M A N G R O V E

Hutan Mangrove ya?

Mata Dinda menerawang. Menelisir jejak-jejak pantai. Seolah menyeretnya ke sebuah moment terlewat. Sejak lama Dinda dan Dara tertarik hutan Mangrove di pesisir itu. Desa mereka memang dekat hutan Mangrove. Dan tiap kali mereka ke pantai, laut langsung menghampiri lebih dekat.  Berbisik tentang hutan Mangrove. Camar-camar di atas kepala mendendangkan kemisteriusan Mangrove. Dan angin petang mendorong-dorog tubuh mereka kearah perahu yang megedipkan matanya dengan genit. Kami siap membawa kalian ke sana, kata dayung-dayung yang tengah bersender diatas perahu, berbaik hati.

 

Tapi mereka tak pernah pergi.Tak pernah jadi. Tak pernah berani…

 

***  ***

 

Di sebuah petang,

“Mari kita ke sana saat hujan reda, ajak Dinda memecah sepi. Tapi hujan kembali datang. Dinda dan Dara terus melamunkan hutan Mangrove. Mereka pernah melihat beberapa Wartawan menaiki perahu kecil ditemani seorang laki-laki yang mendayung. Lelaki itu terlihat seperti sedang menceritakan sesuatu tentang hutan Mangrove. Dinda dan Dara hanya bisa memperhatikan dari jauh. Selalu duduk di balik bukit memandang kearah hutan Mangrove yang terlihat anggun.

Di kelilingi hamparan air laut yang mengombak kecil.

 

Saat hujan usai,  petang makin merata. Mereka saling berpandangan. Isi kepala yang tiba-tiba sama. Hutan Mangrove. “Kami siap menghantar kisah!”

Keduanya berseru seraya melompati batu-batu. Namun kabut turun membutakan mata.

 

*** ***

 

Ketika udara diam, mata air terbawa arus. Terus menghilir ke hulu dan tak pernah menepi sedetik pun. Kadang ada yang terlupakan. Moment-moment di sebuah petang milik mereka.Yang udaranya gigil dalam hangat mentari yang sebentar lagi lelap. Kedua gadis itu berkisah tentang Negeri di atas langit. “Mungkin itu Negerinya Tuhan yang begitu tinggi. Mengembara hingga ke jantung kisah. Lalu kita kembali berkhayal tentang rumah pohon di hutan Mangrove. Bagaimana ya membuat rumah pohon di hutan Mangrove? Kita begitu terobsesi keluar masuk hutan Mangrove. Berperahu kecil dan berkeliling diantara ranting dan daunnya yang seperti puisi pagi hari. Meretakan ar payau yang lembut dan dingin.”  Mata mereka bercahaya. Seindah senja yang basah.

 

Suatu hari.

Dara menarik lengan Dinda di suatu petang yang bukan lagi milik mereka. “Tapi kita bisa meminjamnya sebentar. Barang sejam saja” ujar Dinda bersemangat. Maka, di bangku kayu yang kulitnya mulai mengelupas, keduanya saling berdiskusi. Merangkai rencana-rencana tak berkesudahan. Di selingi tawa, amarah, lengkingan dan senandung masing-masing. Mereka merasa amat puitis di petang pinjaman itu. Dan petang begitu sabar menunggui. Meski teram malam mulai mengusir keduanya perlahan. “Pergilah, mengapa kalian membiarkan petang terkantuk-kantuk disini?” Kata reruntuhan malam yang tampak galau.

 

Dan mereka beranjak pulang. Mengucapkan terimakasih pada petang yang mulai menghilang perlahan di hadapan.” Terimakasih sudah menemani dengan cahayamu yang teduh.” keduaya melambakan tangan pada sisa petang. Malam meremangkan akar pohon. Mereka gagal ke hutan Mangrove hari ini. Mereka terlalu lelah berdiskusi. Terlalu sunyi sendiri. Terlalu senja untuk pergi sendiri. Mungkin esok, ya esok. Maka perjanjian di antara hamparan ranting yang menjerit-jerit terinjak, mereka ikrarkan penuh hikmat. “Menelusuri hutan Mangrove. Kita tak akan melupakan janji kita kali ini. Musim dingin telah mencatatnya baik-baik. Seperti kedua Malaikat di kanan kiri kita.”, tulis keduanya di sebuah buku kecil seminggu kemudian.

 

*** ***

 

Desember mengirim pesan.

Dinda menutup buku kecil. Menyimpannya baik-baik. Membayangkan Dara juga tengah membacanya di tempat berbeda. Bukan buku yang sama. Tapi janji mereka berdua. Ke hutan Mangrove plus jadwal dan perlengkapannya. Semua tertulis di secarik kertas lusuh yang sudah mendiami lipatan kertas di buku mereka masing-masing. Sebelum pulang. Sebelum hujan datang. Sebelum hutan Mangrove menghilang, lima belas tahun kemudian….

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *