Sunyi…

Pada malam kutitip lupa. Untuk diolah jadi ingatan.

Tentang sebuah kisah yang tercecer. Sepanjang ingatan yang meretak.

Mungkin kelak akan benderang. Seperti bulatan gembung dilkejauhan.

Setia pada malam. Lembut tak menyilaukan.

Pada sore kutitip sumpah. Melarung ingatan yang menyampah tak bersalur.

Retaslah, dan biarkan lepas. Karena malam semakin wangi. Dan puisi semakin sunyi…

Biarkan rasa ini mengalir

Pada tapak tanganmu, kueja sebuah kisah. Meski gemetar, kutunjukkan kalau aku perhatian.

Ternyata terlalu sulit membaca namaku dipermukaan Meski tiap hari jemari kita bergenggaman.

Kupilih letakan tanganmu dihati. Agar kau tahu, ada aku di sudut manapun kau sembunyi

Tak ada yang aneh antara kau dan aku. Biarlah rahasiamu menjadi rahasiaku

Tetap kubiarkan rasa ini mengalir hingga sunyi mampu kau patahkan..

 

 

Surat Dari Jauh

Akeru-san, ogenki desu ka?

Aku memimpikamu, padahal tidak sedang memikirkanmu. Kamu di mimpiku saat tiada aku di mimpimu. Mimpi adalah sejuta ilusi dalam ruang kenang. Meramu gradasi warna dalam ceruk hati. Padat, menipis, melayang. Hingga senja tampak petang. Pagi tampak fajar. Mimpiku bukan mimpimu. Mimpimu bukan lagi milikku. Merembang warna hati karenamu. Kupatahkan sebait doa dalam sekali hentak.

 

Akeru-san, ohayoo gozaimasu

Kau lupa memadamkan lentera hati yang pernah kita nyala. Hingga ku tersuruk memadamkannya sendirian. Kau juga lupa. Aku adalah aku. Dengan sejuta impian di awan awan yang berkelana di negeri antah berantah. Ada banyak impian seperti bintang di langit. Atau periperi di hutan gelap. Begitu banyak impian hingga kugugurkan satu satu. Di sisa Oktober yang menjingga. Tanganku tak lagi menjangkau. Gelisah oleh ragu. Kalah menggelisah. Malam tak lagi sama…

 

Akeru-san, anata wa taihen goshinsetsu.

Aku duduk di tepi jendela. Memandang wajah bintang. Teringat saat kau berkata ” Memandang bintang-bintang, diantara titik edarnya, aku tahu yang mana cahayamu. Lihatlah, senoktah awan melintas. Dan bulan di balik jendelamu. Sepertinya dia sendirian.”

Tapi di taman langit, aku hanya memandang wajah malam. Ku tunjuk satu bintang. “Lihat, Akeru san, Nocturno kah itu? kaupun memanjat pohon cemara. Memetik satu bintang. Membungkusnya dalam origami. Untuk sahabat kita gadis cilik di balik bukit, katamu. Agar tetap bercahaya di sunyi yang senyap. Mengobati resah dalam sepi yang hening.

 

Akeru-san, daijoobu?

Kemarin aku terjebak di sudut kafe Shizuka. Sesaat sebelum lantunan inoru menyapa KamiSama. Terdengar sesayup gemerisik daun willow di jalan basah. Kebekuan udara melambat pelan. Getir mematikan. Aku ingin segera pulang. Rebah dalam peluk cinta. Namun langkahku terhenti di rimbun hana kirei berkelopak senyum. Aku terhanyut hangat dalam kehendak masa lalu.

 

Akeru-san, konichiwa. Watashi wa byooki desu.

Disini air melahirkan desir. Laksana epitaf kehidupan. Aku mendengar Kitaro Matsuri di relung malam. Setelah alunan keindahan menyapa telinga lewat sonata pathetique no.8 Beethoven. Menggigit rasa, lewat gemulai jemari yang menggigil riang. Di lembah dingin berkabut, dalam ilusiku, alam berselimut kapas-kapas yang berjatuhan dari altar langit. Kabut terus turun. Apakah kau juga merindukan kembali negeri kelahiranku yang berlimpah kehangatan?

Aku hening berlutut. Namun hatiku terbang ke tempat dia berdiam. Jauuuh di pesona pulau Indonesia bagian timur. Pantai segala pantai. Akkarena yang permai. Terakhir kudengar dia terdampar di pantai Banda Naira. Tempat berlabuh keindahan keabadian. Kutitip satu doa utuh penuh. Dalam kolaborasi agung jiwaku dan jiwanya.

Akeru-san, genki de ne.

