Angela Dan Petualangan Kecilnya

Angela berlari-lari kecil menyusuri jalan setapak di sepanjang lorong kota tua di sudut kota Marbella yang cantik. Pipinya bersemu merah, kedua tangannya penuh dengan bunga-bunga liar yang dipetiknya di kaki bukit Kupu-Kupu, sebutan para warga kota untuk bukit kecil di sebelah utara. Matanya berkejap-kejap menahan pancaran mentari di pagi hari yang cerah itu.

Tiba-tiba, “aduh !” Angela menjerit kecil.

Kakinya terantuk batu-batu kerikil yang bertebaran di sudut lorong yang mulai melebar. Angela meringis. Bunganya berserakan di jalan, dan lututnya agak memar. Seorang kakek menghampirinya sambil menggunakan tongkat.

“Mengapa kau, Nak? Sakitkah? Coba kakek lihat apakah ada yang terluka.”

Sang kakek membantu Angela berdiri, wajah gadis cilik itu hampir menangis. Namun dia membiarkan si kakek yang baik hati itu menolongnya. Biasanya Angela tak suka ada orang asing yang memegangnya. Dia terkenal pendiam dan pemalu di lingkungannya.

Sang kakek tersenyum lega. Di usap-usapnya kepala Angela sambil berkata, “Tak ada luka serius, Nak. Hanya lututmu yang harus diobati sedikit. Agaknya kau hanya kaget tadi. Mengapa berlari begitu cepat? Tak lihatkah banyak batu-batu yang berserakan di sepanjang jalan ini?”

Angela hanya menggelengkan kepala sambil memunguti bunga-bunga liarnya. Ah, bunga-bunga ini tak apa-apa kok, batinnya sedikit lega.

Setelah terkumpul semua bunga yang dipetiknya di bukit Kupu-Kupu tadi, dia menganggukkan kepalanya ke arah di kakek yang masih berdiri di dekatnya. Angela tak lupa mengucapkan terima kasih sambil tersenyum tipis.

Sang Kakek tertawa. “Nah, sebaiknya kau berjalan saja kalau rumahmu sudah tak jauh dari sini, Nak. Di manakah rumahmu? Sepertinya aku belum pernah melihatmu di lingkungan ini.”

Angela menatap Kakek yang baru dikenalnya, sebelum akhirnya menjawab.

“Aku baru tiba di sini seminggu yang lalu, Kek,” jawab Angela malu-malu. “Aku menengok Tante Michelle yang baru melahirkan anaknya. Namanya Jessica. Kan sekolahku sedang libur.”

Kakek mengangguk-angguk.

“Oh, begitu ya. Jadi nanti kau akan melihat juga festival bunga di kota ini bukan? Pasti kau akan senang berlibur di kotaku ini. Ini kota kuno Nak, sudah berabad-abad. Mungkin sudah ratusan atau ribuan tahun berdirinya. Pernahkah kau dengar tentang zaman romawi, Nak?” tatap Kakek dengan senyum penuh kebanggaan.

Angela menganggukkan kepala. Kakek melanjutkan ceritanya.

“Nah, sejak zaman romawi itulah kota kecil kuno yang indah ini telah berdiri. Tentu saja kita semua belum ada waktu itu hehe. Kota ini pernah mengalami peperangan. Diperintah oleh raja dan ratu silih berganti. Banyak kesenian rakyat yang berkembang dari masa lalu yang tetap di abadikan di kota ini sampai sekarang,” jelas si Kakek.

Angela terpaku mendengarkan cerita Kakek. Ia senang akan cerita sejarah. Bahkan buku-buku sejarah milik kakaknya pun sudah dibacanya, meski ia belum memahami isinya. Usianya 12 tahun, namun minatnya amat banyak. Angela senang bermain piano, suaranya indah kalau bernyanyi.

Angela juga senang memelihara hewan seperti kucing, kelinci, dan kuda-kuda. Ia punya seekor kuda poni yang mungil namun tangkas kalau berlari. Namanya Jules. Angela pun punya seekor anjing pudel yang lucu dan suka tidur di bawah tempat tidur, di kamarnya yang mungil, di rumahnya yang terletak di ibukota.

“Kau belum mau pulang, Nak?” tanya Kakek membuyarkan lamunan Angela.

Angela tersenyum, “Makasih Kek ceritanya. Aku mau pergi lagi. Rumah Tante Michelle sudah agak dekat kok.”

Si Kakek menyipitkan matanya menatap Angela. Karena matahari pagi itu terlalu bersinar. “Nak, mengapa kau berjalan-jalan sendirian? Apakah kamu sudah minta izin?”

Angela memerah mukanya, menunduk sedikit. Sang kakek memandangnya agak cemas.

Kakek menghela napas dengan berat. “Baiklah, lain kali kau harus minta diantar salah satu keluargamu kalau mau jalan –jalan di kota ini ya, Nak?”

