Pohon Impian

Aku adalah dongeng masa kecilku…

 

Pagi ini dia bangun. Setelah ibadah pagi yang membuaatnya sedikit fresh. Lalu membuka jendela kamar mungilnya yang kini terletak di lantai bawah. Dulu kamar itu milik ayahnya. Kini setelah beliau tiada, kamar itu jatuh ketangannya sebagai pewaris yang paling berhak. Sebagai anak kesayangan, kenangannya pada almarhum ayahnya memang tiada bandingannya dibanding saudara-saudaranya yang lain.

Kamar itu sempit. Ala negeri matahari terbit. Sama dengan kamar-kamar lainnya. Dindingnya di lapisi wallpaper yang tidak seluruhnya menutupi. Sisanya dibiarkan telanjang tanpa motif. Sesungguhnya dia selalu merindukan kamarnya sendiri yang terletak di lantai atas. Kerap disebutnya dengan loteng. Karena bentuknya yang mungil dan mirip trapesium. Sejak kecil kamar itu ditempatinya. Udara kotanya yang panas membuat kipas anginnya menggerutu karena di pekerjakan secara online terus menerus. Tapi dia tetap tenang mengisi hari-harinya di kamarnya yang mungil. Semungil dirinya yang tak kunjung tinggi, betapapun dia berusaha loncat-loncat tiap pagi.

Pada kawan kecilnya dulu dia pernah bercerita. ”Di lotengku ada banyak peri peri dan kurcaci. Mereka suka menceritakan dongeng-dongeng indah tentang gunung Fujiyama tempat kelahiran ayah. Atau danau indah tempat angsa-angsa berenang di tanah kelahiran ibuku.”

Cerita tentang kamar lotengnya tetap terbawa hingga kini. Sahabat-sahabat masa kecilnya yang kini telah sama-sama besar, pernah kembali bertanya tentang kamar loteng tempat mereka dulu suka berkumpul dan berceloteh bagai kawanan twiter. Dan dia kembali menceritakan isi kamarnya dengan keceriaan masa kecil.

“Di kamar lotengku yang sekarang, tetap sama seperti dulu. Ada kawanan peri dan kurcaci yang imut dan usil, Penyihir dan sapulidinya yang ajaib, Gadis Korek Api kesayanganku, Hansel n Gretel yang baik hati, Tom and Jerry yang lucu, Putri salju yang cantik, Cinderella yang akhirnya hidup bahagia, Thumbelina, Bawang Merah dan Bawang Putih, Cindelaras, Pinokio yang suka ngibul padaku, Totochan yang menjelma manusia, dan Putri Tidur. Juga masih ada meja kecil, tatami, ranjang, lemari baju, lemari buku, vas bunga peninggalan ibu, boneka, kucing, marmut dan kelinciku. Juga ada meja belajar/kerja, laptop, kipas angin, dan selimut bercorak bunga matahari dan kupu-kupu.” celotehnya riang, sambil menatap wajah sahabat-sahabatnya yang kembali melongo seperti saat pertama mereka mendengarnya dulu. Dia sama sekali tak mengerti mengapa isi kamarnya begitu menarik perhatian para sahabatnya, sejak kecil sampai kini.

Tapi kini kamar lotengnya tak lagi hanya berfungsi sebagai rumah-rumahan dongeng masa kecilnya yang indah dan penuh peri peri serta kurcaci. Namun sudah menjadi tempat lalu lalang kisah hidupnya yang indah dan getir. Juga tempat dia belajar merangkai rasa lewat bahasa hati yang tak mudah terucap.

Malam ini, dia mencoba menuliskan sebuah sajak kecil dengan bahasa yang sederhana. Karena baginya bahasa puisi selalu membuat keningnya berkerut. Besok adalah ulang tahun ayahnya yang sangat berarti baginya. Dia ingin memberikan hadiah ulang tahun yang tak mampu diberikannya secara langsung. Paling masuk akal adalah sebuah puisi. Mana mungkin dia membelikan sesuatu yang menjadi kesukaannya? karena ayahnya sekarang jauh di negeri Nirwana. Sebuah negeri yang tak mungkin lagi didatanginya. Negeri awan awan dimana hanya para Dewa yang tahu letaknya.

Dia termenung-menung menunggu inspirasi untuk puisinya. Hatinya gelisah. Keningnya mulai berkerut seraya mencoret hurut demi huruf. Sungguh, puisi baginya adalah keajaiban. Dia takjub dan angkat topi bagi mereka yang mampu menggandengkan huruf-huruf menjadi rangkaian indah dalam keterbatasan ruang dan waktu. Dia ingat Haiku, yang menempatkan penyair dalam dilemanya sendiri. Bagaimana merangkai kata agar tak jatuh dan terjebak menjadi aforisma belaka. Angkat topi buat para penyair! batinnya. Di matanya puisi ibarat lukisan abstrak dimana hanya pelukisnya sendiri yang mampu mendalami maknanya. Sedangkan dirinya hanya mampu melototinya tanpa mampu memahami lagi apa maunya sang pelukis, dengan corat coret yang dimatanya serupa dengan benang kusut.

 

*** *** ***

Namun jelang tengah malam puisi tak kunjung selesai. Matanya juga belum menuntut bantal untuk di tiduri. Pikirannya kesana kemari. Ide tak juga ditemukan. Akhirnya dia terkapar seraya menahan nyeri lututnya yang bermasalah. Dari kejauhan suara anjing mengonggong mengerikan. Sesaat dia merasa benar-benar sendirian. Padahal di ujung ada kamar kakaknya yang saat ini pasti sedang asyik bermimpi jadi malaikat maut. Demi teringat kakaknya, dia tiba-tiba merasa lega. Mulai besok kakaknya akan tinggal di Bandung sementara. Rumahnya yang mungil hanya akan di huninya dengan seorang sepupu seusia dirinya, dan seorang kerabat jauh yang sudah berumur. Dia tak tahu mengapa bila berjauhan dengan kakaknya, rasanya merasa bebas. Mungkin karena sebagai pihak yang lebih dulu di lahirkan, kakaknya selalu merasa punya otoritas untuk memperlakukannya sebagai asisten pribadi dengan menyuruhnya ini itu. Sumprit! dia sering kesal dibuatnya.

Maka dia memilih berkhayal saja mencari kata-kata yang tepat untuk diuntai jadi puisi, buat sang ayah yang selalu dikenangnya. Meski sesekali diselingi pertengkaran kecil yang kerap membuat air mata yang dibencinya langsung unjuk gigi. Sifat ayahnya yang penuh disiplin kerap membuatnya sulit bergerak. Maka jiwanya sesekali memberontak dan penuh protes sana sini. Kadang dirinya merasa hilang akal dan berencana menuntut sang ayah turun saja dari takhtanya sebagai kepala keluarga. dan digantikan ibunya yang penuh kompromi dan tepa selira. Semua kenangan itu kini dingatnya penuh penyesalan. “Hiks, ayah, aku kangen omelanmu”, isaknya pelan dibawah lukisan sang ayah yang menatapnya penuh awas. Baginya, mata ayahnya saat ini adalah semacam camera CCTV yang mengawasi segala gerak geriknya. Toh dia tetap merindukan masa yang telah lewat saat ayahnya masih disisi.

Setelah berkutat dengan diri sendiri maka sim salabim, abrakadabra, jadilah puisi idamannya. Apakah sang ayah yang jadi tujuan puisi itu akan merasa surprise?dia tak peduli. Yang penting puisi sudah jadi. Dan dia merasa hepi. Ditelitinya bait demi bait dengan kecermatan ba’ kritikus sastra. Dibacanya penuh hikmat.Tentunya hanya dalam hati. Meskipun begitu, dia berharap gemanya sampai ke alam sana. Melintasi semesta. Membawa serta rindunya yang sejagad semesta banyaknya. Untuk sampai ke negeri Nirwana.

Dibacanya sekali lagi bait bait puisi kebanggannya tersebut. Membuatnya heran sendiri dengan jiwanya yang melankoli. Seakan puisi itu menggombali dirinya sendiri

“Malam ini aku tak bisa tenang

Sebab besok ulang tahun ayah

Pasti tak elok bila tak ada bingkisan

Maka sebuah puisi kupersembahkan

Dariku yang selalu kau sayang.

Selamat ulang tahun ayah

Di negeri barumu yang gilang gemilang”

Sungguh, dia malu sendiri membacanya. Puisinya terasa lucu seperti buatan anak TK yang bercita-cita jadi penyair. Toh dia bangga karena puisinya sukses mencapai deadline yang dibuatnya sendiri. Disimpannya dalam hati. puisi special yang dibuat untuk seseorang yang lebih special dari martabak special kesayangannya.

Sambil senyum senyum sendiri, dia mulai memanggil hewan-hewan peliharaannya serta teman-teman dunia dongengnya. Lalu mulai berceloteh menceritakan segala impiannya. Impiannya begitu banyak. Hingga beberapa kurcaci menggodanya dari balik gordin, “Gugurkan saja beberapa dari mimpi-mimpimu, sobat. Ingat, dunia kecilmu bukan lagi dunia dongeng yang sesungguhnya. Didepanmu terbentang duniamu yang sesungguhnya. Kau tahu itu.”

Dengan penuh kecewa dia memetik satu persatu beberapa impian yang paling tinggi dari pohon mimpinya. Menyerahkannya pada Kinkin si kelinci yang penakut untuk menelannya saja. Lalu mimpi lainnya dia serahkan pada marmutnya yang pemalu. Agar ikut menelannya juga. Terakhir dia memetik satu impiannya yang paling mustahil, dan diserahkannya pada Molly si kucing yang moody.

Sesudahnya, tiba-tiba kamar lotengnya seakan menggemakan suara. Suara yang amat dikenalnya. Suara sang ayah. ”Mengapa kau gugurkan impianmu satu persatu, cinta? Bukankah kau pernah berjanji pada ayah akan menjaga pohon mimpimu? Pohon itu kau tanam penuh harapan. Kelak kau sendiri yang akan memindahkannya ke halaman pondok mungil impianmu di lereng bukit yang dingin berkabut. Agar tetap tinggi hingga membuatmu terpacu untuk tetap mendaki terus.”

Dia celingak celinguk mencari arah suara. Semua penghuni kamar dia kerahkan mencarinya di tiap sudut. Untuk kemudian melaporkan bahwa suara itu tak ditemukan. Mungkin telah lari karena Reno anjingnya tiba-tiba masuk kamar. Dia ingat sang ayah yang memang takut anjing. Di marahinya si Reno yang masuk tanpa permisi. Membuat suara yang amat dirindukannya langsung menghilang. Dengan sedih dia mengambil puisinya. Memberikannya pada periperi yang mengelilinginya, untuk diberikan pada sang ayah. Di bukanya jendela kamar. Sebelum meminta peri-perinya menuju tempat ayahnya berdiam, sebuah pesan dia tulis di bawah puisinya.

“Pohon mimpiku masih tegak berdiri, ayah. Meski kau telah pergi. Meski kurcaciku menyuruhku untuk menggugurkannya satu persatu, tapi kini akan kukembalikan ke puncaknya lagi. Suara ayah telah membantuku membuat pilihan. Menggugurkan mimpi-mimpiku, atau tetap meraihnya bagaimanapun hasil akhirnya…..”

Peri-peri telah pergi membawa pesan dalam bingkai puisinya. Dia kembali menutup jendela kamar. Berlutut dan berdoa.

“Duhai Dewa langit, izinkan ayah membaca puisiku. Agar beliau tahu, aku tak pernah melupakannya.

Titip satu rindu, utuh dan penuh!”

Dan sahabat-sahabat kecilnya serentak mengaminkan….

