencanaku akhirnya sukses! Bayang-bayang yang kubenci tak lagi meghantui. Sukses kukirim ke neraka. Aku berteriak kencang-kencang sambil melempar koran ke udara. ” I hate uuuu!! Go awayyyy! Dont comeback againn!! Dont disturb meeeeee! Forever!.”

Disekelilingku orang-orang tak merasa terganggu atau terkejut dengan  ulahku. Tetap asyik minum kopi di kafe mungil itu sambil membaca dengan tenang.

Aku melenggang pergi dengan senyum kemenangan.

Akhirnya aku merasa bebas…

 

Mereka pikir aku gila. Tapi karena aku tidak gila, maka aku diam saja”_Old man and the sea (Hemingway)

 

Jejak Kenang on FB:

Awan Hitam

Apakabar mba Yuri :)Aku pagi ini menikmati tulisanmu. Begitu kuat menghadirkan suasana dalam uraiannya. Deskripsi dari tokoh dan tema yang dibangun membuatku ingin meneruskan dan ingin melanjutkan kebaris berikutnya.Bukankah apa yang kita …tahu dan kita rasakan adalah apa yang dapat kita rasakan dan pikirkan juga. Betapapun begitu banyak bayangan dalam diri, kadang selalu hadir diluar kendali kita.Dalam tulisan ini aku diajak bergerak akan dunia pikiran dan dunia subjektif serta apa yang dekat dalam keseharian. Kengerian dan kebencian bisa jadi muncul dari apa apa yang dalam diri. Begitulah pikiran membentuk realitas realitas. Aku yang nyata ataukah bayanganku yang nyata. Mungkin tak ada yang nyata. Mungkin siapapun juga tak nyata.Cerita ini mengingatkan salah satu cerita film yang kusuka yaitu ” Fght Club” di bintangi Brad Pitt. Dimana sang tokoh menghadirkan bayangan dirinya dan bayangannyapun meneror dirinya juga serta saling membunuh untuk menjadi nyata diantara salah satunya.

Begitulah realitas selalu apa yang dipikirkan. Mungkin aku adalah kucing yang bernama duduls dan aku telah membuduh diriku yang lain yaitu seekor kucing bernama cupu. Dan begitulah setiap hal, identitas bukanlah suatu yang sederhana. Mereka pikir aku gila, tapi aku tidak gila seperti kutipan mu dalam buku Old man adn the Sea. Ataukah mereka tak tahu bahwa mereka menciptakan aku dan memebentuk aku. Siapakah aku dan siapakah mereka?

Selamat pagi mba Sayuri, suka dengan ceritamu ini. Kusuka cara mu berdialog dengan kucingmu dan juga dengan dirimu dan bagaimana menghadapi teror bayangmu sendiri. Imajinatif.

John Ferry Sihotang

yosiiiii, imajinasimu liaaaaar. dan aku makin merasa cupu, seperti tokoh kucing cupumu itu, membaca ceritamu ini. tapi, janganlah kau bunuh bayang-bayang yang entah itu hehehe. satu kata untukmu: mantaaaaaap! :-)

Ardi Nugroho

meskipun aku tak sempat mebjadikan note ini sebagai sarapan, namun aku bersyukur masih bisa menikmatinya sebagai makan siang.

sajian yang istimewa. sejak dari intro, peak problem hingga endingnya, aku dibuatnya merasa nyaman dengan getaran2 kecil yang menghangatkan..
Mbak Sayuri begitu lihai meracik dan mengalirkan alur ceritanya.

aku terinspirasi juga.

Intan Nugraha Citos

yosi, ceritamu bagus dan mengalir dengan indahnya, saya menikmatinya.

pemotongan adegan demi adegan, kamu lakukan dengan tepat dan itu turut memperkuat bangunan ceritamu secara keseluruhan, karena itu meski kamu melakukan beberapa kali pemotongan, saya sebagai pembaca sama sekali tak terganggu.

terima kasih ya yosi, sudah berbagi cerita indah ini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *