POHON, RANTING, DAN KISAH

Kehidupan sama dengan pohon. Sama-sama mengarah pada cahaya_kutipan

 

 

Ini hanya kisah sebatang pohon tua.

 

Berdiri diatas tanah berumput yang berjarak 100 meter dari sebuah kolam kecil yang airnya sedingin es. Kukuh berdiri di tengah empat musim yang datang silih berganti. Diantara angin utara dan selatan yang saling bersaing merontokan daun saat musim gugur tiba. Sesekali penduduk desa yang lelah, singgah berharap keteduhannya dari selesai mengolah hasil ladang. Lalu domba-domba, kuda dan anjing gembala yang kerap terbaring diatas akar-akar bagian tubuh yang selalu tabah menyangga beban apapun diatasnya.

Semua yang suka singgah dianggap sebagai tetangga dan sahabat-sahabatnya. Kawan lama dan kawan baru. Mereka semua menarik perhatiannya. Kehadiran mereka membuat dirinya tidak merasa sendirian, di tengah padang rumput dekat lereng bukit. Pohon itu menyambut kedatangan siapapun didekatnya dengan hati riang. asal tak membuatnya cemas. Seperti membuang puntung rokok sembarangan yang kerap dilakukan penarik gerobak pembawa gandum. Ataupun anak-anak muda yang tengah merencanakan keisengan dibawah keteduhannya. Yang saling bertaruh untuk mengganggu para petani dengan mencuri buah melon atau telur ayam milik mereka.

*** ***

Suatu hari seorang lelaki paruh baya datang dan memandanginya dengan cermat serta mata memerah. Nampaknya dia seorang pengembara. Dengan tas ransel lusuh dan sebotol minuman keras ditangannya yang kotor, lelaki paruh baya itu terhuyung jatuh dihadapannya. Susah payah mengangkat tubuh dan mulai duduk bersandar padanya. Mulutnya mulai mengoceh. Suaranya serak dan berat.

“Hei, pohon tua. Aku ini pengembara dari wilayah Barat. Kau tahu itu, kawan? Disana sedang ada Festival Bunga Peoni. Yang warnanya merah menggiurkan. Ah Peoni-Peoni itu, kawan. Mengingatkanku pada seorang perempuan dari masa lalu. Perempuan brengsek yang suka merampas botol-botol alkoholku. Lalu membuangnya seperti ludah yang di lepahkan begitu saja ke wajahku. Ah.. perempuan itu kawan, akhirnya dia kawin dengan petani setempat. Yang memberinya sepetak ladang gandum dan perahu kecil untuk mencari ikan di danau. Perempuan itu terus hidup, kawan. Sementara aku mati sia-sia dengan ketololan yang kubuat sendiri. Hahahhah. Hidup ini lucu ya, kawan?”

Lalu ditenggaknya kembali sisa alkohol dalam botol yang warnanya tak jelas lagi. Seperti baru diambil dari penampungan sampah kota musim gugur yang terletak satu kilometer di perbatasan. Lelaki itu menengadahankan tangannya sebelum menenggaknya sekali lagi. Untuk sisa tetes terakhir.

“Bravo untukmu, Perempanku. Matahariku. Semoga kau bahagia di neraka!”

Glek..glek..glek. Dilemparnya botol kosong itu ke sembarang arah.

Pohon itu cemas. Lelaki itu benar-benar seorang pemabuk yang tak berguna. Bahkan untuk dirinya sendiri sekalipun. Apa dia tak tahu botol yang kini pecah itu mungkin akan melukai kaki orang-orang yang suka lewat di dekatnya? Atau kaki hewan ternak yang sering melintas di jalan ini? Bagaimana kalau sampai terinjak botol yang sudah pecah itu?

Pohon itu sedikit menyesal telah mengizinkannya memberi keteduhan di naungannya. Tapi juga terbit rasa kasihannya melihatnya begitu tak berdaya sebagai seorang lelaki. Dilihatnya daun-daunnya berjatuhan makin banyak. Mereka gugur serempak. Jatuh begitu saja ke permukaan bumi. Tepat di dekat sepatu pengembara yang kini tampak merenung setelah kehabisan minumannya.

Lalu lelaki pengembara itu berdiri. Membersihkan anak-anak ranting yang menempel di celananya. Mengangkat tas ransel dan kembali pergi begitu saja. Tanpa ucapan terimakasih ataupun selamat tinggal. Dipandangnya lelaki pengembara itu berjalan terseok-seok makin menjauh. Hingga hanya tampak sebagai titik samar yang berbelok ke balik punggung bukit. Menghilang dari pandangan. Di tatapnya botol pecah yang ditinggalkan pengembara itu. Seperti halnya benda-benda mati yang tak berguna lagi bagi pemiliknya. Botol itu tampak tergeletak dengan luka-luka ditubuhnya. Sendiri dan kesepian. Pemiliknya sudah pergi dengan membawa luka hidup yang harus ditanggung. Botol itu telah memisahkan lelaki itu dari perempuannya.

Pohon itu menghela nafas. Berkaca pada dirinya sendiri. Puluhan tahun tubuhnya berdiri kukuh disini. Tanah ini. Wilayah ini adalah rumahnya. Halamannya. Lingkungannya. Meski dia tak punya majikan manusia untUk mengurusnya agar tetap asri dan hidup. Pohon itu merasa bahagia. Dirinya adalah pohon tak bertuan. Namun mampu bertahan hidup hingga detik ini. Mampu bersahabat dengan siapa saja yang tiba-tiba datang dan berteduh dirindang daunnya di musim panas. Menikmati semilirnya angin. Mampu menyenangkan mata siapa saja yang menghampirinya di musim gugur. Mengagumi sekaligus menangisi daun-daunnya yang jatuh dengan anggun. Helai demi helai. Melayang seperti Ballerina dalam opera angsa putih. Bocah-bocah sering berebut memungutinya. Mengumpulkannya dalam kantung kertas berwarna coklat, atau dalam kantung gaunnya yang lebar-lebar. Membawanya entah kemana. Bocah-bocah itu amat riang. Dengan pipi penuh kemerahan, dan rambut berayun-ayun di bawah topi jerami mereka. Jeritan riang para bocah adalah musik alam bagi tubuhnya yang mulai renta.

Seorang bocah di musim semi beberapa tahun lalu, pernah berbaring di rerindangnya. Lalu mengadu tentang nilai pelajaran sekolah yang terus jatuh karena waktu belajarnya amat sedikit. Bocah itu anak seorang penggembala yang rajin dan pandai. Berharap saat besar nanti tak ingin seperti ayahnya yang terus sibuk diantara hewan-hewan. Bocah itu ingin menjadi anak kota yang dimatanya selalu rapi dan wangi seperti beberapa anak kota yang pernah singgah di desa mereka. Dan berkemah di sekitar lereng bukit yang penuh bunga liar. Bocah itu merasa anak-anak kota lebih punya waktu untuk bersenang-senang menikmati masa kecilnya. Tanpa harus memandikan dan menjaga ternak yang bau dan kotor, meskipun dimandikan setiap hari.

Bocah itu tidak tahu, anak-anak kota yang berkemah itu juga sering singgah di rerindangnya. Mereka berceloteh betapa menyenangkan menjadi anak gembala atau petani bunga, yang mereka temui di sekitar kemah. Anak-anak kota itu merasa iri karena tidak setiap hari bisa bergaul dengan hewan-hewan. Serta menghirup udara sehat dan bersih di lereng bukit. Anak-anak kota itu berkhayal kalau besar nanti ingin jadi petani, peternak sapi dan punya rumah yang dekat dengan sungai dan bukit. Bukan di pinggir jalan raya tempat debu-debu knalpot berterbangan seperti rumah mereka di kota besar.

Musim berikutnya bocah yang bercita-cita menjadi anak kota tak lagi terlihat. Mungkin sudah benar-benar meninggalkan desanya. Sementara anak-anak kota masih terus berdatangan ke desa mereka. Mengisi ruang batin agar kalau sudah besar nanti tak lupa menginjak bumi.

*** ***

Musim terus berganti. Membawa cerita dari setiap persinggahan. Manusia, hewan, angin, hujan, petir, atau udara pembawa hangat dan dingin. Pohon itu terus menyimpan kisahnya. Dari hari kehari. Musim ke musim. Tahun ke tahun.

Dan bila saat musim dingin tiba. Alam menjadi sunyi seketika. Musim dingin adalah musim terberat bagi sahabat-sahabatnya. Manusia dan sebagian hewan seperti kuda, sapi dan lainnya. Mereka bekerja keras untuk tetap hidup di bekunya alam. Namun musim dingin ibarat musim pergantian kulit bagi pohon-pohon seperti dirinya. Saatnya beristirahat. Berpuasa. Bahkan sebagian hewan seperti beruangpun memilih beristirahat dan tidur panjang selama musim yang berat ini. Mereka membentuk sarang dan lubang perlindungan. Dan terus tidur sepanjang musim dingin.

Perut mereka sebelumnya di isi sekenyang-kenyangnya sebelum memasuki masa puasa.

Desa itu seperti desa mati yang menunggu ajal. Hanya sesekali kereta kuda petani atau peternak melintas menyusuri sunyinya alam. Pohon itupun sendirian. Ya ini adalah musim kesendiriannya. Tak ada bocah bermain-main di antara dahannya. Tak ada petani, penjual alat rumah tangga atau anak gembala yang numpang berteduh sambil mengajaknya ngobrol. Ataupun mengadukan nasib buruknya seperti yang dilakukan pengembara yang pernah singgah di musim gugurnya beberapa waktu lalu. Ataupun sepasang muda mudi yang berantem dan berkasih-kasihan di depan hidungnya. Membuatnya jengah, takut bahkan tersipu.

Semua sahabat sibuk mengurus dirinya di musim beku. Pun dirinya harus memanfaatkan musim ini untuk beristirahat. Agar kembali berguna menemani manusia, hewan dan alam semesta yang tentunya akan kembali singgah mengisi hari-harinya yang tak pernah beranjak dari tempatnya berdiam. Pohon-pohon tak pernah pergi. Setia di setiap tempat bertumbuh. Manusia atau hewanlah yang kerap membawanya pergi dari tanahnya. Dari akar-akarnya. Dari kampung halamannya.

*** ***

Kini senja tiba. Udara makin gigil. Ranting-ranting tampak kering dan memutih. Terselaput kapas-kapas putih yang jatuh dari altar langit. Tak memberi kehangatan seperti matahari sahabatnya yang mampu memberi hangat. Meski kini menampakkan wajah suram kelabu. Atau rembulan malam yang lewat cahaya lembutnya mampu menerangi padang rumput sunyi itu menjadi berbinar-binar. Menghangatkan malam disaat matahari terlelap.

Pohon itu terus merenta. Melintasi musim-musim. Hangatnya musim panas, bekunya musim dingin, indahnya musim semi hingga dramatisnya musim gugur yang memisahkan dedaun di tubuh dan ranting yang menemaninya selama ini.

Ranting-ranting itu ikut kesepian tanpa daun. Tapi tak pernah meninggalkan tubuhnya. Ranting-ranting itu tetap di tempatnya. Sesekali anak ranting memang tak kuat menahan badai. Lalu patah dan jatuh dari pelukan. Dari tubuh pohon itu. Menyadarkan dirinya memang hanya sebatang pohon yang menunggu takdir. Namun setidaknya tubuhnya sempat memberi setetes bahagia bagi sahabat sesama alam dan juga manusia.

Pohon itu mengantuk. Dan tertidur di tengah guyuran salju. Berharap masih ada esok untuk bertemu matahari yang akan membangunkan dari gigilnya mimpi.