 

Dongeng dari masa kecil saya memberi makna yang lebih dalam ketimbang yang diajarkan kehidupan.

_Friedrich Schiller

 

“Ayah, aishiteru…”

Ditulis pertamakali bulan februari setahun lalu, mengendap n terlupakan.

 

Jejak Kenang:

Imam Setiaji Ronoatmojo

Yuri…ini sebuah fiksi yg indah, antara dunia mimpimu terpintal dg elok slalu dg dunia nyata. Satu benang halus, aku sebut benang sutra, terjalin jd satu kerinduan. Indah, otentik dirimu dan terimakasih sdh berbagi, selamat berkarya !

Danang Gondus

Mengendap? Satu tahun?? Wow, mungkin itu yg membuatnya nikmat. Fermentasi ide,, atau mimpi kali yah.. kalo konteksnya dirimu =D

Dibuat februari yah? Oh.. dreaming rock star!! adakah kamu sedang bermimpi menceritakan mimpimu padaku?

Menyadarkan bahwa dewi inspirasi lari dari Yunani?
Karena Mesir, sebayanya dalam legenda tengah ada kudeta?
Dia pindah dekatku dan bernama : Yuri!! What a great song!!!

Andre Birowo

Terimakasih yuri yb. Kisah ini mengingatkan saya pada masa kecil juga. Bermain-main dengan angin , ombak , bulan, bintang , tumbuh2an dan hewan2. Bermain-main dengan alam semesta di tanah papua yang masih indah, sunyi dan bening.

Ade Anita Saja

amat menikmati tulisanmu Yuri.. selalu lembut dan tuturnya hati-hati…menarik dan aku selalu suka tulisan yang ada cerita tentang ayahnya.

Widhi Hardiyanto Soebekti ‎:
ini dia,selalu menyajikan arti di balik semua catatanya
makna hidup memang sebenarnya sederhana namun pelik ketika kita bikin rumit
begitulah Yosi,tulisan yang baik selalu ada pesan moral di sana…
salam hangat Yosi

Sue Munggaran

Sayuri..
membaca ini aq jd teringat alm papah..=(
sbuah fiksi yg sangat indah n menyentuh..ditulis dgn kalimat2 yg cantik n segar dgn canda..seperti aq membaca komik dongeng..…makasih ya Sayuri..
sukses bwt mu
salam sayangku

Ardi Nugroho

lagi, pencerahan yang ‘super’ (pinjem istilahnya Pak Mario)
moral value terbungkus dengan manisnya dalam tubuh cerita mbak Sayuri.

pohon impian dalam kamarku
membacanya, aku seperti tengah menikmati sebuah lagu EVERGREEN yang kureplay dari sebuah piringan hitam penuh memorabilia.
seperti edelweis cintanya tak bisa luntur, seperti bunga tulip kecerahan dan kekencangannya mengikat dan mencerahkan hati.

Adi M-one S

tulisan yang indah Yosi,
fiksi yang sepertinya kita terbawa dalam realnya hidup kita yang masing2 punya Impian yang hendak kita wujudkan,

tampilan cerita yang bagus, kadang menghadirkan kejenakaan yang juga benar adanya dalam kepribadian kita.

Helena Adriany

waaaah. aku juga “manusia dongeng”, non. hahaha. hanya saja aku membuat ajaran dongeng masa kecil dan ajaran kehidupan nyata menelusur sejajar. tetaplah bermimpi saat kehidupan SEOLAH menunjukkan hal yang bertentangan. dongeng masa kecil it…ulah yang membuat hari ini kita hidup dengan mimpi2 indah yang SEOLAH tak mungkin terjangkau, dan menghadirkan visi diruang nyata kita. karena kita AKAN merealisasikannya suatu saat, anak manis. suatu hari nanti. dimana saat ini MUNGKIN tak ada seorangpun yang akan percaya. bahkan mungkin hanya akan tersenyum mengasihani mimpi kita. mimpi yang tak pernah hadir pada yang tak pernah memiliki mimpi di masa kecil. luv this so much. kau tau Yuri, puisi anak tk itu puisi yang sangat indah. sangat. sangat. sangat. terima kasih nona manis :) really thank you. you cheer me up.

Awan Hitam

Selamat pagi mba Sayuri :)Pagi ini kubaca tulisanmu, dan memang kusiapkan untuk bacaan pagiku. Namun mungkin tulisan ini begitu malam dan penuh imajinasi yang kuat. Bercerita tentang ayah yang dirindu dan dikenang selalu. Aku dapat membayan…gkan memilki ayah dan kenangan yang indah seperti itu. Membayangkan kehadirannya dan rasa cintanya pada diriku. Semua kurasakan dalam rasa dari tulisan ini.Bagiku kenangan bukanlah masa lampau, namun kenangan adalah kehidupan dan masa sekarang itu sendiri. Dengan kenangan semuanya hadir dalam kesekarangan. Ayah yang selalu ada dan keindahan yang selalu ada. Kehidupan adalah pemberian makna bagi diri. Jika kebahagiaan ada karenanya maka akan sangat berarti.Tulisan ini mengingatkan ku juga tentang Gadis Korek Api yang juga telah dikutip dari tulisan ini. Salah satu cerita terindah dan namun muram, bagiku seperti itu, Gadis korek api memilih mimpi dan kebahagiaannya ketika dunia begitu dingin baginya. Semuap pilihan manusia adalah kebahagiaannya dan keyakjinan dan kebahagiaannya pun adalah keyakinannya sebagai dirinya. Hidup selalu dalam loteng kecil yang berbentuk trapesium adalah keindahan. Bersama dengan bayangan sahabat yang selalu hadir. Dan selalu diri bisa menjadi dirinya dan diterima selalu.Begitulah yang kutangkap dalam tulisan mba Sayuri ini. Kekayaaan dunia batin adalah dunia manusia dan itulah yang membuat dunia berarti dan menjadi pantas ditempati. Bukankah kita tidak dapat membedakan mimpi dan kenyataan, saat kita bermimpi kita tidak tahu itu mimpi atau tidak. Selalu tak mudah dibedakan tentunya.

Salam hangat mba Sayuri
Selamat pagi dan semoga cahaya dirimu selalu bersinar.
Terimakasih berbagi tulisan indah mu ini.

Nuthayla Anwar

Aku pernah bilang, kalau Sayuri hidup dalam istana yang menakjubkan dalam dunia bahasa yang indah.Dan melalui tulisanmu, kami dapat mengagumi keunikan istanamu dan cantiknya duniamu.

John Ferry Sihotang

bahagianya. bahagianya dirimu, yosi. sungguh sebuah kebahagiaan kau pernah hidup dengan banyak kenangan mas kecil yang penuh warna dengan dongeng-dongeng kesukaanmu. jujur, aku tak pernah punya buku dongeng. aku hanya mendengar saja bahwa a…da kurcaci, ada peri-peri, ada putri salju. dan bentuknya kulihat dalam sulapan layar televisi. tak pernah kubaca atau didongengkan. kampung halaman sangat jauh dari kehadiran buku. hehehekarena itu mungkin imajinasiku lemah. sedang imajinasimu sudah merambah ke mana-mana. dunia sunyimu itu, loteng prisma itu, aku pengen melihatnya dan mendengarmu berdongeng langsung. hehehe. aku kira sahabat-sahabat mahluk dongengan itu pun sangat dengan si “dia” dalam fiksimu ini. kedekatan dengan alam dongeng itu pula membuatmu menuliskan ceritamu ini dengan sederhana, menghibur, sekaligus lugas.makasih sudah membagi ini ya peri kotaku. titip salam ultah buat ayah dalam cerita ini, dan titip rindu penuh untukmu, yosiku. hehehe.

Ade Afiat

imaji dari masa lalu yang masih tersimpan begitu rapih. Tumbuh subur dalam taman khayal hingga waktu memangkas semua ranting. dan pohon impian pun tumbang dihantam kenyataan yang dalam.

terkadang ingin memelihara impian pada ranting pohon. Pada daun yang hijau mimpi itu tersimpan. Berlenggak lenggok tertiup angin yang nakal. Begitu lembut membuai hingga mekepaskan segala kepenatan hidup yang getir. Menjadi bara yang memberi keindahan dalam setiap nyala api yang berkobar. Mereka teman yang menemani hingga waktu memberikan teman tanpa harus menyingkirkan teman yang lebih dulu hadir. Dalam hidup ini.

Tetet Srie Wd

Meskipun masih berupa penggalan-penggalan, sebutlah paragraf demi pragaraf, saya mengagumi cerita pendek ini; Pertama, deskripsinya jelas sehingga alurnya dapat diikuti dengan enak. Kedua, sekalipun belum kokoh betul namun di setiap paragra…fnya selalu memuncukan kekayaan baru yang bisa dikembangkan lebih lanjut. Ketiga, adanya sentuhan kultural yang dapat membangun inspirasi bernilai kemanusiaan dan budi pekerti. Hanya, jika melihat kekayaan yang ada, saya cenderung berharap bisa menjadi novel atau novelet setidaknya. Thanks, salam hormat.

Lia Salsabila

Ah say, selalu khas sayuri yosiana. Membacanya membuatku turut masuk di dalamnya. Aku jadi ingat masa kecilku yg hanya bisa menangis krn tak dibelikan buku2 spt dikamar mungilmu. Tapi aku juga membaca mereka dg meminjam ditetanggaAku juga s…uka bermimpi, impian yg hingga kini msh sebagian kecil bisa kuraih.Mari kita pelihara mimpi kita, karena ketika kita bermimpi kita sudah satu langkah memasuki gerbang nyataMiss u say

Bayang-Bayang

Aku tersesat dibenaknya. Tak ada jalan untuk kembali

 

Dia merasa benci pada bayang-bayang itu. Bayang-bayang yang selalu mengikuti kemanapun dirinya sembunyi. Seakan tak ada orang lain yang patut di hantuinya selain dirinya semata. Bayang-bayang itu sejak lama gigih mengikutinya. Kadang hilang entah dimana atau kemana. Dia kadang memikirkannya, kadang terlupa di dera kesibukan. Bayang-bayang itu datang dan pergi seenaknya. Seakan dirinya hanyalah tempat persinggahan yang tak punya hati. “Benar-benar brengsek! Desisnya geram tiap kali tak bisa tidur, di hantui bayang-bayang yang seakan dia sendiri mengenalnya, namun ah tidak! Sesungguhnya dia tak pernah mengenalnya.

Suatu malam saat dirinya fokus mengerjakan salah satu novelnya yang tak kunjung usai, bayang-bayang itu hadir kembali. Langsung menghancurkan konsentrasinya. Merusak moodnya. Oh, betapa dia ingin membunuh bayang-bayang itu seperti dia membunuh kucingnya seminggu lalu. Ya, si Cupu sudah mati ditangannya sendiri. Dia cekik sekencang-kencangnya. Matilah dikau, kucing setan!” teriaknya gemas. Entah apa salah si Cupu. Tinggalah si Duduls kembaran si cupu yang kini sebatang kara. Sedih tak terkira. Logikanya sebagai kucing belum mampu menangkap, mengapa majikannya yang kelihatannya lembut, begitu tega memisahkan dirinya dan saudara kembarnya. Kini Duduls hanya mampu berdoa bagi keselamatan si Cupu di alam baqa. Semoga damai sejahtera dan masuk syurga.

***   *****   ***

Hari ke hari dia masih terus mengerjakan novelnya. Jenis thriller dengan nuansa melodramatik yang pas-pasan. Tokohnya hanya empat orang. Mendominasi seluruh isi cerita. Tokoh utama adalah dirinya sendiri. Seorang psikiater yang juga penulis. Lalu dua kucing kembarnya yang manis dan imut. Serta satu lagi adalah, bayang-bayang yang selalu menghantuinya. Bayang-bayang yang sangat mengganggu. Dan jelas sangat dibencinya. Bayang-bayang yang entah. Yang seakan selalu mengejeknya apapun yang dia kerjakan, atau apapun yang dia tulis. Kesabarannya mulai habis. Sebuah rencana yang menurutnya briliant, mampir di benaknya. Menggedor pikirannya yang sejak lama liar.

****  ***   ***

Malam ini senyap. Denting jam mungil mulai bersenandung. Membuatnya sadar pada rencana yang terucap siang tadi. Rencananya bersama si Duduls. Hasil pikirannya yang lama mampir untuk segera direalisir.

”Saatnya tiba Duls. Sudah siapkah dirimu? Kita akan menghabisinya malam ini. Ingat ya, kau tak boleh melakukan kesalahan! Harga mati, tauk!.”  Si Duduls hanya mengangguk pasrah dengan wajah imutnya nyaris ketakutan. Ancaman dan tatapan mata majikannya itu amat mengerikan. Khas seorang pembunuh, batin Duduls gemetar. Meskipun begitu, Duduls tak pernah berniat meninggalkannya. Apalagi mengkhianatinya.

Purnama gelisah. Menanti fajar segera tiba. Desir angin seakan bisikan setan. Dia menyiapkan segalanya dengan cermat. Satu tabung kecil cukuplah, katanya pada si Duduls yang langsung mengaminkan penuh hikmat.

Dia mengingat-ingat adegan film salah satu agen rahasia kesayangannya. Aktor favoritnya dengan bernas berhasil menghabisi satu lagi ”musuh”nya. Musuh yang pernah jadi rekannya. Kesuksesan itu menginspirasinya sejak lama sebagai salah satu cara untuk mengakhiri bayang-bayang yang selalu mengganggunya. Hanya saja moodnya yang sedang bagus, sementara dia salurkan untuk menyelesaikan novelnya. Novel ini harus selesai! sebagai unjuk eksistensi dirinya yang sedang merintis karir sebagai penulis. Dia ingin namanya kelak berjajar anggun disamping penulis-penulis keren macam Stephen King. Dan berangan  tokoh-tokoh fiksinya kelak menjadi legenda baru menggantikan sosok-sosok dalam dunia nyata seperti Jack The Ripper, atau Elizabeth Berthoy. Sosok-sosok nyata yang terkenal mandi darah. Atau Ted Bundypun tak apalah meski kacangan, khayalnya sambil senyum mengerikan. Kucing kecilnya yang sedang memeperhatikan, makin gemetar. Manis-manis kok sadis dan gila, pikirnya polos.

Dengan menggendong si Duduls, dia memulai segalanya. Hidung Duduls yang tajam langsung mencium sesuatu. Apa ini ya, pikirnya heran. Jelas bukan bau Whiskas atau ikan goreng kesukaannya. Perutnya langsung bernyanyi mengingat makanan kesayangannya itu. Sudah dua hari dia tak diberi makan oleh majikannya. Sebagai hukuman karena bersin seenaknya di dekat sang majikan yang sedang sibuk melamun, mencari inspirasi buat novel thrillernya tersebut. Penyesalan Duduls tak ada habis-habisnya. Melebihi penyesalan atas kematian si Cupu kembarannya. Perut adalah segalanya bagi Duduls.

Dia mengelus ngelus leher kucingnya. ”Duls, bayang-bayang itu mulai datang. Sibuk mengejekku. Memerintahku. Aku akan segera menghabisinya malam ini juga. Kau siap?” Duduls mengeong pasrah. Tak pernah sekalipun Duduls melihat bayang-bayang yang dimaksud majikannya. Dimana gerangan? Diam-diam Duduls bersumpah, andai bisa menemukannya, akan langsung diterkamnya. Di cakar dan dimakannya seperti ikan. Agar tak lagi mengganggu sang majikan. Juga agar  dirinya tak selalu jadi sasaran keluh kesahnya. Karena kalau menyatakan kebosanannya, nasibnya akan berakhir seperti si Cupu.

Duduls terus mengawasi majikannya yang tengah sibuk menjalankan rencana. Mengakhiri bayang-bayang sialan itu. ”Segera mampuslah, kau!”, bisik majikannya dengan mata menyala. Duduls memejamkan mata.

Que sera sera!

*****   ***   *****

Sebulan kemudian di sebuah kafe baca, aku khusuk membaca berita.  Sebuah ledakan yang memecah keheningan malam. Menghancurkan beberapa kamar dan menewaskan banyak orang. Hatiku bersorak. Pusat ledakan terjadi disebuah kamar apartemen kecil di sudut kota. Aku menatap  foto korban. Seorang bocah remaja berparas dingin, tanpa senyum. Wajah yang amat familiar. Wajah yang memancarkan kekosongan. Disebelahnya kulihat gambar dua ekor kucing. Si Duduls dan si Cupu. Hatiku merasa lega. Rencanaku akhirnya sukses! Bayang-bayang yang kubenci tak lagi meghantui. Sukses kukirim ke neraka. Aku berteriak kencang-kencang sambil melempar koran ke udara. ” I hate uuuu!! Go awayyyy! Dont comeback againn!! Dont disturb meeeeee! Forever!.”

Disekelilingku orang-orang tak merasa terganggu atau terkejut dengan  ulahku. Tetap asyik minum kopi di kafe mungil itu sambil membaca dengan tenang.

Aku melenggang pergi dengan senyum kemenangan.

Akhirnya aku merasa bebas…

 

Mereka pikir aku gila. Tapi karena aku tidak gila, maka aku diam saja”_Old man and the sea (Hemingway)

 

Jejak Kenang on FB:

Awan Hitam

Apakabar mba Yuri :)Aku pagi ini menikmati tulisanmu. Begitu kuat menghadirkan suasana dalam uraiannya. Deskripsi dari tokoh dan tema yang dibangun membuatku ingin meneruskan dan ingin melanjutkan kebaris berikutnya.Bukankah apa yang kita …tahu dan kita rasakan adalah apa yang dapat kita rasakan dan pikirkan juga. Betapapun begitu banyak bayangan dalam diri, kadang selalu hadir diluar kendali kita.Dalam tulisan ini aku diajak bergerak akan dunia pikiran dan dunia subjektif serta apa yang dekat dalam keseharian. Kengerian dan kebencian bisa jadi muncul dari apa apa yang dalam diri. Begitulah pikiran membentuk realitas realitas. Aku yang nyata ataukah bayanganku yang nyata. Mungkin tak ada yang nyata. Mungkin siapapun juga tak nyata.Cerita ini mengingatkan salah satu cerita film yang kusuka yaitu ” Fght Club” di bintangi Brad Pitt. Dimana sang tokoh menghadirkan bayangan dirinya dan bayangannyapun meneror dirinya juga serta saling membunuh untuk menjadi nyata diantara salah satunya.

Begitulah realitas selalu apa yang dipikirkan. Mungkin aku adalah kucing yang bernama duduls dan aku telah membuduh diriku yang lain yaitu seekor kucing bernama cupu. Dan begitulah setiap hal, identitas bukanlah suatu yang sederhana. Mereka pikir aku gila, tapi aku tidak gila seperti kutipan mu dalam buku Old man adn the Sea. Ataukah mereka tak tahu bahwa mereka menciptakan aku dan memebentuk aku. Siapakah aku dan siapakah mereka?

Selamat pagi mba Sayuri, suka dengan ceritamu ini. Kusuka cara mu berdialog dengan kucingmu dan juga dengan dirimu dan bagaimana menghadapi teror bayangmu sendiri. Imajinatif.

John Ferry Sihotang

yosiiiii, imajinasimu liaaaaar. dan aku makin merasa cupu, seperti tokoh kucing cupumu itu, membaca ceritamu ini. tapi, janganlah kau bunuh bayang-bayang yang entah itu hehehe. satu kata untukmu: mantaaaaaap! :-)

Ardi Nugroho

meskipun aku tak sempat mebjadikan note ini sebagai sarapan, namun aku bersyukur masih bisa menikmatinya sebagai makan siang.

sajian yang istimewa. sejak dari intro, peak problem hingga endingnya, aku dibuatnya merasa nyaman dengan getaran2 kecil yang menghangatkan..
Mbak Sayuri begitu lihai meracik dan mengalirkan alur ceritanya.

aku terinspirasi juga.

Intan Nugraha Citos

yosi, ceritamu bagus dan mengalir dengan indahnya, saya menikmatinya.

pemotongan adegan demi adegan, kamu lakukan dengan tepat dan itu turut memperkuat bangunan ceritamu secara keseluruhan, karena itu meski kamu melakukan beberapa kali pemotongan, saya sebagai pembaca sama sekali tak terganggu.

terima kasih ya yosi, sudah berbagi cerita indah ini.

 

Penulis Yang Sakit Punggungnya

Penulis sepuh itu memijat kembai punggungnya dengan tangan yang dilingkarkannya ke belakang. Agak sulit memang. Namun demi mengurangi rasa sakitnya yang mulai mengganggu konsentrasi kerjanya, dipaksakannya tangan lemah itu memijat belakang punggungnya. Punggung yang sudah membungkuk dimakan usia dan derita hidup. Kacamatanya nyaris melorot. Wajahnya sedikit meringis, menahan nyeri. Baginya tak ada yang lebih mengganggu selain serangan periodik nyeri punggngnya itu.

“Akh, mungkin memang sudah saatnya aku istirahat dari aktifitas yang menguras segala sisi kehidupanku ini “, batinnya pasrah. Setelah agak reda diambilnya secangkir teh hangat buatan wanita yang sudah lima tahun ini membantu mengurus rumah tangganya. Ya, mereka hanya tinggal berdua di tempat sunyi itu. Agak dipinggiran kota, dan sedikit masuk hutan kecil yang asri.

Wanita yang biasa di sapa Sofia itu awalnya adalah penduduk desa tetangga. Usianya tak lebih sepuh dari tuannya yang berprofesi sebagi penulis ternama dunia. Wanita itu mengabdikan diri dirumah sang penulis, setelah bencana di kampung halamannya lima tahun lalu merengut habis keluarganya. Rumahnya dan masa depannya. Begitu pula dengan sisa keluarga lainnya yang juga lenyap di telan bencana. Wanita sepuh akhirnya hanya seorang diri. Tetapi kemudian seorang penulis yang tinggal tak jauh dari desanya kini telah mengangkatnya menjadi pekerja tetap yang bertugas mengurus segala keperluannya sehari-hari

Tak banyak yang diketahui wanita tua itu akan masa lalu sang tuan yang kesehariannya tak lain hanya berkutat dengan mesin tik tuanya dan setumpuk buku buku yang mengelilinginya. Ditambah lagi lembaran lembaran naskah yang seakan berlomba memasuki keranjang sampah mungilnya di sudut meja antik itu. Sang tuan yang sering di sapanya dengan tuan penulis, betah berjam jam memainkan jemarinya yang entah terbuat dari apa itu, hingga selama lima tahun ini tak hentinya jemari itu menari nari diatas mesin tik yang agaknya sudah layak dimusiumkan. Setiap pagi dan sore wanita itu menyediakan secangkir teh hangat kesukaan tuannya. Teh hangat beraroma lavender. Bagus untuk meredakan kepenatan yang mungkin menyapa konsentrasi kerja tuannya hari itu. Sang tuan juga harus rutin minum obat anti kejang. Dia pengidap epilepsi. Bila terlalu lelah tak jarang penyakitnya kambuh dan itu sangat menguras kesabaran wanita lembut tersebut. Penduduk desa sudah lama mengetahui penyakit sang penulis yang sering mereka juluki dengan si penyair. Sebagian dari mereka pernah menyaksikan saat sang penulis itu kambuh penyakitnya Beberapa diantaranya mengiranya kesurupan. Atau bahkan sakaw karena over dosis. Namun mereka tak pernah benar benar berani mengusiknya lebih jauh. Kehidupan sang penyair tua itu begitu misterius. Nyaris tak pernah terlihat berkumpul dengan penduduk sekitar. Mereka hanya melihatnya sesekali saat sang penyair menyiram bunga gardenia kesayangannya. Bunga gardenia yang subur itu adalah kebanggannya.