Angela mengangguk pelan, lalu pamit pada sang kakek sambil berjalan ke arah selatan seraya membawa bunga-bunga liarnya. Sang kakek yang baik hati itu masih menatapnya sampai menghilang di kelokan lorong jalan.

Angela berjalan sambil melihat lihat sisi sepanjang lorong kota yang berkelok-kelok itu. Banyak penduduk kota berjualan aneka kerajinan, seperti manik-manik yang membuat mata Angela berbinar- binar melihatnya. Dia teringat kalung manik manik pemberian almaruh ayahnya di ulang tahunnya yang ke sepuluh. Sampai sekarang kalung manik-manik itu masih tersimpan rapi di laci kamarnya. Jarang dipakai kecuali bila ada acara-acara keluarga. Angela tak ingin kehilangan kalung indah pemberian ayahnya tersebut.

Pandangannya berpindah ke sisi sebelah kirinya. Ada penjual es krim. Kerongkongannya terasa haus. Ia berhenti sebentar untuk membeli sebatang es krim rasa vanila yang dingin menyegarkan.

Sepanjang jalan lorong itu Angela menikmati pemandangan kehidupan penduduk kota yang serba sibuk. Kota ini cantik, jalannya berbatu-batu, penuh batu granit yang sangat kokoh. Kupu-kupu berterbangan, hingga wajar kalau kota ini dijuluki Kota Kupu-Kupu. Namun tak banyak pohon-pohon tumbuh karena kota ini sempit. Pohon-pohon hanya ada di sisi luar kota seperti di dekat bukit Kupu-Kupu.

Meskipun tidak ada pepohonan, di rumah maupun di kedai makan, banyak bunga geranium yang ditanam di pot dekat jendela. Indah berwarna-warni. Sehingga dari kejauhan, jendela kota Marbella penuh bunga aneka warna yang berjejer di seantero jalan.

Seorang gadis kecil kumal tiba-tiba menghalangi jalan Angela. Dia menatap Angela dengan pandangan ingin tahu.

“Kamu anak yang kabur itu ya?” tanyanya sambil menatap Angela dengan seksama.

Angela terkejut.

“Ya ya pasti kamu. Tadi ada dua orang yang bertanya padaku tentang anak kecil seusiaku yang pergi dari rumah tak bilang-bilang. Pasti kamu ya?”

Angela melongo. Dia merasa bersalah. Benar kata si kakek yang menolongnya tadi. Keluarganya pasti cemas dan mencarinya ke mana-mana. Karena dia memang menyelinap lewat pintu samping saat keluarganya sedang sibuk menyiapkan sarapan. Angela yang sejak dua hari lalu datang, sudah tak sabar ingin berjalan-jalan di seputar kota. Namun ibunya melarang ia pergi, bahkan sekedar bermain di seputar pekarang rumah Tantenya pun tidak boleh.

Sejak ayahnya meninggal, ibunya sangat ketat menjaga dirinya. Kecuali ke sekolah, Angela tak bisa lagi leluasa bermain jauh-jauh kecuali di lingkungan sekitar rumahnya.

Angela sangat suka berjalan-jalan. Meski pendiam dan pemalu, Angela termasuk anak yang cukup nekad. Ia berani memanjat pohon, dan membuat Ibunya cemas. Ia juga pandai bersalto di halaman rumahnya. Satu hal yang juga disukainya adalah mendampingi ayahnya, seorang pianis, untuk konser di mana-mana, termasuk memenuhi undangan ratu Negeri tetangga sebelah. Ada fotonya, lho! Ah, Angela selalu merindukan suasana dulu di saat ayahnya yang humoris itu masih ada.

Angela menyukai dunia petualangan yang dikenalkan Ayahnya. Betapa ia sedih karena kehilangan ayahnya. Ia merindukan dongeng-dongeng ayahnya, yang tidak mungkin didapatkannya dari ibunya yang hobi memasak, menyulam, dan berdandan.

Sosok gadis cilik kumal itu mengingatkan Angela pada sosok teman rahasianya di ibukota. Seorang anak pengemis yang hidup di jalan-jalan ibukota. Angela mengenalnya saat dia sedang belajar berkuda di tengah kota. Anak itu mencuri dompet mungilnya yang lucu dan warna warni. Angela tak marah saat anak itu akhirnya tertangkap. Ia merelakan dompetnya, dan bahkan memberi anak itu roti dan air minum. Entah mengapa Angela yang pemalu itu ternyata bisa juga berteman dengan anak lain tanpa canggung seperti yang dialaminya selama ini.

Mungkin karena dia ingin tahu lebih banyak tentang anak yang aneh itu, atau karena merasa tertarik dengan kehidupannya yang bebas, tidak seperti dirinya yang penuh aturan.

Sejak saat itu, keduanya berteman baik. Mereka suka bertemu secara rahasia di taman kota. Angela bertualang dengan teman barunya ke daerah kota yang kumuh. Hal ini tidak membuatnya risih, malah Angela merasa bebas merdeka. Sayang sekali seekor kuda hitam penarik kereta telah mengakhiri hidup teman Angela yang singkat. Angela tidak akan pernah melihatnya lagi.

Baginya itu tragedi kedua yang dialaminya, kehilangan orang yang mampu membuatnya tertawa gembira. Sang ayah dan sang teman. Diam-diam Angela kehilangan gadis pengemis itu, melebihi kehilangan akan kebebasan dirinya. Ia sering mendoakan sahabatnya, meminta Tuhan menyampaikan salamnya. Setelah itu, barulah Angela merasa lega, dan bisa tertidur dengan senyum.

Kini, seakan waktu bergulir ke masa lalu, tiba-tiba saja gadis pengemis itu sekan menjelma kembali di hadapannya. Keduanya tentu berbeda secara fisik. Gadis ini keturunan gipsi. Warga kota suka mengusir kaum gipsi karena dianggap pengganggu ketentraman kota. Anehnya, mereka sering pula dipanggil untuk menghibur masyarakat dalam acara-acara festival kota. Dan kaum gipsi biasanya suka menari, bersalto, akrobatik, atau sulap.

Angela tersenyum pada gadis cilik yang masih menatapnya tersebut. Rambut ikalnya tertutup bandana lebar yang warna warni. Pakaiannya tak jelas lagi warnanya. Matanya hitam kelam dengan bulu mata yang panjang dan lentik. Gadis ini manis sekali. Angela membandingkannya dengan dirinya yang berkulit putih kecokelatan, dengan rambut cokelat tua dari garis keturunan Eropa Selatan.

“Aku bilang kalau aku tidak kenal dirimu. Kamu pasti anak baru ya di sini?” tanya anak gipsi itu dengan nyaring

Angela mengangguk. Gadis itu mengajak Angela duduk.

“Kenapa sih kamu pergi dari rumah? Kamu dimarahi ibumu ya?” tanyanya.

“Tidak. Hanya ingin jalan-jalan. Aku selalu dilarang pergi jauh. Ibuku memang begitu,” sahut Angela kesal. Tanpa disadari Angela terus berceloteh.

Gadis itu mendengarkan curahan hati Angela tanpa menyela. Angela merasa nyaman didengarkan. Selesai bercerita, Angela menyodorkan sebatang permen berbentuk panjang. Gadis gipsi itu sumringah kegirangan. Mereka makan permen dan minum es krim. Berjam-jam dihabiskan mereka untuk mengobrol. Angela lupa kalau ia harus pulang. Ia terlalu sibuk menyusuri jalan kota yang berlorong-lorong dengan teman barunya.

Menjelang siang, gadis gipsi mengingatkan Angela untuk pulang. Tiba-tiba saja seorang polisi berbadan besar datang dan menangkap tangan Angela.

“Hei, kamu Angela ya?” tanya Polisi.

Tiba-tiba dari balik kerumunan, dua orang dewasa menerobos dan menghambur ke pelukan Angela.

“Ke mana saja kau, Angela? Ibunya menangis terus mencarimu. Kenapa pergi tak bilang-bilang?” tanya yang wanita cemas.

Sementara itu sang pemuda berbicara pada polisi. Oh, keduanya adalah kakak sepupu Angela.

Setelah menceritakan alasan kepergiannya, Angela diajak pulang. Sebelum pergi, ia ingin menyalami teman barunya. Namun tangannya ditarik oleh kakak sepupunya.

“Jangan sentuh anak gipsi itu. Mereka suka mencuri roti,” dengus kakak sepupunya.

Anak gipsi itu memerah mukanya, dan segera berlari menjauh. Angela merasa sedih. Dalam hatinya ia berjanji untuk mencari teman barunya kembali untuk minta maaf.

Sampai kepulangannya, Angela tidak pernah bertemu gadis gipsi itu lagi. Ia sudah berkeliling kota untuk mencarinya. Katanya orang gipsi sudah diusir keluar kota karena tentara Jerman telah memasuki kota. Angela tidak ingin larut dalam kesedihannya. Ia percaya bisa menemui teman barunya kembali suatu saat nanti. Namun tiba-tiba ia terkejut.

“Oh, aku tak pernah menanyakan namanya? Bagaimana aku bisa mencarinya kelak?” sesal Angela.

Angela diam kesal pada kecerobohannya sendiri. Ternyata ia telah melupakan sesuatu yang penting, meski kelihatannya sepele. Sebuah nama!

Catatan:

Ini adalah salah satu karya selama mengikuti kelas “Menulis Cerita Anak” di Sekolah Online Visikata dengan mentoring oleh Glory Gracia Christabelle.

Kisah Heidi cerita anak anak favoritku sejak kecil. Ini adalah salah satu cuplikan gambarnya yg diangkat disalah satu film nya. Kisah Heidi yg menginspirasiku utk mengikuti kelas menulis cerita anak di visikata.com

(Karya ini telah dimuat di Jurnal Perempuan Edisi 65, Januari 2010)