Pohon itu teringat sang pengembara yang kehilangan perempuannya. Bocah kecil yang ingin ke kota. Anak-anak kota yang ingin hijrah ke desa. Dan sepasang sejoli yang tak tahu untuk apa cinta tumbuh diantara mereka. Pohon itu berdoa agar mereka yang pernah menitipkan kisahnya di setiap musim, menemukan kebahagiaan di perjalanan berikutnya.

Pada akhirnya semua sahabatnya harus tetap melangkah. Menuju nasib. Menantang takdir yang telah digariskan.

Pun dirinya. Meski hanya sebatang pohon…

 

 

Bahwa sesuatu yang kita cintai bukanlah satu-satunya alasan mengapa kita memilih jalan hidup yang sudah kita pilih saat ini

_kutipan dari seorang blogger kompasiana. (maaf lupa namanya)

Lintang Pulang

Rumah yang sendirian selalu menantiku pulang. Hanya aku temannya. Dan hanya dia temanku.

 

Dengan bersedekap, Lintang tersuruk berlari ke arah warung kecil di pinggir jalan. Hujan menghentikan sebagian aktivitas di jalan yang semula ramai. Matanya menatap toples-toples kecil yang berjejer rapi di sampingnya. Tak ada yang menarik minatnya. Roti yang terbungkus plastikpun tak memancing seleranya. Padahal perutnya terasa lapar. Perih. “Ah, sepertinya maagku kumat nih,” keluhnya menahan nyeri. Di depannya hujan makin deras. Semua orang berlari mencari tempat berteduh.

Warung ini tampak sepi. Hanya ada bangku kecil tempat dia permisi untuk duduk tadi. Pikirannya melayang ke rumah. Rumah yang sudah lama ditinggalkannya. Sejak kepergian orangtuanya, dia memilih untuk tinggal di asrama tempatnya kuliah. Lintang tidak takut sendirian di rumahnya yang kini berubah sunyi. Namun hatinya tak mampu menepis bayang-bayang almarhum orangtuanya. Semua kenangan masa kecilnya mengisi seluruh ruang di rumah itu. Mereka cuma bertiga. Keluarga besarnya jauh di luar kota.

Pada saat kematian orangtuanya yang mendadak karena kecelakaan pesawat, Lintang selama dua minggu di temani beberapa kerabatnya. Tapi tentu keluarganya tak mungkin menemaninya terus. Mereka punya kehidupan di daerahnya masing-masing. Dalam hal apapun dia sekarang harus membuat keputusannya sendiri tanpa masukan dari orang tuanya. Hidupnya kini miliknya seorang. Tak ada lagi bunda yang selalu mencemaskan keputusannya untuk berpetualang dari gunung ke gunung, rimba ke rimba. Atau saat dia memilih gadis yang di sukainya. Tak ada ayah yang rajin mengkoreksi waktu belajarnya dengan ketat. Disiplin adalah harga mati!

Dalam kesehariannya sebenarnya Lintang terbiasa sendiri. Ayah bunda pekerja keras. Hingga dia sering ditinggal sendirian. Tapi hubungan mereka normal dan penuh kasih. Rasa kesepian tak sepanjang hari dia lalui. Apalagi dia juga sibuk dengan kuliahnya. Saat hari kerja, rumah itu menjadi sendirian di tinggal para penghuninya. Saat malam barulah mereka kembali berkumpul. Mengisi keceriaan di setiap ruangnya. Saat-saat seperti itu amat dinikmati Lintang.

Kini apa lagi yang ditunggunya? Tiap pulang dari aktifitas luar rumah meskipun hari libur, tak lagi di jumpainya senyum bunda. Juga ayah yang suka menggodanya bila malam minggu masih nongkrong di rumah. Syukurlah masih ada Rasta, hewan kesayangan sebagai hadiah ulang tahun dari seorang gadis yang pernah dekat dengannya. Seekor anjing pudel yang lucu dan pintar. Hanya Rasta temannya. Kalau dia pergi, seorang anak tetangga dengan senang hati dititipi Rasta. Dan Lintang tak pernah bisa pergi berlama-lama.

Sampai akhirnya di titik tertentu, tiba-tiba Lintang merasa tak mampu lagi menahan rasa kehilangan. Memilih pergi dan tinggal di asrama dengan dua orang teman sekamar. Asrama itu terletak kira-kira lima ratus meter dari kampusnya. Rasta dia berikan ke anak tetangga yang menyambutnya dengan suka cita. Tinggal di asrama membuatnya nyaman karena ramai dengan teman-teman sebaya. Mengobati kesepiannya. Tapi tak ada yang tahu, setiap malam Lintang terpaksa menyembunyikan rasa rindunya pada anjing kesayangannya. Hingga nyaris tiap hari dia menanyakan keadaannya lewat sms pada anak tetangganya. Baginya Rasta bukan lagi sebagai sahabat terdekatnya kini, namun juga bagian dari kenangan paling pribadinya.

Rasta ibarat seseorang dari masa lalunya. Si dia yang kini memilih hidup sebagai calon biarawati di sebuah kota nun jauh dari ibukota. “Selamat jalan, cinta. Kau tahu, aku tak pernah melupakanmu. Meski keajaiban itu tak pernah datang diantara kita. Jurang itu terlalu dalam untuk kita lalui.” Hidup adalah pilihan yang menuju takdir di muaranya. Dan setiap keputusan yang kita ambil di masa kini, akan mengubah bukan saja masa depan kita tapi juga orang lain yang terkait.

Sejak kepindahannya ke asrama kampus, rumah peninggalan orang tuanya tak terurus lagi. Lintang menguncinya dan tak mengizinkan kerabatnya menjenguk. Karenanya biasanya dia yang memilih menginap sesekali di rumah kerabatnya. Dia juga tak peduli dengan kondisi rumahnya. Dibiarkannya begitu saja. Sebulan lagi dia selesai kuliah. Setelah setahun meninggalkan rumah, Lintang berharap perasaannya lebih netral dan realsitis. Hingga mampu kembali lagi ke rumah masa kecilnya. Rumah itu benar-benar sendirian kini. Terakhir kali memandang halamannya, wajahnya membeku. Tak ada air mata. Tapi hatinya basah.

Kadang dia merasa malu memiliki jiwa yang agak melankolis. Sebagai pemuda yang tengah beranjak dewasa, harusnya tak mudah larut dalam aneka kenangan. Dia merasa harus setegar ayahnya. Pemuda harus berani bersaing untuk tetap eksis. Berani hidup bukan berani mati. Mati hanya untuk membela kehormatan keluarga atau bangsa. Itu juga harga mati, selain kedisiplinan! demikian doktrin sang ayah ditanamkannya sejak dia masih di bangku sekolah dasar. Hingga dia harus berjuang menepis rasa sesal mengapa saat itu dia tak ikut pergi dengan orang tuanya. Kalau tidak, tentu dirinya saat ini masih di sisi orang tuanya dalam pesawat yang naas itu. Bersama pergi menuju keabadian.

Tak akan ada lagi seorang Lintang yang kesepian di dunia yang dimatanya tak lagi benderang. Jiwa halus ibundanya yang juga melekat di jiwanya, membuat Lintang merasa tak mampu  benar-benar menjadi seorang petarung hidup yang mudah menantang takdir seperti harapan sang ayah. Aku ternyata cengeng, bisiknya suatu hari di telinga anjingnya. Saat itu terdengar dengkingan halus bernada protes. Rasta pasti tak sependapat, batinnya tersenyum. Ya, dirinya masih tetap anak ayah yang memilih hidup ketimbang mati bunuh diri karena tekanan psikis. Namun juga tetap anak bunda yang masih mampu menangis diam-diam untuk sebuah kehilangan.

”Dingin, dik?”, sapa penjaga warung ramah. Lintang tersenyum. Jemarinya sempat menggigil.

’”Mari ke samping sini saja, lebih hangat. Kalau di depan warung kena tampias hujan lho”

”Biar saja bu, sebentar lagi sepertinya berhenti kok. Saya tidak lama, mau cepat pulang. Takut keburu sore.”

Kini hujan mulai rintik-rintik. Tak jauh dari warung itu ada jembatan flyover. Banyak orang berteduh di bawahnya. Terutama para pengendara motor. Lintang memutuskan kesana. Setelah mengucapkan terimakasih, dia berlari kecil kearah jembatan. Tapi di tengah jalan tiba-tiba hujan menderas kembali. Dia mempercepat larinya. Di bawah jembatan flyover, segala wajah dia temukan. Semua tampak tak sabaran. Motor-motor berjejer rapi seperti toples kue di warung tadi.

Lintang memilih duduk di pinggiran yang bisa diduduki. Sekelilingnya wajah-wajah asing sedang mengisi waktu tunggu dengan caranya masing-masing. Ada yang sibuk dengan telpon genggamnya atau melamun. Seorang cewek cekikikan bercanda dengan temannya. Seorang ibu muda tampak sibuk, seperti sedang menginstruksikan sesuatu pada orang rumahnya. Beberapa orang lagi tampak memilih duduk terpekur sambil sesekali memperhatikan orang-orang di sekelilingnya.

Dua anak kecil menarik perhatiannya. Mereka tampak lucu karena berebut menghitung kendaraan yang melewati jembatan itu. Kedua bocah itu kelihatan tak acuh dengan kekesalan orang dewasa atas keributan mereka. Tetap asyik dengan kehebohannya sendiri. ”Ah, mulai berhenti nih. Aku pulang saja sekarang. Biarin deh basah-basah dikit”, ujarnya demi melihat hujan kembali reda dan menyisakan rintik.

Beberapa pengendara motor mulai bersiap meneruskan perjalanannya yang tertunda. Lintang cepat-cepat berlari kearah pembatas jalan. Sebenarnya beberapa meter dari flyover itu ada jembatan kecil. Tapi dia tak ingin membuang waktu. Maka dia nekad melompati pagar pembatas jalan yang mulai rusak. Kesal karena ujung jaketnya sempat nyangkut, Lintang menyumpahi warga kotanya sendiri sebagai orang-orang yang cuma mau menuntut ini itu pada pemda setempat. Tapi enggan merawat fasilitas umum yang di sediakan pemerintah. Lihatlah, telpon umum kadang hanya tinggal boxnya saja. Telponnya raib entah kemana. Mungkin ada yang iseng membawanya pulang.

Tiba di seberang, dia duduk di halte menunggu bis kota. Sesekali melirik jam tangannya. Hari mulai sore. Akhirnya dia memutuskan naik taxi saja. Hal yang kurang di sukainya kecuali bila sedang  bepergian dengan ibundanya. Naik bis kota adalah petualang baginya ketimbang duduk manis di taxi ber AC. Taxi yang ditunggunya tiba. Tanpa banyak pikir dia langsung naik agar cepat sampai kerumah. Ya, akhirnya dia memutuskan pulang ke rumah, sebulan sebelum wisudanya. Dan seminggu sebelum bulan Ramadhan tiba. Kesibukannya kuliah, dan menjadi guru  privat membuatnya sering pulang larut. Dunianya dia isi sesibuk mungkin. Jeda sedikit akan membuat pikirannya terbang ke masa lalu.

“Arah selatan ya pak”, pintanya pada supir taxi. Hari ini dia merasa letih dan lapar. Ingin cepat pulang ke rumah dan memesan makanan di kedai mungil nan apik ujung jalan dekat rumahnya. Dulu dia kerap menemani bunda atau kekasih masa lalunya menikmati strawberry shortcake sambil ngobrol atau membaca komik. Kedai itu memang hanya menyajikan buku komik sebagai bahan bacaan. Namanya saja kedai komik. Tapi kuenya enak-enak. Hatinya tiba-tiba berdebar. Hari ini dia pulang. Entah seperti apa rumah yang ditinggalkannya selama setahun ini. Pasti aku harus kerja bakti sendirian membuatnya kinclong lagi, pikirnya. Sepanjang perjalanan Lintang merasa seperti di bawa ke masa lalu.

”Maafkan Lintang, bunda, ayah. Tidak menjaga rumah kita. Malah melarikan diri dari kenyataan. Padahal semestinya segala sesuatunya belum tentu seperti yang kita bayangkan. Andai saja pikiran negatifku tak selalu mendominasi. Akhirnya aku kehilangan momen indah yang bisa di ambil hikmahnya setelah kepergian kalian. Aku pengecut, bunda. Ayah pasti kecewa padaku. Putranya tak sekuat yang dia kira. Tak mampu menepati janjinya sendiri saat mengantarnya pergi ke peristirahatan terakhir.”

Pikirannya sibuk berbicara. Bagaimanapun hatinya masih di rumah itu. Rumah yang didirikan orangtuanya penuh cinta. Yang kini diwariskannya untuk selalu dijaga. Taxi berhenti. Setelah membayar, Lintang tak langsung membuka pintunya. Tetap duduk sambil menatap ke arah samping. Dimana sebuah rumah berhalaman luas masih berdiri seolah tak sabar menunggunya membuka pintu pagar. Rumah itu bercat putih dan berpagar kayu seperti dalam dongeng. Kecil saja dengan lampu bergaya tradisional di ujung dekat pagar. Meski rumahnya berukuran kecil mungil, tapi asri dan halamannya luas.

Rumah ini saksi masa kecilnya. Saksi kebahagiannya. Saksi kepergian orangtuanya. Sekarang rumah ini pasti ikut sedih karena anak dari pemilik rumah ini juga ikut meninggalkannya setahun lalu. Dan baru sekarang kembali lagi. Rumah itu terlihat pucat dan sedikit kumuh. Meski masih terlihat asri. Halamannya tampak tak teratur. Rumput mulai meninggi dan banyak daun kering berguguran, seperti musim gugur yang tak pernah berhenti. Suram, dingin, namun tetap indah di matanya. Karena pernah ada tiga hati yang dulu mewarnainya.

Supir taxi berdehem, mengagetkannya. ”Ini rumahnya, dik? Benar?”, tanyanya melihat penumpangnya hanya melongo di kursi dan tak juga turun. Dia tampak khawatir. Apakah anak ini habis kabur? tanyanya dalam hati. Cepat-cepat Lintang membuka pintu. Supir taxi masih memperhatikannya. ”Rumah siapa sih itu, seperti belum pernah ditinggali, batinnya sebelum pergi meninggalkan pemuda itu sendirian terpaku. Memandang rumahnya seperti mencoba mengingat kenangan yang tersisa di setiap sudutnya.

Dengan perasaan yang entah apa kini, Lintang perlahan membuka pintu pagar. Jalan di lingkungannya tampak sunyi. Para tetangga sepertinya memilih berdiam di rumah sehabis hujan. Rumah itu seakan tak sabar menyambutnya. Rindu pada mantan bocah nakal yang dulu suka mencoret-coret dindingnya dengan spidol. Menggambar dirinya sendiri atau pahlawan dalam cerita komik-komik kesayangannya.

Hatinya merasa bersalah melihat tanaman bundanya banyak yang layu dan mati. Sisanya seperti hidup enggan, mati tak mau. Mungkin belum rela mati sebelum pemiliknya yang sekarang kembali. Di sapanya satu persatu bunga kering, dan kolam ikan hias yang ikannya sudah tak ada lagi. Lintang sudah memberikannya pada orang lain sebelum pergi dari rumahnya. Ah, aku juga belum menengok Rasta. Mudah-mudahan dia masih ingat padaku nanti.  Hatinya menjadi bercahaya setelah ingat anjing yang pernah di peliharanya dulu.

Sekarang dia berdiri di teras rumah. Memandang kursi dan meja kecil. Dulu di beranda ini dia suka duduk-duduk sambil minum teh sore dengan orangtuanya disaat libur. Sebagai anak tunggal, hanya pada orangtuanya dia kerap menceritakan segala aktifitas dan masalah pribadinya. Sepasang kursi dan meja ini tampak berdebu dan kotor. Lintang menghela nafas. Ramadhan tahun ini dia akan melewatinya tanpa kehangatan keluarga. Dia akan menjalaninya seorang diri. Mempersiapkan segalanya sendiri. Sahur dan berbuka sendiri. Ah, tidak. Kesendirian itu hanya ilusi. Salah seorang sahabatnya yang tinggal ngkost di kota lain pernah berkata, “Jangan pernah merasa sendirian. Bukankah ada Tuhan yang selalu menemani di manapun kau sembunyi?. ”

Sekarang dibukanya pintu rumah. Dibentangkannya lebar-lebar. Bau lembab langsung menerpa hidungnya. Tak ada senyum bunda. Tak ada sapaan ayah. Tak ada siapapun. Juga salakan Rasta, teman kecilnya.

Tanpa sadar dia berteriak, entah pada siapa, ”Aku pulang…!”

Sunyi…

 

 

 

Kesendirian begitu mewarnai kehidupan. Tapi alangkah menyenangkannya karena kita bisa memilih sendiri warnanya._Billy Graham.

 

 

 

On somewhere the sunshines, Agustus 2011

Penyihir Hati

 

Cinta menghampiri kita dengan cara berbeda, namun tetap sama_IL mare

 

Biarawan Jose akhirnya menetapkan Bella sebagai penyihir. Gadis bermata dua warna. Abu-abu dan kecoklatan. Di masa abad tengah, sungguh mengerikan bila status penyihir sudah ditetapkan rohaniwan pada seorang gadis muda yang dikaruniai Tuhan dua warna mata. Hukuman terhadap mereka yang telah di tetapkan bersalah,tak lain selain di  bakar atau di gantung.

Bella hanya menatap dingin wajah biarawan Jose yang tertunduk sambil mengepit rosarionya yang dimatanya nyaris retak. Seretak hatinya yang kosong sejak pemuda masa lalunya itu meninggalkannya untuk menjadi pelayan Tuhan.