Ingin ku hadirkan resital piano tunggal di suatu padang penuh cahaya. Begitu lama rasanya jari ini beristirahat, sejak kita saling canda di kuil Atsuka, Nagoya setahun lalu. Mimiko berharap kita hadir dalam jamuan teh di gubuk lecilnya. Aku hanya mampu terdiam. Tahukah Akeru-san? Kadang yang dirasa menjadi sulit diungkap lewat kata. Aku teringat paman Kenji, yang begitu marah, menemukanku berdiri terpekur dalam rintik hujan di pojok taman Zen. Menatap suiseki dalam sepi yang begitu dalam. Mungkin paman teringat sosok perawan dalam ikatan obi di pinggang berwarna biru. Yang mirip lukisan ukiyo-e dalam keagungan masa lalu.

Saat ini di kabut Lembang, petikan harpa tak mampu menembus ruang dan waktu. Saat mempelai Tuhan kidungkan lafaz mazmur, hatiku bersorak atas nama Tuhan. Berbaur dengan gema Adzan di selatan Lembah Karmel tempat kidung berkumandang. Di sebuah lereng yang penuh nyanyian malaikat. Gaungnya menggetarkan lamunanku akan nyanyian Tuhan yang aneka rupa. Kuteringat akan dia.

Sebuah perpisahan. Sebuah perbedaan…

Mengapa harmonisasi tak selalu singkron dalam ruang fikir kita? Dalam ruang rasaku, semua itu memecah melayang membentuk butiran ion-ion dan membawaku dalam perjamuan agung dimana Tuhan sendiri lupa untuk hadir. Hanya kutemukan sllhuet senyum yang akhirnya kubawa dalam ruang kenang.

Disanalah Akeru-san, segelas vanila latte ku aduk hingga membuih, meletup dan gelembungnya membentuk wajahku sendiri. Bersenyap dan bersoliter dengan waktu tunggu. Mengingatkanku tragedi Mishima lewat seppuku yang meretas doa. Ah, kita senantiasa mengambil jalan pintas atas nama masa lalu. Namun jejaknya menjadi begitu heroik saat sejarah mencatat keagungan dengan wajah cinta. Meski tangis belum lagi habis.

 

Akeru-san, ame ga furi soo desu.

Bolehkah aku selalu bercerita kepadamu? aku tahu, kau selalu mendengarkan meski tak terlihat. Dan aku tahu kau membaca pesanku meski tak berbalas. Mungkin aku akan pulang. Dan sebentar petang kita akan saling melupakan.

 

Akeru san, nanji desu ka?

Aku menyimpan segumpal tanya tanpa jawab. Di balik ayat-ayat yang tertawa. Ku menemukan wajah dusta. Saat jemariku meremas kata, aku dalam lautan doa. Telah kubasuh wajah Tuhan. Dalam hatiku rawan. Bukankah puisi tak selalu jawaban? Saat penyair melarung kata. Dan kita gagal mengeksekusinya sebagai epilog nyata. Aku masih dalam kidung mazmur, gemetar dengan sake dalam genggam.

Sungguh, sesungguhnya aku tak memahami bahasa puisi, namun mampu memahami bahasa hatimu.

Kau tak pernah tahu, selalu kutemukan bahagia usai membaca catatanmu. Seperti biasa mengintipnya diam-diam. Kau tak pernah tahu, aku selalu mengintip kisah-kisahmu. Akupun enggan bila kau tahu hadirku. Tulisanmu selalu menarikku duduk manis di tepian. Tak perlu tinggalkan jejak. Aku takut setiap jejakku terhapus saat pergi.

Karena aku hanya segumpal tanda-tanda kematian.

 

Akeru-san, konbanwa. Suzushii desu ne?

Di rumah ini. Aku memojok seperti bunga Krisan yang di awetkan. Sungguh aku masih mujur di banding Shima No Taniko dalam kisah Shike yang berjuang dalam kesia-siaan rindu. Sendiri menghitung jejak. Bagaimana denganmu? Masih kau telusuri jejak peperangan Gempei dalam Heike Monogatari?

Aku tetap sendiri bersolilokui. Menghitung jejak. Kabut-kabut mulai menipis. Seperti inoru melenyap bersama angin musim dingin. Entah, suatu hari kukatakan padanya,

“Hidup itu lucu ya, cinta? Kita patut tertawa dibuatnya.”

 

Aikeru-san, ima ikanakeeba. Sayoonara!

Kabut membisikan pesan pada embun. Di kapel aku berdoa dalam hening. Hanya satu yg kupinta.

Tuhan menyeka tetesan embun di kolam mataku, matamu.

Kini aku menunggu puisi yang menyapa malam. Malam yang menyapa mimpi. Mimpi yang menyapa engkau….

 

Untuk sebuah kedukaan yang sangat, kita cukup menangisinya dalam hati