Kepada Hari Kemarin

Kemarin, di Kota Suci Nara.

Sesaat singgah, kutetes kata-kata.

 

 

Mungkin hanya ini yang kita bisa. Menenggelamkan kata-kata. Mematikan cahaya

Menjadilah kita air hening bening. Yang mampu membuka tabir. Siapakah kau dan aku.

Selebihnya menjadi tak penting.

“Apakah kau takut padaku?” tanyamu.

Kutengok hati. Hanya ada sepi. Mengapa harus ada hari itu. Yang bukan milikku, pun engkau.

 

Kemana hari-hari kemarin?. yang membuatku berlari menjauh mendekat.

Sementara kau menunggu di teras berandamu yang diam. Kau yang selalu bermeditasi pada sunyi.

Apakah setelah ini yang terjadi. Kita yang hanya sebatas bayang-bayang. Rapuh dalam bimbang.

Waktu tiba-tiba melambat. Menunggu yang pernah terlewat.

 

“Mengapa takut padaku?” lagi tanyamu. Kutengok jantung. Hanya ada detak yang guruh.

“Nikmati sunyiku,” bisikku, di detakmu yang gugup berdegup.

“Kau atau aku yang takut?” tanyaku.

“Kau”, jawabmu pasti. Aku dalam senyap. Haruskah takut menjadi sebab?

 

Demikian, malam mencuri kita punya cerita. Malam yang kini jadi milik kemarin.

Meninggalkan kita tersuruk. Tiba-tiba musim beku menjadi dini datang di hadapan.

Dan hujan. Kembali kemaraukah di musimmu?

Aku yang disini. Berharap masa depan di jalan-jalan penuh daun.

 

 

Kadang ada yang terlupakan. Mungkin harus. Sebab sunyi menjadi cemburu sejak hadirmu.

Aku yang senantiasa datang. Lenyap diam-diam. Hadir tanpa permisi.

Adalah aku yang milik kesunyian. Aku yang memintamu datang. Untuk kemudian meremukkan.

Mengapa masih kau katakan, “Datanglah kembali, bila kau letih melangkah.”

Lalu kau berikan kunci-kunci.

Menemukanmu adalah ketergesaan. Menemukanku adalah kekhilafan.

Aku yang disini. Sendiri dengan janji-janji. Seperti Akimi No Hidori di Biara Nara dalam dongeng malamku.

Menghadap Matahari. Menggulung Rembulan. Membakar bintang-bintang. Lalu melenggang pergi..

Hanya begitu saja. Tak ada ucap sayoonara.

Itu terlampau sakral untuk perpisahan sementara.

 

Kau yang disana. Tetap dengan berandamu yang diam. Kau yang memikirkanku. Berhenti sebelum nyeri bersama.

Kita adalah ombak yang menggulung ingin. Sesungguhnya akulah sebentuk kerumitan. Sulit dipikirkan.

Akan semakin rumit untuk kau kenang. Sunyi telah menjadi aku. Menjadi heningku.

“Aku suka “kerumitan”, yakinmu. Namun sesama hening dilarang menebar sunyi. Akan menjadi gaduh bertalu talu. Menghanguskan pikir. Melarung intuisi. Dan kita akan menjelma teror sebelum menggumul kenang yang setengah mati kita patahkan.

 

Harusnya kau tahu, tak perlu getarkan sunyi.

Cukup hadirmu warnai hati.

 

Kita mencipta hening. Melahirkan desir. Mengukir kenang. Memahat bait-bait.

Kita adalah puisi yang menjadi kemarin. Kini hanya sepasang asing yang mengasingkan kata-kata.

Tak lagi milik kita.

 

Kau musim gugurku

Yang daun-daunnya tak lagi ku punguti

Hujan terlanjur jatuh

Mengisi lubuk-lubuk kosong

 

Kepada kita yang pernah gugurkan beku.

bermuarakah?…

 

 

 

Kadang ada yang harus disampaikan, seperti katamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *