Mam, Subuh Telah Datang…

Mam, malam ini mata tak mampu lelap. Gelisah memunahkan mimpi. Bertanya tanya, bagaimana kau di peraduan? tanpaku memeluk sunyimu. Sudah jelang fajar di tempatku berdiam. Suara senjata tak lagi terdengar. Sembunyi dari patahan kenang. Yang terus hidup menghidupkan. Sementara kau tak lagi bisa mendengar. Atau sebatas menenangkan kalbu. Apalagi yang hendak kuceritakan? tentang kesendirian diantara desing peluru?

dan harmonika tua telah menjelma suaramu di hari-hariku yang lugu.

Teman bersembunyi di tempat-tempat rahasia. Memindahkan suara desing ke nada nina bobo.

Aku masih mendengarnya. Sementara.

 

Ku lihat cuaca tak lagi jernih. Terombang ambing antara hitam dan putih. Laksana gerak cahaya menuju gelap. Begitu kata puisi yang pernah kau bacakan. Datang dan pergi memahat doa. Seperti perdamaian yang tak mampu hadir.

Mungkin Tuhan telah lari. Bosan dan kecewa telah membuat manusia kecil menjadi sosok dewasa.

 

Akupun tak ingin dewasa. Bila harus kehilangan dongeng-dongeng tentang dunia yang indah.

Terlupa pada janji-janji masa kecil. Seperti kisah merpati yang tak pernah ingkar janji. Tapi manusia bukan merpati.

Bahkan  subuh tetap datang. Menyapa pelan pelan. Melukis guratan jingga di dinding mata. Ku rasakan hangatnya perapian tua. Mengingatkan pelukmu di masa terlewat.

 

Dan Mam, ada yang hendak kukabarkan. Hujan kadang jatuh menyisakan tetes. Menuntaskan debu dan darah. Sisa musim-musim terdiam. Hening ini mulai menguncup. Menjadikanmu sebentuk siluet. Yang ku lukis di kegelapan. Dalam rasa takut yang getir. Dengan cahaya teram yang menggelisahkan November.

Cemas tak berkesudahan.Aku masih disini. Terkurung dalam labirin peperangan.

 

Entah kapan berakhir. Mungkin hari ini. Atau esok pagi. Lusa mungkin juga. Seterusnya biarlah tangan Tuhan yang kugenggam. Semoga DIA menurunkan tangga dari surga-Nya. Agar aku dapat naik…naik..dan naik. Menuju awan-awan. Dimana hanya ada kau dan aku.Berjumpa seraya memungut air mata. Meluruhkan yang tersisa.

 

Mam, kini subuh benar-benar datang. Lewat saku-saku bajuku yang bolong.Bahkan sisa air dan makanan.

Kosong seperti janji-janji pemimpin dunia.Yang lupa pada indahnya masa kanak tanpa senjata.

Namun subuh menepati janjinya padaku.

 

Lihat, cahaya fajar berbaik hati. Membawakan sosokmu yang diam. Luruh dalam senyum.

Perangpun kuharap usai. Hingga aku bisa berlari pulang. Ke rumah kita.

Itupun kalau masih ada…

 

 

 

~Catatan ini telah di revisi. Dedicate to children war.

Terimakasih atas jejak kenangnya.

 

 

 

Kekerasan hanya melahirkan kekerasan_kutipan

 

Pelan Dan Pasti

Lihat disana, jalan~jalan kembali basah. Semalam hujan. Dan sebelumnya pepohonan menggugurkan dedaun. Senantiasa musim~musim kembali datang lalu pergi. Seperti sejarah berulang dan berulang. Mungkin sejatinya hidup seperti daun~daun itu. Bertunas, menumbuh mekar untuk kemudian luruh dipaksa waktu. Saat itu, ranting~ranting berhenti bernyanyi. Saatnya mengucap selamat tinggal pada yg selama ini menemani. Ranting pada daun. Adalah keniscayaan. Seperti katamu tentang pertemuan perpisahan di stasiun, halte, bandara dan pelabuhan. Maka pandanglah matahari yang menghangatkan akar akar willow, sakura dan tumbuhan empat musim yang melahirkan Peoni Peoni bermekar memerah. Dan itu, lihatlah. Taman taman menjadi sunyi saat pohon pohon menggigil. Meski matahari hadir menghangatkan pagi, kulihat alam tetap suram. Langit melukis mendung yang mengalirkan kristal bening di hati dan pelupuk. Pada tebing mata, tertahan karena hidup tak baik selalu ditangisi. Dan daun daun jatuh mengajarkan kita bagaimana prosesi alam berlangsung. Tak ada yang benar~benar abadi. Aku yang kadang tertatih berjalan diantara serakannya. Daun daun itu. Begitu warna warni. Beberapa diantaranya kupunguti. Mereka berbisik bisik padaku. Mengingatkan tentang senja yang bertemu fajar. Romantisme yang gagal di epilogkan. Epitaf masa lalu dan masa depan. Juga yang sesaat terlupakan. Demikian daun daun terus berjatuhan. Melayang menerbangkan cita cita. Bagaimana harus kuterjemahkan musim gugurmu? sementara aku hanyalah musim dingin yang membekukan bumi. Saat ini tubuhku penuh daun merah, kuning, ungu dan hijau. Mewarnai langkah kecil kecil jalan setapak penuh kerikil. Aku disini. Masih termangu diantara guguran daunmu.

Terus berjatuhan. Pelan dan pasti…

 

hanya catatan kecil tanpa edit dalam perjalanan kereta.

Kepada Hari Kemarin

Kemarin, di Kota Suci Nara.

Sesaat singgah, kutetes kata-kata.

 

 

Mungkin hanya ini yang kita bisa. Menenggelamkan kata-kata. Mematikan cahaya

Menjadilah kita air hening bening. Yang mampu membuka tabir. Siapakah kau dan aku.

Selebihnya menjadi tak penting.

“Apakah kau takut padaku?” tanyamu.

Kutengok hati. Hanya ada sepi. Mengapa harus ada hari itu. Yang bukan milikku, pun engkau.

 

Kemana hari-hari kemarin?. yang membuatku berlari menjauh mendekat.

Sementara kau menunggu di teras berandamu yang diam. Kau yang selalu bermeditasi pada sunyi.

Apakah setelah ini yang terjadi. Kita yang hanya sebatas bayang-bayang. Rapuh dalam bimbang.

Waktu tiba-tiba melambat. Menunggu yang pernah terlewat.

 

“Mengapa takut padaku?” lagi tanyamu. Kutengok jantung. Hanya ada detak yang guruh.

“Nikmati sunyiku,” bisikku, di detakmu yang gugup berdegup.

“Kau atau aku yang takut?” tanyaku.

“Kau”, jawabmu pasti. Aku dalam senyap. Haruskah takut menjadi sebab?

 

Demikian, malam mencuri kita punya cerita. Malam yang kini jadi milik kemarin.

Meninggalkan kita tersuruk. Tiba-tiba musim beku menjadi dini datang di hadapan.

Dan hujan. Kembali kemaraukah di musimmu?

Aku yang disini. Berharap masa depan di jalan-jalan penuh daun.

 

 

Kadang ada yang terlupakan. Mungkin harus. Sebab sunyi menjadi cemburu sejak hadirmu.

Aku yang senantiasa datang. Lenyap diam-diam. Hadir tanpa permisi.

Adalah aku yang milik kesunyian. Aku yang memintamu datang. Untuk kemudian meremukkan.

Mengapa masih kau katakan, “Datanglah kembali, bila kau letih melangkah.”

Lalu kau berikan kunci-kunci.

Menemukanmu adalah ketergesaan. Menemukanku adalah kekhilafan.

Aku yang disini. Sendiri dengan janji-janji. Seperti Akimi No Hidori di Biara Nara dalam dongeng malamku.

Menghadap Matahari. Menggulung Rembulan. Membakar bintang-bintang. Lalu melenggang pergi..

Hanya begitu saja. Tak ada ucap sayoonara.

Itu terlampau sakral untuk perpisahan sementara.

 

Kau yang disana. Tetap dengan berandamu yang diam. Kau yang memikirkanku. Berhenti sebelum nyeri bersama.

Kita adalah ombak yang menggulung ingin. Sesungguhnya akulah sebentuk kerumitan. Sulit dipikirkan.

Akan semakin rumit untuk kau kenang. Sunyi telah menjadi aku. Menjadi heningku.

“Aku suka “kerumitan”, yakinmu. Namun sesama hening dilarang menebar sunyi. Akan menjadi gaduh bertalu talu. Menghanguskan pikir. Melarung intuisi. Dan kita akan menjelma teror sebelum menggumul kenang yang setengah mati kita patahkan.

 

Harusnya kau tahu, tak perlu getarkan sunyi.

Cukup hadirmu warnai hati.

 

Kita mencipta hening. Melahirkan desir. Mengukir kenang. Memahat bait-bait.

Kita adalah puisi yang menjadi kemarin. Kini hanya sepasang asing yang mengasingkan kata-kata.

Tak lagi milik kita.

 

Kau musim gugurku

Yang daun-daunnya tak lagi ku punguti

Hujan terlanjur jatuh

Mengisi lubuk-lubuk kosong

 

Kepada kita yang pernah gugurkan beku.

bermuarakah?…

 

 

 

Kadang ada yang harus disampaikan, seperti katamu