Di abad 12, dimana perang suci atas nama Tuhan tengah berkobar dimana-mana, para pemuda, pedagang, para biarawan, ksatria-ksatria, sampai para pangeran, putra mahkota dan raja-raja di seluruh negeri dan benua, tergerak memaknai panggilan tersebut. Membela tanah suci. Membela kedaulatan Tuhan. Biarawan Jose salah satu diantaranya yang terpanggil. Hanya bedanya, dia memilih mendekam di biara tua desanya, berdoa sepanjang malam. Berkhidmat pada kedamaiannya sendiri.

Jose tidak ingin melangkahkan kaki di tanah suci. Biar para pangeran dan para pemuda seantero negeri saja yang berjuang meregang nyawa disana. Jose punya tugas lain yang tak kalah pentingnya disini. Di desanya sendiri. Mengajak penduduk memerangi para penyihir atas perintah gereja. Mereka adalah para heretic yang didalamnya bersemayam iblis perusak iman. Dan menurut pandangan gereja dan masyarakat setempat, bahkan di seluruh negeri, gadis-gadis muda adalah target utama racun iblis. Sebagai rohaniwan, pandangan Josepun secara umum demikian. Namun segalanya berubah karena yang akan dihadapinya adalah seorang tertuduh penyihir yang amat dikenalnya. Seseorang yang dilindunginya selama ini dari tuduhan sihir akibat memiliki dua warna mata.

Kini, dihadapannya telah berdiri sang tertuduh dengan wajah pucat termangu. Dan sorot mata yang dingin mempesona. Wajah gadisnya dimasa lalu. Gadis tetangga masa kecil yang diam-diam dikasihinya. Mungkin dia adalah gadis satu-satunya yang pernah dicintainya. Kalau memang itu adalah rasa cinta antara lelaki dan perempuan.

Gadis bernama Bella itu masih menantinya. Menanti apa yang akan dilakukan biarawan muda dihadapannya  setelah penetapan status sihirnya. Jose sangat tahu apa yang ada dibalik wajah pucat itu. Apa yang dirasakannya. Saat dia sekali lagi menatap mata gadis itu, dia menahana nafas. Aura tak terima dan pembrontakan terpancar di mata yang bening itu. Kini wajah Jose mulai memucat. Diam-diam dia berdoa.

”Tuhan, izinkan aku memberikan yang terbaik untuk-Mu. Jangan biarkan hatiku meleleh dihadapannya. Aku berikrar atas nama-Mu, dia pernah menguasai hatiku dimasa lalu. Tidakkah Kau juga tahu, wahai Cahaya semesta?”

Doa kecil itu menggetarkan hatinya sendiri. Karena hanya terucap dihati.

Sebuah gerakan tiba-tiba, mengejutkan khusyuknya. Orang-orang berteriak. Tapi biarawan muda itu merasa terlambat. Gadis dihadapannya telah memotong urat nadinya sendiri dengan gerakan cepat. Ada pisau kecil yang luput dari perhatiannya. Tangan gadis itu memang tidak diikat atas izinnya. Darah meleleh dan menderas. Mata gadis itu mulai meremang seperti wajah langit yang kehilangan cahaya bintang. Biarawan muda itu tergesa mendekapnya. Orang-orang ribut saling berteriak.

”Biarkan saja dia mati!, toh dia akan di gantung juga.

Yang lain saling menimpali bersahutan dengan nada marah dan rasa tidak puas.

”Tidak!dia tidak seharusnya mati oleh tangan sihirnya sendiri. Dia harus mati ditangan kita. Dia curang. Diam-diam telah persiapkan matinya sendiri. Dasar penyihir terkutuk!”

”Kurang ajar dia, memilih mati sendiri tanpa melalui proses dari kita. Semoga Tuhan membalasnya di neraka. Cepat gantung saja dia! Gantung! cepat biarawan muda, gantung dia. Anda sudah menjadi pelindungnya selama ini.”

Di rundung rasa terkejut, Jose masih termangu saat beberapa pemuda tiba-tiba menyeret mayat yang masih hangat itu dari dekapannya. Beberapa tetua disitu mulai menyiapkan eksekusi yang terlambat dilakukan. Jose terduduk dibatu. Dekat tempat Bella-nya berbaring bersimbah darah. Ada hati yang tercekat. Dia tak percaya, hatinya begitu sakit. Sepedih saat dia harus menetapkan status penyihir bagi sang gadis tetangga. Keyakinan berbalut keraguan yang dirasakannya selama ini akibat isu masyarakat, terus mengedor perasaannya.

”Apa yang telah Kau lakukan padaku, Tuhan?”, bisiknya pelan ditengah hiruk pikuk persiapan eksekusi sesosok mayat yang pucat pasi itu. ”Inikah balasan-Mu karena aku tak menyertai para hamba-Mu ke tanah suci?. Jose cepat-cepat membekukan perasaannya, saat dirasakannya tangan seseorang memegang pundaknya. Pastor Julian tengah menatapnya. Raut wajahnya datar. Hati Jose melecos.”Matilah aku”, getirnya seraya bangkit berdiri. Dia tahu kesalahannya. Reaksi lambatnya menyikapi kejadian mengejutkan tadi.

Memilih duduk terdiam, sibuk sendiri dengan pikirannya ketimbang sibuk menyampaikan sesuatu yang menenangkan pada warga desa yang tengah emosi, adalah tak patut dilakukan seorang rohaniwan muda yang shaleh. Jose sadar itu. Dia bahkan tak berdaya saat beberapa pemuda tak sabar, dan mulai merebut mayat itu dari hadapannya, ketimbang menunggu dirinya bersikap.

”Pergilah ke biara. Tenangkan dirimu. Kau tampak tak karuan. Citra yang buruk di hadapan umat, kau tahu itu!”, kecam pastor Ju dengan suara dalam berwibawa.

Namun Jose menolak pergi. ”Maafkan saya, Bapa. izinkan saya menyelesaikan ini semua. Maafkan saya.” Pastor Julian memandangnya ragu, lalu membiarkan. Kini dia yang memimpin doa untuk jiwa-jiwa yang mati akibat tenung para penyihir di desa itu. Juga memohon Tuhan untuk membalas sekaligus memohon pengampunan bagi para tertuduh penyihir yang telah berkiblat pada iblis. Warga desa mengaminkan serentak. Dan eksekusipun dimulai.

Tentu Jose tahu, Bella tak lagi bisa merasakan kesakitan saat tali kasar itu menjerat batang lehernya. Namun melihat tubuh gadis itu melayang-layang tak jelas arah, hati Jose serasa ikut melayang. Dia tiba-tiba ingin berteriak mengutuk warga desanya. Mengutuk ketetapan gereja pada orang-orang yang dicurigai sebagai penyihir. Siapa lagi kalau bukan mata dua warna yang dianggapnya paling berpotensi menjadi pengikut iblis tersebut?

Dan pada akhirnya nasib Bella si gadis tetangga memang sampai juga pada takdirnya. Sejak kecil masyarakat sekitar sudah mengisolasinya karena matanya yang dua warna. Hanya Jose temannya. Hanya Jose yang mau mendengar curahan hatinya. Soal isu tentang Bella, Jose sejak lama memilih untuk tidak seratus persen percaya. Dan dalam pertemanannya dengan gadis itu, dia berharap mampu menemukan kejanggalan-kejanggalan. Namun akhirnya, justru dialah yang paling andil menjadi penyebab kematiannya. Dia tak mampu melindunginya terus menerus.

Benarkah Bella keturunan penyihir seperti yang selalu diisukan masyarakat desanya ? Selama ini tak sekalipun dia melihat gadis itu melakukan hal-hal yang mencemaskan. Kesibukannya hanya sebagai pengantar susu dan roti bagi beberapa warga keturunan bangsawan  yang tak terlalu merisaukan dua warna matanya. Begitu juga biara tempatnya berdiam, masih mau menerimanya bila gadis itu memerlukan sesuatu disana. Meski sebagian besar penghuni biara sering menatapnya curiga bila gadis itu tengah singgah disana. Bisik-bisik tentang perlindungan pastor Julian dan biarawan muda Jose terhadap gadis sebatang kara itu, telah menjadi isu panas di biara dan gereja setempat. Ada rumor, karena Bella masih ada hubungan kerabat dengan Jose, seorang biarawan muda yang paling cerdas dan terpercaya di kalangan gereja.

Namun ibarat gunung es, selalu ada saat tepat untuk melampiaskan segala puncak cemas atas dasar curiga. Dan Bellapun menemui takdirnya sama seperti beberapa penduduk yang anaknya terlahir dengan mata dua warna. Jose sadar, kedekatan dirinya dengan Bella selama ini membuat gadis itu masih dapat melanjutkan hidupnya hingga remaja. Mungkin kalau tidak, sejak kecil gadis itu sudah diseret ketiang gantungan atau dibakar.

Saat eksekusi selesai, masyarakat bubar sambil berdoa bisik-bisik. Menenangkan diri mereka sendiri. Pastor Julian mengajak Jose kembali ke biara, namun biarawan muda itu hanya menggelengkan kepalanya. Mayat Bella masih tergantung. Esok hari barulah beberapa pemuda akan menguburnya atas perintah pemimpin warga dan pastor setempat yang paling berwenang. Pastor Julian menatap Jose dengan penuh makna.

”Ikhlaskanlah dia, dia pantas menerimanya kalau memang itu yang dilakukannya.” ujarnya pelan.

”Tapi selama ini masyarakat tidak pernah bersikap ekstrim padanya, Bapa. Dan memang tak pernah ada bukti nona Bella melakukan hal-hal yang berbau sihir.”

”Tidakkah Bapa merasakannya?, Jose menatap wajah pastor Julian dengan wajah penuh duka berbalut penyesalan.

Tak mampu lagi disimpannya segala yang dirasakannya saat ini. Dia mempercayai pastor Ju yang juga selalu baik padanya dan Bella sering bercerita mengenai kebaikannya memberikannya pencerahan. Bagaimana mungkin lelaki paruh baya dihadapannya akhirnya memilih percaya isu masyarakat tentang Bella?”

Pastor Julian tak mengatakan apa-apa. Jemarinya sibuk menghitung bulir-bulir suci.

”Orang seperti kitapun kadang tak mampu melihat cahaya dibalik gelap, wahai anak muda. Kita semua tahu sebatas apa pengabdian kita kepada-Nya. Kita masih terus belajar apa itu pengorbanan. Kita manusia, bukan Tuhan. Dan saat ini  mungkin Tuhan sedang menunjuKkan ambivalensi yang terjadi disekitar kita….mungkin juga gereja. Kita hidup di jaman yang tak mudah menjadi diri sendiri, karena ada keterikatan tertentu. Dan kita memilih mematuhinya, bukan?”.

Pastor Ju tersenyum samar. Melangkah pergi meninggalkan Jose dengan segala kedukaannya sejak masyarakat akhirnya mendesak pihak gereja menetapkan status penyihir bagi Bella-nya. Dia pula yang kena tugas biaranya untuk memimpin hukuman tersebut.

”Izinkan aku berdoa sekali lagi untukmu, Bella. Doa khusus, dimana hanya Tuhan yang mampu mencernanya. Aku yakin DIA menerimamu dalam kerajaan-Nya. Biarlah padanya kutitipkan yang tak mampu kuberikan padamu selain persahabatan kita. Dan maafkan aku tak lagi mampu melindungimu.”

Sebelum pergi meningglkan sosok mayat yang masih tergantung-gantung dalam hening, biarawan muda itu menoleh sekali lagi. ”Siapapun dirimu, aku yakin kau gadis baik dan suci. Mereka tak berhak mengutukmu. Akupun mungkin tak berhak mengeksekusimu. Kau tak mungkin di neraka. Tidakkah kau tahu? Bagaimana mungkin kau ada neraka kini, saat dirimu masih berdiam di hatiku?”

Gemericik air sungai membawa duka sang biarawan muda pergi menyebrangi pembatas antara dirinya dan gadis masa kecilnya. Terus terbawa hingga ke tanah suci saat dia akhirnya memilih berangkat kesana.

Bukan untuk berperang dengan sesama. Tapi untuk mencari ampunan Tuhan bagi dirinya, dan semua orang yang dikasihinya.

 

How can you be in hell, when you’re in my heart?_Kingdom of Heaven

 

On somewhere the sun shines, June 2011

Ditulis berdasarkan inspirasi dari film-film dan buku-buku dengan setting abad pertengahan.

 

Jejak Kenang:

Helena Adriany

pengen banget marah sama penulisnya. coba si jose yang cerdas lebih bisa fokus untuk mencari bukti2 kepenyihiran spy “at least” Bella yang dikenalnya dan telah ditinggalkannya demi mengikuti “jalan” kebaikan bagi dirinya sendiri bisa terlep…as dari tuduhan penyihir hanya dikarenakan dua warna bola mata. memangnya penyihir ga pengen masuk surga juga kalo tau caranya. ckckck. kadang2 kita berpikir bahwa surga itu limited place. padahal seandainya manusia2 yang merasa suci itu tahu, bahwa mengelola surga itu capek kalo ga bareng-bareng. biar rasain nanti klo udah pada masuk surga, biar nanti pada kesepian di surga, karena makin banyak orang yang bisa sampai kesana surga bakalan makin seru. hehehe. aku kesel naaa sama si jose dan si penulis. hahahahaha. ternyata semedimu menghasilkan tulisan yang keren.
‎”Cinta menghampiri kita dengan cara berbeda, namun tetap sama_IL mare”
….aku ingat kata kata itu Yuri….

selebihnya….cerpenmu bagus….aku jd teringat keluarga Callas….yang pernah diceritakan Voltaire….

salam hangat

begitulah rasa ia lebih jernih lebih bening,selaksa nurani yang berpijak pada kebenaran ia takan terkalahkan,apapun bentuk intimidasi takan pernah bisa mengendurkan nurani….

KembaRa Gelungan Hitam maka pilihan adalah permintaan hati sebagai kepastian, meski ia datang dengan cara yang tak diduga

Sue Munggaran

‎>>
seperti masuk k negeri dongeng..penuh dgn setting yg benar2 fantastik..
ajaib banget tulisannya Sayuri Yosiana..

boleh ya..aq simpan dsini satu note aq..
…sprtinya catatanmu ini adlh jawaban dr note aq..he he hee

“suicide”
ada satu bagian di hidup ini yang pasti akan cocok dengan kita
dan,
ketika kamu sudah tidak bisa menemukannya kenapa tidak mengucapkan selamat tinggal saja

“mayatmayat itu akan mengeluarkan cahaya ketika malam tiba”

aq menyenangi tulisanmu..krn lain dr yg lain..=)
salam sayangku

SusyAyu Dua menggetarkan , dear sayuri…..semua dikemas dlm satu cerpen..luar biasa…!!! salam sayangku, muaaah!

Fidelis R. Situmorang Jelas sekali penindasan terhadap perempuan pada abad pertengahan ya… Semua yang dituduh sebagai penyihir dan dieksekusi adalah perempuan. : ((
Makasih untuk ceritanya, Ito Yosi…

Laurentius Santawan aku memetik satire dalam cerpen ini, bagus sekali penyampaian pesannya, wanita yang tidak mudah disihir lepas dari belenggu was-was. terimakasih Yosi telah berbagi cerita.

Frans Wibawa Tragedi takdir kehidupan hanya dapat dihadapi dengan tulusnya kepasrahan dan bijaknya pemahaman, bahwa semua itu bagian dari permainanNya (sanskrit: liila) yang dilandasi Misteri dan Cinta.

Awan Hitam

Tema yang diangkat seakan mengajakku ke zaman pertengahan, dimana teror dan inkuisisi dan tuduhan heretik banyak terjadi. Pernah aku menonton film tentang tema ini – tidak sama tentunya – maksudku settingnya- , sudah lama sekali, mungkin be…rdasar base true story, judulnya Stealing Heaven dengan mengambil kisah tentang percintaan Abelard dan Heloise, dimana Abelard adalah seorang yang berdasar keyakinannnya tak boleh menikah, namun mereka saling jatuh cinta. Namun memang sedikit berbeda, disini tak ada tokoh heretik nya…namun mengajakku untuk mengingat novel In The Name of The Rose..disitu di tunjukan tentang masalah heretik dan perisitiwa inkuisisi..serta tokohnya bernama Adso berhubungan dengan gadis yang tidak dikenalnya dan dia jatuh cinta kepada gadis itu..namun gadis itu ditinggalkannya karena pengabdiannya kepada gereja,,namun dia tak melupakan cinta nya kepada gadis itu sampai akir hayatnya…meskipun dia tak tahu namanya 🙂 Begitulah mengutip kalimat awal tulisan mba Sayuri bahwa …”Cinta menghampiri kita dengan cara berbeda, namun tetap sama_IL mare” Begitulah cinta melampau batasan batasan dan hadirnya adalah misteri.

Salam hangat ku mba Sayuri ..tulisan memikat

Gayo Dihardjo bagus, ini yg namanya melempar dua burung dg satu batu. Satu cerita darimu menyuguhkan imajinasi yg menarik, ttg cinta dan cinta, terima kasih yosi, aku menyukainya…

Ade Anita Zaibi hiks… yuriiiiiiiiiiii… cerpenmu bagus banget… amat menyentuh…lembut seperti biasa… tapi kali ini menggetarkan

Cepi Sabre bagus banget cerpenmu, yuri. mumpung tidak ada yang lihat, aku nangis dulu ya…

Anosuke Sagara nice story, yuri san… ! jd inget film nicolas cage yg season of the witch. tp ceritanya lebih bagus cerpen ini 😀