Sekar Hanya Ingin Jadi Priyayi

Sekar bersimpuh memijat kaki simbah yang napak kelelahan setelah seharian bekerja menjadi kuli panggul hasil bumi di ujung pasar dekat alun alun kota. Namun senyum tulus yang membias di sudut bibir simbah sempat membuatnya lega. Ah, simbah ndak sakit toh? Cuma lelah, Ya kan mbah?” Batin Sekar dalam hatinya. Bocahlugu itu kian giat memijat tiap lekuk jemari simbahnya dengan sekuat tenaga. Keringat mulai mengalir membasahi keningnya. Simbah melihat itu. Diangkatnya tangan cucu tercinta semata wayangnya itu. Diusap usapnya penuh sayang.

 

“Sudah nduk, simbah sudah segeran. Sekarang kamu ayo makan dulu. Kamu juga capek kan?” ujar simbah penuh sayang. Sekar mengangguk tersipu. Disiapkannya dua piring nasi beras kualitas rendah yang agak keras itu. Beserta sambal terasi dan beberapa potong tempe beserta lalap daun singkong kesukaan simbahnya. Mereka makan penuh khidmat. Sebagai kuli panggul pasar, simbahnya yang meski sudah uzur namun masih nampak gesit itu, penghasilannya tidak menentu. Sekali manggul kadang hanya diupah tak seberapa. Hanya cukup untuk makan sehari. Tak heran kehidupan mereka berdua selalu prihatin. Sekar hanya bisa sekolah di SD gratis binaan kakak kakak mahasiswa dari kampus negeri d kotanya. Sekolah calon guru, ujar Diah anak tetangga sebayanya yang tinggal di sebelah rumah gubuknya.

 

Setiap hari dia harus bersekolah. Belajar membaca dan menulis. Serta ilmu lainnya. Sekar tak pernah mengenal sekolah sebelumnya. Usianya kini 6 tahun. Tak pernah masuk Taman Kanak Kanak. Dia hanyalah anak yang terlahir tak diinginkan. Tidak mengenal siapa orangtuanya. Ditemukan sebagai bayi mungil di sudut pasar pada suatu malam oleh pedagang yang nginap dipasar. Tak ada yang mau mengambilnya. Tak ada pula yang mau melapornya tentang kejadian itu pada aparat setempat. Simbah yang hidup sebatang karapun mengambilnya sebagai cucunya. Dan orang orang pasar tampak lega seakan terlepas beban mereka akan juga dikenai tanggungjawab atas kehidupan bayi malang itu selanjutnya. Maklum kehidupan ekonomi merekapun sudah kembang kempis.

 

Tak ada yang bertanya, bagaimana mungkin simbah yang miskin dan hanya kuli panggul itu mampu merawatnya? Karena selain hanya sebagai kuli panggul, simbah juga hanya bekerja sebagi buruh cuci. Maka adakalanya Sekar membantu simbahnya melipat baju2 yang telah di gosok simbah agar tampak rapi. Simbah tak mengizinkan Sekar ikut jadi pengamen jalanan seperti anak lainnya yang berkeliaran di jalan atau pasar demi rupiah. Simbah tak rela melihat cucu pungutnya itu kepanasan. Meski tak mampu membelikan apa apa, namun simbah berusaha memenuhi kebutuhan pangan sang cucu kecilnya tsb. Baginya itu saja dulu yang utama. Agar sang cucu dapat tumbuh sehat dan kuat. Maka simbah yang sudah uzur itupun makin giat mengangkat hasil bumi pedagang di pasar pasar demi rupiah yang tiada artinya bagi orang lain, namun sangat berarti bagi dirinya dan sang cucu tercinta.

 

Suatu malam saat mereka sedang santai di dipan kayu rumah reyot yang lebih tepat disebut gubuk itu. Simbah memandang cucunya dengan penuh arti.

“ Nduk. Kamu harus rajin sekolah ya. Agar bisa mentas nanti. Jangan dadi wong cilik terus seperti simbah iki. Syukur syukur kamu kelak bisa jadi priyayi . Hidupmu senang, simbahpun ikut senang nanti. Ya nduk? “

 

“ Inggih mbah, Sekar akan rajin sekolah. Tapi kata mba Icha, sekolahnya mau dipindah sama orang lain. Sopo iku, Sekar ndak tahu mbaaah. Mungkin orang gede. Gitu mbah kata ibunya Diah juga kemareen “.

 

Simbah terdiam sesaat. Merenungi kembali peristiwa setahun lalu. Saat dia mau daftarkan sang cucu ke sekolah gratisan di dekat rel kereta itu. Namun rupanya justru bertepatan dengan acara pembubaran sekolah gratis itu, lagi2 atas klaim sang pemilik area yang mengaku tak lagi bisa meneruskan proyek sosialnya karena hal hal yang tak jelas menurut daya nalarnya sebagai orang tak berpendidikan. Maka simbahpun pulang sambil menggandeng tangan sang cucu yang hanya bisa melongo tak mengerti.

 

Maka berita dari Sekar malam ini cukup membuatnya menahan nafas beberapa detik. Tak ada kata lain yang bisa diperbuatnya kecuali berdoa diam diam dalam hati, agar Gusti Allah dapat mencarikan jalan terbaik untuk kelanjutan pendidikan sang cucu tercinta.

Maka malam itu meski lelah seharian bekerja, simbah dengan khusyuk berdoa memohon agar Tuhan mau menolongnya. Demi sang cucu. Karena dia tak bisa berharap dari manusia, kecuali pada-NYA.

 

Namun di pagi itu, Sekar yang siap membantu keperluan simbahnya terkejut mendapati sosok kaku simbahnya yang bersimpuh di atas sajadah panjang yang kumal. Dibangunkannya simbah pelan pelan. Tubuhnya kaku, diam dan dingin. Namun parasnya tampak lembut dan damai.

Bocah itu bingung dan tiba tiba merasa takut. Ditinggalkannya simbah dan dia berlari ke tetangga depan rumah. Menggedor pintu rumah mereka dan menceritakan bahwa simbahnya kok seperti sudah mati. Kaget dan gempar seisi rumah tetangganya itu. Sebagian mengikuti Sekar kerumahnya untuk melihat simbah. Sebagian bergegas memberitahu tetangga lainnya. Maka tak berapa lama pun terdengar lengkingan pilu suara bocah kecil yang sangat berduka kehilangan orang yang dikasihinya. Para tetangga bertanya padanya apa simbahnya sakit sebelumnya. Namun bocah itu tak memahami apa yang terjadi. Tak sampai pada alam fikir kanak-kanaknya bahwa jantung simbah tak lagi kuat menahan kesedihan pada berita yang sempat didengarnya dari mulut cucunya semalam , saat dia baru saja menyampaikan harapannya. Bahwa sekolah gratis itupun bakal terancam dibubarkan lagi. Seperti tahun lalu.

 

Seminggu setelah kematian yang mengagetkan itu, Sekar hidup dari pemberian sedekah para tetangganya. Bergantian mereka memberinya uang ala kadarnya dan makanan apa saja yang kebetulan mereka punya. Namun tak ada yang mengajaknya untuk tinggal bersama dirumah mereka masing masing. Mungkin karena rumah merekapun tak lagi mampu menampung tanggungjawab satu nyawa yang akan resmi tinggal dirumahnya kelak. Sekolah gratis itupun memang bubar sudah. Tak ada respon dari pejabat setempat atas kelangsungan pendidikan anak anak golongan syudra itu selanjutnya. Semua sibuk mencari pembenaran dan tentunya saling mengkambinghitamkan satu sama lain.

 

Karena hal seperti itu sudah biasa terjadi di kota itu, maka peristiwa yang dialami Sekar dan juga sekolah gratisnya itu sering luput dari pemberitaan media masa setempat. Apalagi media saat ini lebih fokus memburu berita tentang para teroris yang entah siapa itu. Berita berita tentang mereka menjadi headline di semua media. Ditayangkan terus berulang ulang dan dikupas dari berbagai sisi di acara-acara di tivi. Seakan hanya itu hal paling penting yang jadi prioritas media untuk selalu diberitakan terus menerus ke publik.

