Lintang Pulang

Rumah yang sendirian selalu menantiku pulang. Hanya aku temannya. Dan hanya dia temanku.

 

Dengan bersedekap, Lintang tersuruk berlari ke arah warung kecil di pinggir jalan. Hujan menghentikan sebagian aktivitas di jalan yang semula ramai. Matanya menatap toples-toples kecil yang berjejer rapi di sampingnya. Tak ada yang menarik minatnya. Roti yang terbungkus plastikpun tak memancing seleranya. Padahal perutnya terasa lapar. Perih. “Ah, sepertinya maagku kumat nih,” keluhnya menahan nyeri. Di depannya hujan makin deras. Semua orang berlari mencari tempat berteduh.

Warung ini tampak sepi. Hanya ada bangku kecil tempat dia permisi untuk duduk tadi. Pikirannya melayang ke rumah. Rumah yang sudah lama ditinggalkannya. Sejak kepergian orangtuanya, dia memilih untuk tinggal di asrama tempatnya kuliah. Lintang tidak takut sendirian di rumahnya yang kini berubah sunyi. Namun hatinya tak mampu menepis bayang-bayang almarhum orangtuanya. Semua kenangan masa kecilnya mengisi seluruh ruang di rumah itu. Mereka cuma bertiga. Keluarga besarnya jauh di luar kota.

Pada saat kematian orangtuanya yang mendadak karena kecelakaan pesawat, Lintang selama dua minggu di temani beberapa kerabatnya. Tapi tentu keluarganya tak mungkin menemaninya terus. Mereka punya kehidupan di daerahnya masing-masing. Dalam hal apapun dia sekarang harus membuat keputusannya sendiri tanpa masukan dari orang tuanya. Hidupnya kini miliknya seorang. Tak ada lagi bunda yang selalu mencemaskan keputusannya untuk berpetualang dari gunung ke gunung, rimba ke rimba. Atau saat dia memilih gadis yang di sukainya. Tak ada ayah yang rajin mengkoreksi waktu belajarnya dengan ketat. Disiplin adalah harga mati!

Dalam kesehariannya sebenarnya Lintang terbiasa sendiri. Ayah bunda pekerja keras. Hingga dia sering ditinggal sendirian. Tapi hubungan mereka normal dan penuh kasih. Rasa kesepian tak sepanjang hari dia lalui. Apalagi dia juga sibuk dengan kuliahnya. Saat hari kerja, rumah itu menjadi sendirian di tinggal para penghuninya. Saat malam barulah mereka kembali berkumpul. Mengisi keceriaan di setiap ruangnya. Saat-saat seperti itu amat dinikmati Lintang.

Kini apa lagi yang ditunggunya? Tiap pulang dari aktifitas luar rumah meskipun hari libur, tak lagi di jumpainya senyum bunda. Juga ayah yang suka menggodanya bila malam minggu masih nongkrong di rumah. Syukurlah masih ada Rasta, hewan kesayangan sebagai hadiah ulang tahun dari seorang gadis yang pernah dekat dengannya. Seekor anjing pudel yang lucu dan pintar. Hanya Rasta temannya. Kalau dia pergi, seorang anak tetangga dengan senang hati dititipi Rasta. Dan Lintang tak pernah bisa pergi berlama-lama.

Sampai akhirnya di titik tertentu, tiba-tiba Lintang merasa tak mampu lagi menahan rasa kehilangan. Memilih pergi dan tinggal di asrama dengan dua orang teman sekamar. Asrama itu terletak kira-kira lima ratus meter dari kampusnya. Rasta dia berikan ke anak tetangga yang menyambutnya dengan suka cita. Tinggal di asrama membuatnya nyaman karena ramai dengan teman-teman sebaya. Mengobati kesepiannya. Tapi tak ada yang tahu, setiap malam Lintang terpaksa menyembunyikan rasa rindunya pada anjing kesayangannya. Hingga nyaris tiap hari dia menanyakan keadaannya lewat sms pada anak tetangganya. Baginya Rasta bukan lagi sebagai sahabat terdekatnya kini, namun juga bagian dari kenangan paling pribadinya.

Rasta ibarat seseorang dari masa lalunya. Si dia yang kini memilih hidup sebagai calon biarawati di sebuah kota nun jauh dari ibukota. “Selamat jalan, cinta. Kau tahu, aku tak pernah melupakanmu. Meski keajaiban itu tak pernah datang diantara kita. Jurang itu terlalu dalam untuk kita lalui.” Hidup adalah pilihan yang menuju takdir di muaranya. Dan setiap keputusan yang kita ambil di masa kini, akan mengubah bukan saja masa depan kita tapi juga orang lain yang terkait.

Sejak kepindahannya ke asrama kampus, rumah peninggalan orang tuanya tak terurus lagi. Lintang menguncinya dan tak mengizinkan kerabatnya menjenguk. Karenanya biasanya dia yang memilih menginap sesekali di rumah kerabatnya. Dia juga tak peduli dengan kondisi rumahnya. Dibiarkannya begitu saja. Sebulan lagi dia selesai kuliah. Setelah setahun meninggalkan rumah, Lintang berharap perasaannya lebih netral dan realsitis. Hingga mampu kembali lagi ke rumah masa kecilnya. Rumah itu benar-benar sendirian kini. Terakhir kali memandang halamannya, wajahnya membeku. Tak ada air mata. Tapi hatinya basah.

Kadang dia merasa malu memiliki jiwa yang agak melankolis. Sebagai pemuda yang tengah beranjak dewasa, harusnya tak mudah larut dalam aneka kenangan. Dia merasa harus setegar ayahnya. Pemuda harus berani bersaing untuk tetap eksis. Berani hidup bukan berani mati. Mati hanya untuk membela kehormatan keluarga atau bangsa. Itu juga harga mati, selain kedisiplinan! demikian doktrin sang ayah ditanamkannya sejak dia masih di bangku sekolah dasar. Hingga dia harus berjuang menepis rasa sesal mengapa saat itu dia tak ikut pergi dengan orang tuanya. Kalau tidak, tentu dirinya saat ini masih di sisi orang tuanya dalam pesawat yang naas itu. Bersama pergi menuju keabadian.

Tak akan ada lagi seorang Lintang yang kesepian di dunia yang dimatanya tak lagi benderang. Jiwa halus ibundanya yang juga melekat di jiwanya, membuat Lintang merasa tak mampu  benar-benar menjadi seorang petarung hidup yang mudah menantang takdir seperti harapan sang ayah. Aku ternyata cengeng, bisiknya suatu hari di telinga anjingnya. Saat itu terdengar dengkingan halus bernada protes. Rasta pasti tak sependapat, batinnya tersenyum. Ya, dirinya masih tetap anak ayah yang memilih hidup ketimbang mati bunuh diri karena tekanan psikis. Namun juga tetap anak bunda yang masih mampu menangis diam-diam untuk sebuah kehilangan.

”Dingin, dik?”, sapa penjaga warung ramah. Lintang tersenyum. Jemarinya sempat menggigil.

’”Mari ke samping sini saja, lebih hangat. Kalau di depan warung kena tampias hujan lho”

”Biar saja bu, sebentar lagi sepertinya berhenti kok. Saya tidak lama, mau cepat pulang. Takut keburu sore.”

Kini hujan mulai rintik-rintik. Tak jauh dari warung itu ada jembatan flyover. Banyak orang berteduh di bawahnya. Terutama para pengendara motor. Lintang memutuskan kesana. Setelah mengucapkan terimakasih, dia berlari kecil kearah jembatan. Tapi di tengah jalan tiba-tiba hujan menderas kembali. Dia mempercepat larinya. Di bawah jembatan flyover, segala wajah dia temukan. Semua tampak tak sabaran. Motor-motor berjejer rapi seperti toples kue di warung tadi.

Lintang memilih duduk di pinggiran yang bisa diduduki. Sekelilingnya wajah-wajah asing sedang mengisi waktu tunggu dengan caranya masing-masing. Ada yang sibuk dengan telpon genggamnya atau melamun. Seorang cewek cekikikan bercanda dengan temannya. Seorang ibu muda tampak sibuk, seperti sedang menginstruksikan sesuatu pada orang rumahnya. Beberapa orang lagi tampak memilih duduk terpekur sambil sesekali memperhatikan orang-orang di sekelilingnya.

Dua anak kecil menarik perhatiannya. Mereka tampak lucu karena berebut menghitung kendaraan yang melewati jembatan itu. Kedua bocah itu kelihatan tak acuh dengan kekesalan orang dewasa atas keributan mereka. Tetap asyik dengan kehebohannya sendiri. ”Ah, mulai berhenti nih. Aku pulang saja sekarang. Biarin deh basah-basah dikit”, ujarnya demi melihat hujan kembali reda dan menyisakan rintik.