Baik wanita pekerja rumah tangganya maupun penduduk sekitar tak pernah tahu bagaimana penyair tua itu bisa hadir di desa mereka. Namun dari kasak kusuk yang berseliweran diantara penduduk kota kecil sampai desa itu, mereka akhirnya tahu sedikit tentang sosok misterius tsb. Beberapa wartawan dalam dan luar negeri sering bertandang mengunjunginya. Dan dari merekalah para penduduk mendapat banyak keterangan yang meliputi aktifitasnya. Ternyata dia seorang yang ramah dan sopan. Namun tak suka bersosialisasi pada masyarakat banyak atau memang tak ada waktunya untuk lakukan hal itu. Lambat laun para penduduk mulai terbiasa dengan kehidupan penuh rahasia sang penyair yang agaknya punya pandangan tersendiri akan gaya hidupnya. Hidupnya yang selalu di liputi kesunyian. Namun tak pernah menolak siapapun yang bertandang kerumahnya. Asal bukan dia yang disuruh meninggalkan rumah mungilnya yang lengang tersebut.

Kembali di teguknya sisa teh hangat yang tersisa, Lalu dia mulai merasakan jarinya gemetar. Akhirnya dengan langkah tertatih dia meninggalkan kursi dan mesin tiknya. Novelnya hampir selesai. Kali ini kisah diambil sebagian besar dari perjalanan hidupnya sendiri. Kisah yang diputuskannya sebagai tulisan terakhir sepanjang karirnya dari dunia menulis. Dunia yang telah menghidupinya sejak remaja. Dunia yang dicintainya meski sepanjang perjalanan menuju puncak kejayaannya sebagai penulis dunia, harus dilaluinya dengan pengorbanan kehidupan pribadinya. Rumah tangganya yang dibangun sebanyak tiga kali, semua kandas ditengah jalan. Anak anaknya yang berjumlah lima orang dari masing masing istrinya, tak ada satupun yang mengikuti jejaknya. Mereka tak suka dengan kehidupan dan profesi sang ayah. Sang ayah yang awalnya sempat membuat bangga saat menerima hadiah Nobel sebagai puncak prestasinya. Namun semua itu ternyata tak bisa membuat keluarga yang dibangunnya sesempurna hasil karyanya dibidang sastra.

Keluarganya kehilangan dia. Kehilangan sosok yang hangat dan normal. Hingga fondasi keluarganya mulai runtuh satu persatu. Sampai akhirnya mereka semua benar benar meninggalkannya. Membuat sang ayah semakin bebas bergelut dalam dunia yang tak bisa mereka fahami. Dan kini sang penulis memilih menyepi di kota kecil pinggiran kota Allamo, sebuah kota kecil di selatan negeri yang selalu tak jelas cuacanya itu. Saat badai salju, sang penulis makin mendekam di kamarnya yang sunyi. Hanya berteman dengan suara mesin tik tuanya. Desa itu damai , tenang tak tersentuh perang dunia yang tengah melanda seantero negeri. Sesekali terdengar sirine meraung di tengah kota sampai ke desa kecil itu. Namun sampai kini tak pernah desa dan tempat tinggalnya terkena serangan dadakan. Sesekali terlihat dari kaca buram di jendela kamarnya iring-iringan pengungsi dari arah utara menuju desa mereka. Agaknya desa mereka merupakan zona aman hingga sang penulis merasa semuanya akan baik baik saja.

Dan memang bukan perang yang membuatnya resah. Melainkan nyeri punggungnya yang makin menghebat. Wanita sepuh pekerjanya itu sesekali membantunya memijat selama sejam. Tak hendak pula penulis itu berobat kerumah sakit terdekat. Ataupun memanggil dokter desa. Entah apa yang ada dalam fikirannya hingga bisa bertahan terus menerus menahan sakit. “Kukira lebih baik tuan kedokter saja. Akan sangat mengganggu bukan kalau dibiarkan terus? “ , Saran wanita sepuh itu pada majikan kesayangannya suatu hari saat kembali memijat punggung sang tuan yang kembali kambuh.. Sang majikan diam saja, menarik nafas.

Suatu hari sang tuan memanggilnya. Diajaknya wanita tua itu duduk disampingnya.

“Aku ingin menyampaikan sebuah pesan penting untukmu. Hanya kau yang bisa kupercaya. Benarkan kau bisa kupercaya?“, tanyanya untuk lebih meyakinkan. Wanita tua itu cepat cepat menganggukan kepalanya. Perasannya terasa aneh. Dia merasa tak nyaman pada rona wajah tuannya yang tampak memucat. “ Sakit parahkah dia? “ benaknya bertanya.

Sang tuan masih menatapnya. “ Sophie, aku mau menitipkan sebuah surat wasiat. Tolong kau tandatangani juga sebagai saksi satu-satunya. Ini hanya surat wasiat biasa. Tak perlu sampai mendatangkan orang orang penting dari biro hukum yang sering membuatku emosi itu. Fahamkah dirimu? “

Wanita tua itu mengangguk. Ada sedikit raut cemas di wajahnya yang berkerut. Sang penulis itu tersenyum arif. “ Tak apa. Kau tahu aku ini tak suka ribut ribut. Tak suka banyak orang ikut campur dalam urusan pribadiku. Surat ini untuk keluargaku. Anak anakku. Tanpa ibunya masing masing tentunya. Tadi aku telah menelpon mereka semua, kelima anakku itu. Dan setelah mengetahui apa pesanku, mereka langsung menyetujui untuk berkunjung kesini. Menyelesaikan urusan surat wasiat ini. Dan karena aku enggan banyak kata, ditambah lelah pula, maka kau saja yang jadi perwakilanku ya. Kau cerdas dan baik. Usia tak menghalangimu untuk mengetahui persoalan penting ini. Dan aku percaya padamu selama ini. Kejujuran dan kesetiaanmu.” . Wanita sepuh itu tak mengatakan apapun untuk merespon amanat tuannya. Hanya didengarnya semua pesan tuannya dengan sepenuh jiwa. Tuan yang telah ikut membangun kehidupannya selama ini.

Setelah menerima berkas surat yang terlihat amat penting itu, dan sepucuk surat kecil berstempel. Sang tuan dibimbingnya memasuki kembali ruang kerjanya. Dipijatnya kembali punggung yang seakan sudah menjadi bagian dari kawan setianya beberapa tahun ini. Menemaninya dalam kesakitan fisik dan bathinnya yang sepi.

Punggung tua yang membungkuk. Yang telah ikut menanggung beban derita kehidupan pribadinya. Bahkan juga perjalanan karirnya yang tampak gemilang.

Lalu sang tuan mulai lagi mengetik. Sofia, wanita tua itu beranjak meninggalkannya untuk menyimpan wasiat tuan besarnya. Seraya menunggu buah hati sang majikan berdatangan kerumah yang sudah tiga tahun sepi dari suara sanak keluarganya. Ada rasa bahagia, akhirnya putra putri sang majikan mau juga berkunjung lagi ke tempat sunyi ini. Menengok sang ayah yang dia tahu sangat merindukan mereka. Wanita tua itu tak ingin memikirkan apakah karena surat wasiat itu, maka belahan jiwa sang majikan akhirnya bersedia datang kembali mengunjungi ayahandanya yang unik itu.

Suara mesin tik tak lagi terdengar. Sementara sore mulai menjelang. Saatnya dia menyiapkan teh hangat kesukaan tuannya.Juga untuk menyambut kedatangan putra putri sang majikan.. Di musim gugur itu hawa terasa mulai menusuk tulang. Dingin dan tajam. Namun diluar tampak damai dan tenang. Sesekali tampak kereta kuda penduduk sekitar melintas di jalan setapak tak jauh dari rumah tuannya.

Dimatikannya kompor yang mulai mendidihkan teh panas aroma lavender kesukaan tuannya. Lalu di potongnya roti gandum hangat buatannya. Sang tuan sangat menyukai tradisi minum teh sore hari yang menghangatkan jiwanya itu.

Tak lama kemudian terdengar suara kereta kuda beriringan dan berhenti tepat di depan rumah asri majikannya. Wanita tua itu segera menyambut kehadiran putra putri tuannya yang tampak lelah dalam pakaian gemerlap mereka yang ala kota.

Suasana tampak sedikit ramai. Menghangatkan kebekuan udara yang menusuk.

Angin musim gugur yang gelisah.

Mereka bertanya dimana sang ayah, dan tersenyum setelah mendapat penjelasan wanita pekerja rumah tangga ayahnya itu. “ Akh , masih seperti biasanya ayah kita itu. Bersunyi sunyi dalam kamarnya yang pengap dan penuh buku. Apakah dia baik baik saja? “, Tanya si bungsu yang tampak lebih ceria. Seorang wanita pengacara yang sukses. Sofia menganggukan kepalanya dengan hormat. “ Punggungnya selalu sakit. Hanya itu yang mengganggu aktifitasnya selama ini. “, Jawabnya pelan. Anak-anak sang majikan saling melirik satu sama lain, lalu mengangkat bahunya tanda maklum. Baginya wajar sang ayah berpenyakit punggung. Karena sepanjang hidupnya tak lain hanya duduk di kursi antik itu guna menghasilkan karya –karya yang memang gemilang. Yang dulu sempat membuat mereka bangga, namun justru berbalik jadi bumerang bagi kehidupan remaja mereka yang serasa dinomorduakan. Merekapun mulai beristirahat.

“Aku akan membangunkan tuan, nona. Pasti dia tertidur karena lelah mengetik seperti biasanya.” wanita tua itu berkata pada Irena, salah satu anak tuannya. Namun yang menjawab si sulung. Edu.

“Baiklah,” jawabnya acuh tak acuh. Edu seorang pemain sepakbola yang sedang merintis karirnya.

Mereka masih asyik membereskan barang bawaan dan sebagian mulai menikmati teh hangat dan roti gandum, saat terdengar jerit pilu wanita penjaga rumah tangga ayahnya. Terpana sesaat , lantas berlarian kelima putra putri sang penulis itu kearah kamar sang ayah di sudut rumah. Tampak sang penulis terkulai di meja kerjanya dengan mulut menyisakan busa. Di sampingnya terlihat dua botol obat yang entah apa itu, namun sudah tak ada lagi sisanya. Agaknya ayah mereka telah menelannya semua dengan sengaja untuk mengkahiri hidupnya yang sekelam karya-karyanya yang gemilang. Sang putra sulung dengan tangan bergetar hebat membuka sepucuk surat kecil yang di letakkan ayahnya di atas bingkai foto. Hatinya remuk seketika. Isi surat itu sangat mengharukan.

” Kutinggalkan hanya sepucuk surat tak bermakna, Bagi kalian belahan jiwa yang sempat tercecer di tanganku. Maafkanlah ayahandamu yang tak pandai berdamai pada dirinya sendiri ini. Titip Sofia diantara kalian. Serta naskah terakhir sebagai sosok diriku yang tak pandai meretas waktu. Salam ”

Maka denga rasa tak percaya mereka menjadi histeris. Ada rasa sesal yang tiba tiba menyelinap dalam hati masing masing. Sementara angin Oktober disenja kelam itu semakin kencang bertiup.

Mengugurkan segala rasa yang ada…