Dan setiap orangpun seakan melupakan tugasnya masing masing. Sibuk sana sini membicarakan soal pengepungan di rumah teroris yang lagi lagi entah siapa mereka.

 

Sekar tak hirau pada segala hiruk pikuk tentang sepak terjang para teroris itu. Baginya mereka tak penting dan bukan keluarganya pula. Sore itu fikirannya sedang sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan seorang mahasiswi yang sedang memegang tanganya sambil memandangnya dengan senyum. Mba Ambar seorang mahasiswi diantara beberapa kakak-kakak mahasiswa yang beberapa waktu lalu sempat mengajarnya , kini tengah duduk dihadapannya. Menatapnya penuh empati.

Mereka bertemu saat Sekar yang tak sengaja bertemu dengannya di dekat pasar kopi. Sekar menyapanya malu malu..Tak terkira betapa pertemuan itu menjadi sangat mengharukan. Terlebih bagi Ambar setelah mendengar apa yang dialami mantan anak didiknya tsb. Ada perasaan menyesal yang tak bisa diungkapkan, namun dia tahu dirinya dan kawan-kawannyanya ikut berperan atas apa yang terjadi pada salah satu mantan muruidnya ini. Kepanikan dan kurang profesionalnya mereka dalam mengetahui kehidupan keluarga muridnya satu persatu adalah salah satu penyebab , mereka telat mendapat berita duka cita itu. Tapi setidaknya sekarang mereka belum terlambat untuk turut memikirkan nasib bocah yatim piatu ini, pikir gadis semester akhir itu. Kesempatan masih ada untuk membuat kehidupan bocah cilik itu menjadi lebih baik. Akan segera dirundingkannya dengan kawan kawan dalam komunitasnya nanti.

 

Maka lewat perjuangan para mahasiswa yang sebenarnya hanyalah anak anak rantau yang hidup ngekost itu, dapatlah diusahakan agar Sekar bisa diajak tinggal disalah satu tempat penampungan anak anak terlantar. Bocah cilik itu menurut saja. Baginya hidupnya mungkin lebih terjamin disana ketimbang seorang diri mengemis pada tetangganya yang juga hidup prihatin. Di rumah baru tersebut dia masih dapat makan minum, bermain dengan teman teman baru, dan yang baginya teramat penting adalah, dia masih dapat belajar lagi dengan gratis. Karena dibenaknya Sekar tak ingin jadi apapun selain ingin mentas sesuai pesan simbahnya sebelum meninggal mendadak itu. Sekar tak ingin jadi dokter, insinyur, pelukis ataupun sastrawan seperti yang dicitakan teman teman sebayanya. Dia tak mengerti semua istilah itu. Baginya hanya satu keinginan yang kelak akan dikejarnya. Menurut pemahamannya yang selugu simbahnya itu, ada istilah yang lebih akrab di telinganya sebagai wong cilik, yang pastinya akan menjadikan kehidupannya sejahtera turun temurun.Yaitu…menjadi Priyayi !!!

 

 

mentas : jadi seseorang yang tlah jadi/berhasil

dadi : jadi

iki : ini

inggih : iya

 

 

Adinda Dan Sakura Musim Semi

Kisah itu berakhir sudah. Pelan dan tenang. Seperti keheningan yang sengaja diciptakan. Tak ada yang bersuara melebihi teriakan macan kumbang. Atau sapaan burung hantu di malam gulita dengan aura magisnya. Adinda khidmat dalam diamnya yang merapuh. Tangannya sibuk menari diatas buku diary yang mulai hilang wanginya. Adinda sedang menentramkan genta hati yang berdentum dalam kebisuan malam. Aliran darah yang tiba tiba deras mengalir tadi perlahan mengurangi kecepatannya. Seakan jantung si empunya tak lagi kuat menjalankan tugasnya karena ada hati yang tengah berduka.

Dengan tekun digoreskan pena hitam dalam genggaman jari mungilnya diatas lembar lembar diarynya. Parasnya yang nampak tenang cenderung dingin terlihat sedikit memucat. Diambilnya segelas jus strawberry kesukaannya. Diteguknya pelan penuh nikmat. Dinginnya air murni berpadu dengan serat serat buah ranum asam manis tersebut sedikit meredam kekecewaannya. Isi gelas tinggal setengah, Dinda tak hendak meneruskan tegukan terakhirnya. Fikirannya yang gaduh riuh harus kembali di fokuskan pada kekinian yang sunyi. Tangannya kembali bergerak lincah menembus aksara kata kata yang baginya kali ini di torehnya dengan sepenuh jiwa raga. Sebuah kisah tentang gugurnya sakura setelah dua minggu sempat bersemi. Sakura yang sebenarnya sudah dia prediksi hanya akan gugur dalam dua minggu saja ,lewat terpaan angin musim semi yang tak kenal kata romantis meski bunga bunga justru bermekaran dalam masanya.

Sang cinta telah menetapkan sebuah keputusan penting dalam hidupnya. Memang tak lagi bisa diteruskan. Ada banyak kendala dimasa depan. Ada banyak etika diri yang harus dijaga. Ada banyak persoalan keluarga yang akan berkusut kusut diri diantara tumpukan jerami kehidupan pribadinya kelak. Ada banyak pengorbanan yang tadinya dengan optimis ditiupkan sang cinta dalam geloranya, namun seakan tiada lagi jejaknya kini. Sang cinta yang adalah pemuda pilihan hatinya. Pemuda dengan banyak perbedaan dalam segala hal. Dengan prinsip hidup yang bertolak belakang pula. Pemuda yang dikenalnya dalam sebuah komunitas beladiri, wushu yang ditekuninya sejak kecil. Wushu adalah hidupnya. Dan hanya wushu satu satunya yang menjadi kesamaannya dengan pemuda bermata teduh itu. Pemuda misterius yang tak banyak bicara. Yang selalu menyapanya setiap pagi dan petang di ujung dermaga kota. Dekat pelabuhan okinawa.

Adinda remaja mengakui itu. Entah mengapa dia mencintai pemuda itu. Sang cinta begitu jauh diatas sana. Memang hanya akan dilihatnya saja dari kejauhan kini. Diantara bintang bintang dilangit. Begitu banyak bintang dilangit. Namun Dinda tahu mana bintang kecintaannya berada dalam posisi edarnya. Yang mengedip padanya setiap malam. Yang akan tetap tersenyum tanpa harus ada lagi sapa mesra. Adinda tahu berat baginya melupakan segala kemesraan yang pernah terjalin. Yang begitu romantis dan penuh tata karma. Yang hanya ada dalam dongeng dongeng senjanya . Cintanya adalah ilusi yang terlihat, unik dan rahasia. Dan hanya dia sendiri yang tahu keberadaan hatinya. Kalaupun ada sebagian keluarganya yang merasakan aura asmara yang mulai tercum aromanya, tidaklah akan membuat hatinya gentar karena baginya segala keindahan dan kebahagiaan cintanyanya haruslah di nikmati berdua saja. Tak perlu diakui pada semesta.

Karena cinta yang hebat akan memancar dengan sendirinya. Cinta adalah kesaksian hidup itu sendiri. Begitulah cinta menurut versinya yang naif.

Sepoi angin malam yang membekukan hatinya perlahan mencair lewat alunan nada nada saksofonnya Kenny G yang melantunkan lagu lama Dying Young warisan kakak cowonya sang kolektor kaset, dan sekarag tengah belajar di negeri seribu pulau bernama Indonesia. Belajar budaya Indonesia. Negeri leluhur ibundanya. Lagu dari kisah cinta yang juga miris dan haru biru. Namun terselip masih ada harapan dalam kebahagiaan yang masih bersandar pada dinding dinding hati para tokoh utamanya. Lewat tuts tuts piano yang dikuasainya, gadis mungil itu suka memainkannya dikala senggang.

Jemari gadis itu masih sibuk menari menumpahkan segala emosi dirinya. Ada tetesan tetesan embun yang pelan bergulir satu persatu membasahi lembaran kertas birunya. Seakan membawa segala kepedihan hatinya agar tak lagi menetap dalam raganya. Maka dibiarkannya semakin menderas , bening dan mengkristal diatas aksara hitam yang tengah menatapnya dingin. Satu kata pamungkas telah ditulisnya sebagai ending dalam kisah cintanya yang manis namun berakhir singkat, “Sayonara Cinta,…Aishiteru…”

Ditutupnya lembar diary terakhirnya. Dipandangnya penuh hampa. Terbersit kata tanya dalam benaknya. Mengapa ada begitu banyak luka dalam hidupnya? Tak berhakkah dia bahagia? Mengapa bahagia enggan berlama lama temani hidupnya. Adakah hikmah didalamnya?

Didorongnya kursi berwarna abu abu di depan meja tulisnya. Perlahan dia membuka jendela kamar. Duduk diatas balkon kamarnya. Sinar bulan menerpa parasnya yang pucat bagai tak bernyawa. Tak tampak lagi binar binar indah sang rembulan menari dalam telaga bening itu. Sang Rembulan tlah ikut tenggelam dalam telaga matanya. Menenggelamkan diri dengan segala kerelaannya.

Entah sampai kapan dia akan duduk terpekur di kesunyian malam yang membeku. Ditepi pantai okinawa dengan anginnya yang tak jelas. Ada perasaan yang rasanya ingin diteriakkan gadis itu pada gelombang malam di samudra depan rumah pantainya. ” Mengapa kau cabut lagi tunas yang tengah bersemi, cinta ! “

Namun tak ada suara yang keluar. Hanya desau angin malam yang menyapanya berebutan. Seakan ingin menghibur perasaan sunyinya yang mencekam. Dan menghiburnya dalam nada riang nyanyian ombak di pantai seberang.

Terdengar suara jam dinding berdetak lembut..satu..dua…tiga. Jam tiga pagi. Adinda membiarkan dirinya tertidur berselimut udara malam. Berharap esok pagi sang mentari akan kembali terbit dengan membawa cahaya hatinya kembali.

Angela Dan Petualangan Kecilnya

Angela berlari-lari kecil menyusuri jalan setapak di sepanjang lorong kota tua di sudut kota Marbella yang cantik. Pipinya bersemu merah, kedua tangannya penuh dengan bunga-bunga liar yang dipetiknya di kaki bukit Kupu-Kupu, sebutan para warga kota untuk bukit kecil di sebelah utara. Matanya berkejap-kejap menahan pancaran mentari di pagi hari yang cerah itu.

Tiba-tiba, “aduh !” Angela menjerit kecil.

Kakinya terantuk batu-batu kerikil yang bertebaran di sudut lorong yang mulai melebar. Angela meringis. Bunganya berserakan di jalan, dan lututnya agak memar. Seorang kakek menghampirinya sambil menggunakan tongkat.

“Mengapa kau, Nak? Sakitkah? Coba kakek lihat apakah ada yang terluka.”

Sang kakek membantu Angela berdiri, wajah gadis cilik itu hampir menangis. Namun dia membiarkan si kakek yang baik hati itu menolongnya. Biasanya Angela tak suka ada orang asing yang memegangnya. Dia terkenal pendiam dan pemalu di lingkungannya.

Sang kakek tersenyum lega. Di usap-usapnya kepala Angela sambil berkata, “Tak ada luka serius, Nak. Hanya lututmu yang harus diobati sedikit. Agaknya kau hanya kaget tadi. Mengapa berlari begitu cepat? Tak lihatkah banyak batu-batu yang berserakan di sepanjang jalan ini?”

Angela hanya menggelengkan kepala sambil memunguti bunga-bunga liarnya. Ah, bunga-bunga ini tak apa-apa kok, batinnya sedikit lega.

Setelah terkumpul semua bunga yang dipetiknya di bukit Kupu-Kupu tadi, dia menganggukkan kepalanya ke arah di kakek yang masih berdiri di dekatnya. Angela tak lupa mengucapkan terima kasih sambil tersenyum tipis.

Sang Kakek tertawa. “Nah, sebaiknya kau berjalan saja kalau rumahmu sudah tak jauh dari sini, Nak. Di manakah rumahmu? Sepertinya aku belum pernah melihatmu di lingkungan ini.”

Angela menatap Kakek yang baru dikenalnya, sebelum akhirnya menjawab.

“Aku baru tiba di sini seminggu yang lalu, Kek,” jawab Angela malu-malu. “Aku menengok Tante Michelle yang baru melahirkan anaknya. Namanya Jessica. Kan sekolahku sedang libur.”

Kakek mengangguk-angguk.

“Oh, begitu ya. Jadi nanti kau akan melihat juga festival bunga di kota ini bukan? Pasti kau akan senang berlibur di kotaku ini. Ini kota kuno Nak, sudah berabad-abad. Mungkin sudah ratusan atau ribuan tahun berdirinya. Pernahkah kau dengar tentang zaman romawi, Nak?” tatap Kakek dengan senyum penuh kebanggaan.

Angela menganggukkan kepala. Kakek melanjutkan ceritanya.

“Nah, sejak zaman romawi itulah kota kecil kuno yang indah ini telah berdiri. Tentu saja kita semua belum ada waktu itu hehe. Kota ini pernah mengalami peperangan. Diperintah oleh raja dan ratu silih berganti. Banyak kesenian rakyat yang berkembang dari masa lalu yang tetap di abadikan di kota ini sampai sekarang,” jelas si Kakek.

Angela terpaku mendengarkan cerita Kakek. Ia senang akan cerita sejarah. Bahkan buku-buku sejarah milik kakaknya pun sudah dibacanya, meski ia belum memahami isinya. Usianya 12 tahun, namun minatnya amat banyak. Angela senang bermain piano, suaranya indah kalau bernyanyi.

Angela juga senang memelihara hewan seperti kucing, kelinci, dan kuda-kuda. Ia punya seekor kuda poni yang mungil namun tangkas kalau berlari. Namanya Jules. Angela pun punya seekor anjing pudel yang lucu dan suka tidur di bawah tempat tidur, di kamarnya yang mungil, di rumahnya yang terletak di ibukota.

“Kau belum mau pulang, Nak?” tanya Kakek membuyarkan lamunan Angela.

Angela tersenyum, “Makasih Kek ceritanya. Aku mau pergi lagi. Rumah Tante Michelle sudah agak dekat kok.”

Si Kakek menyipitkan matanya menatap Angela. Karena matahari pagi itu terlalu bersinar. “Nak, mengapa kau berjalan-jalan sendirian? Apakah kamu sudah minta izin?”

Angela memerah mukanya, menunduk sedikit. Sang kakek memandangnya agak cemas.

Kakek menghela napas dengan berat. “Baiklah, lain kali kau harus minta diantar salah satu keluargamu kalau mau jalan –jalan di kota ini ya, Nak?”

Angela mengangguk pelan, lalu pamit pada sang kakek sambil berjalan ke arah selatan seraya membawa bunga-bunga liarnya. Sang kakek yang baik hati itu masih menatapnya sampai menghilang di kelokan lorong jalan.

Angela berjalan sambil melihat lihat sisi sepanjang lorong kota yang berkelok-kelok itu. Banyak penduduk kota berjualan aneka kerajinan, seperti manik-manik yang membuat mata Angela berbinar- binar melihatnya. Dia teringat kalung manik manik pemberian almaruh ayahnya di ulang tahunnya yang ke sepuluh. Sampai sekarang kalung manik-manik itu masih tersimpan rapi di laci kamarnya. Jarang dipakai kecuali bila ada acara-acara keluarga. Angela tak ingin kehilangan kalung indah pemberian ayahnya tersebut.

Pandangannya berpindah ke sisi sebelah kirinya. Ada penjual es krim. Kerongkongannya terasa haus. Ia berhenti sebentar untuk membeli sebatang es krim rasa vanila yang dingin menyegarkan.

Sepanjang jalan lorong itu Angela menikmati pemandangan kehidupan penduduk kota yang serba sibuk. Kota ini cantik, jalannya berbatu-batu, penuh batu granit yang sangat kokoh. Kupu-kupu berterbangan, hingga wajar kalau kota ini dijuluki Kota Kupu-Kupu. Namun tak banyak pohon-pohon tumbuh karena kota ini sempit. Pohon-pohon hanya ada di sisi luar kota seperti di dekat bukit Kupu-Kupu.

Meskipun tidak ada pepohonan, di rumah maupun di kedai makan, banyak bunga geranium yang ditanam di pot dekat jendela. Indah berwarna-warni. Sehingga dari kejauhan, jendela kota Marbella penuh bunga aneka warna yang berjejer di seantero jalan.

Seorang gadis kecil kumal tiba-tiba menghalangi jalan Angela. Dia menatap Angela dengan pandangan ingin tahu.

“Kamu anak yang kabur itu ya?” tanyanya sambil menatap Angela dengan seksama.

Angela terkejut.

“Ya ya pasti kamu. Tadi ada dua orang yang bertanya padaku tentang anak kecil seusiaku yang pergi dari rumah tak bilang-bilang. Pasti kamu ya?”

Angela melongo. Dia merasa bersalah. Benar kata si kakek yang menolongnya tadi. Keluarganya pasti cemas dan mencarinya ke mana-mana. Karena dia memang menyelinap lewat pintu samping saat keluarganya sedang sibuk menyiapkan sarapan. Angela yang sejak dua hari lalu datang, sudah tak sabar ingin berjalan-jalan di seputar kota. Namun ibunya melarang ia pergi, bahkan sekedar bermain di seputar pekarang rumah Tantenya pun tidak boleh.

Sejak ayahnya meninggal, ibunya sangat ketat menjaga dirinya. Kecuali ke sekolah, Angela tak bisa lagi leluasa bermain jauh-jauh kecuali di lingkungan sekitar rumahnya.

Angela sangat suka berjalan-jalan. Meski pendiam dan pemalu, Angela termasuk anak yang cukup nekad. Ia berani memanjat pohon, dan membuat Ibunya cemas. Ia juga pandai bersalto di halaman rumahnya. Satu hal yang juga disukainya adalah mendampingi ayahnya, seorang pianis, untuk konser di mana-mana, termasuk memenuhi undangan ratu Negeri tetangga sebelah. Ada fotonya, lho! Ah, Angela selalu merindukan suasana dulu di saat ayahnya yang humoris itu masih ada.

Angela menyukai dunia petualangan yang dikenalkan Ayahnya. Betapa ia sedih karena kehilangan ayahnya. Ia merindukan dongeng-dongeng ayahnya, yang tidak mungkin didapatkannya dari ibunya yang hobi memasak, menyulam, dan berdandan.

Sosok gadis cilik kumal itu mengingatkan Angela pada sosok teman rahasianya di ibukota. Seorang anak pengemis yang hidup di jalan-jalan ibukota. Angela mengenalnya saat dia sedang belajar berkuda di tengah kota. Anak itu mencuri dompet mungilnya yang lucu dan warna warni. Angela tak marah saat anak itu akhirnya tertangkap. Ia merelakan dompetnya, dan bahkan memberi anak itu roti dan air minum. Entah mengapa Angela yang pemalu itu ternyata bisa juga berteman dengan anak lain tanpa canggung seperti yang dialaminya selama ini.

Mungkin karena dia ingin tahu lebih banyak tentang anak yang aneh itu, atau karena merasa tertarik dengan kehidupannya yang bebas, tidak seperti dirinya yang penuh aturan.

Sejak saat itu, keduanya berteman baik. Mereka suka bertemu secara rahasia di taman kota. Angela bertualang dengan teman barunya ke daerah kota yang kumuh. Hal ini tidak membuatnya risih, malah Angela merasa bebas merdeka. Sayang sekali seekor kuda hitam penarik kereta telah mengakhiri hidup teman Angela yang singkat. Angela tidak akan pernah melihatnya lagi.

Baginya itu tragedi kedua yang dialaminya, kehilangan orang yang mampu membuatnya tertawa gembira. Sang ayah dan sang teman. Diam-diam Angela kehilangan gadis pengemis itu, melebihi kehilangan akan kebebasan dirinya. Ia sering mendoakan sahabatnya, meminta Tuhan menyampaikan salamnya. Setelah itu, barulah Angela merasa lega, dan bisa tertidur dengan senyum.

Kini, seakan waktu bergulir ke masa lalu, tiba-tiba saja gadis pengemis itu sekan menjelma kembali di hadapannya. Keduanya tentu berbeda secara fisik. Gadis ini keturunan gipsi. Warga kota suka mengusir kaum gipsi karena dianggap pengganggu ketentraman kota. Anehnya, mereka sering pula dipanggil untuk menghibur masyarakat dalam acara-acara festival kota. Dan kaum gipsi biasanya suka menari, bersalto, akrobatik, atau sulap.

Angela tersenyum pada gadis cilik yang masih menatapnya tersebut. Rambut ikalnya tertutup bandana lebar yang warna warni. Pakaiannya tak jelas lagi warnanya. Matanya hitam kelam dengan bulu mata yang panjang dan lentik. Gadis ini manis sekali. Angela membandingkannya dengan dirinya yang berkulit putih kecokelatan, dengan rambut cokelat tua dari garis keturunan Eropa Selatan.

“Aku bilang kalau aku tidak kenal dirimu. Kamu pasti anak baru ya di sini?” tanya anak gipsi itu dengan nyaring

Angela mengangguk. Gadis itu mengajak Angela duduk.

“Kenapa sih kamu pergi dari rumah? Kamu dimarahi ibumu ya?” tanyanya.

“Tidak. Hanya ingin jalan-jalan. Aku selalu dilarang pergi jauh. Ibuku memang begitu,” sahut Angela kesal. Tanpa disadari Angela terus berceloteh.

Gadis itu mendengarkan curahan hati Angela tanpa menyela. Angela merasa nyaman didengarkan. Selesai bercerita, Angela menyodorkan sebatang permen berbentuk panjang. Gadis gipsi itu sumringah kegirangan. Mereka makan permen dan minum es krim. Berjam-jam dihabiskan mereka untuk mengobrol. Angela lupa kalau ia harus pulang. Ia terlalu sibuk menyusuri jalan kota yang berlorong-lorong dengan teman barunya.

Menjelang siang, gadis gipsi mengingatkan Angela untuk pulang. Tiba-tiba saja seorang polisi berbadan besar datang dan menangkap tangan Angela.

“Hei, kamu Angela ya?” tanya Polisi.

Tiba-tiba dari balik kerumunan, dua orang dewasa menerobos dan menghambur ke pelukan Angela.

“Ke mana saja kau, Angela? Ibunya menangis terus mencarimu. Kenapa pergi tak bilang-bilang?” tanya yang wanita cemas.

Sementara itu sang pemuda berbicara pada polisi. Oh, keduanya adalah kakak sepupu Angela.

Setelah menceritakan alasan kepergiannya, Angela diajak pulang. Sebelum pergi, ia ingin menyalami teman barunya. Namun tangannya ditarik oleh kakak sepupunya.

“Jangan sentuh anak gipsi itu. Mereka suka mencuri roti,” dengus kakak sepupunya.

Anak gipsi itu memerah mukanya, dan segera berlari menjauh. Angela merasa sedih. Dalam hatinya ia berjanji untuk mencari teman barunya kembali untuk minta maaf.

Sampai kepulangannya, Angela tidak pernah bertemu gadis gipsi itu lagi. Ia sudah berkeliling kota untuk mencarinya. Katanya orang gipsi sudah diusir keluar kota karena tentara Jerman telah memasuki kota. Angela tidak ingin larut dalam kesedihannya. Ia percaya bisa menemui teman barunya kembali suatu saat nanti. Namun tiba-tiba ia terkejut.

“Oh, aku tak pernah menanyakan namanya? Bagaimana aku bisa mencarinya kelak?” sesal Angela.

Angela diam kesal pada kecerobohannya sendiri. Ternyata ia telah melupakan sesuatu yang penting, meski kelihatannya sepele. Sebuah nama!

Catatan:

Ini adalah salah satu karya selama mengikuti kelas “Menulis Cerita Anak” di Sekolah Online Visikata dengan mentoring oleh Glory Gracia Christabelle.

Kisah Heidi cerita anak anak favoritku sejak kecil. Ini adalah salah satu cuplikan gambarnya yg diangkat disalah satu film nya. Kisah Heidi yg menginspirasiku utk mengikuti kelas menulis cerita anak di visikata.com

(Karya ini telah dimuat di Jurnal Perempuan Edisi 65, Januari 2010)