Beberapa pengendara motor mulai bersiap meneruskan perjalanannya yang tertunda. Lintang cepat-cepat berlari kearah pembatas jalan. Sebenarnya beberapa meter dari flyover itu ada jembatan kecil. Tapi dia tak ingin membuang waktu. Maka dia nekad melompati pagar pembatas jalan yang mulai rusak. Kesal karena ujung jaketnya sempat nyangkut, Lintang menyumpahi warga kotanya sendiri sebagai orang-orang yang cuma mau menuntut ini itu pada pemda setempat. Tapi enggan merawat fasilitas umum yang di sediakan pemerintah. Lihatlah, telpon umum kadang hanya tinggal boxnya saja. Telponnya raib entah kemana. Mungkin ada yang iseng membawanya pulang.

Tiba di seberang, dia duduk di halte menunggu bis kota. Sesekali melirik jam tangannya. Hari mulai sore. Akhirnya dia memutuskan naik taxi saja. Hal yang kurang di sukainya kecuali bila sedang  bepergian dengan ibundanya. Naik bis kota adalah petualang baginya ketimbang duduk manis di taxi ber AC. Taxi yang ditunggunya tiba. Tanpa banyak pikir dia langsung naik agar cepat sampai kerumah. Ya, akhirnya dia memutuskan pulang ke rumah, sebulan sebelum wisudanya. Dan seminggu sebelum bulan Ramadhan tiba. Kesibukannya kuliah, dan menjadi guru  privat membuatnya sering pulang larut. Dunianya dia isi sesibuk mungkin. Jeda sedikit akan membuat pikirannya terbang ke masa lalu.

“Arah selatan ya pak”, pintanya pada supir taxi. Hari ini dia merasa letih dan lapar. Ingin cepat pulang ke rumah dan memesan makanan di kedai mungil nan apik ujung jalan dekat rumahnya. Dulu dia kerap menemani bunda atau kekasih masa lalunya menikmati strawberry shortcake sambil ngobrol atau membaca komik. Kedai itu memang hanya menyajikan buku komik sebagai bahan bacaan. Namanya saja kedai komik. Tapi kuenya enak-enak. Hatinya tiba-tiba berdebar. Hari ini dia pulang. Entah seperti apa rumah yang ditinggalkannya selama setahun ini. Pasti aku harus kerja bakti sendirian membuatnya kinclong lagi, pikirnya. Sepanjang perjalanan Lintang merasa seperti di bawa ke masa lalu.

”Maafkan Lintang, bunda, ayah. Tidak menjaga rumah kita. Malah melarikan diri dari kenyataan. Padahal semestinya segala sesuatunya belum tentu seperti yang kita bayangkan. Andai saja pikiran negatifku tak selalu mendominasi. Akhirnya aku kehilangan momen indah yang bisa di ambil hikmahnya setelah kepergian kalian. Aku pengecut, bunda. Ayah pasti kecewa padaku. Putranya tak sekuat yang dia kira. Tak mampu menepati janjinya sendiri saat mengantarnya pergi ke peristirahatan terakhir.”

Pikirannya sibuk berbicara. Bagaimanapun hatinya masih di rumah itu. Rumah yang didirikan orangtuanya penuh cinta. Yang kini diwariskannya untuk selalu dijaga. Taxi berhenti. Setelah membayar, Lintang tak langsung membuka pintunya. Tetap duduk sambil menatap ke arah samping. Dimana sebuah rumah berhalaman luas masih berdiri seolah tak sabar menunggunya membuka pintu pagar. Rumah itu bercat putih dan berpagar kayu seperti dalam dongeng. Kecil saja dengan lampu bergaya tradisional di ujung dekat pagar. Meski rumahnya berukuran kecil mungil, tapi asri dan halamannya luas.

Rumah ini saksi masa kecilnya. Saksi kebahagiannya. Saksi kepergian orangtuanya. Sekarang rumah ini pasti ikut sedih karena anak dari pemilik rumah ini juga ikut meninggalkannya setahun lalu. Dan baru sekarang kembali lagi. Rumah itu terlihat pucat dan sedikit kumuh. Meski masih terlihat asri. Halamannya tampak tak teratur. Rumput mulai meninggi dan banyak daun kering berguguran, seperti musim gugur yang tak pernah berhenti. Suram, dingin, namun tetap indah di matanya. Karena pernah ada tiga hati yang dulu mewarnainya.

Supir taxi berdehem, mengagetkannya. ”Ini rumahnya, dik? Benar?”, tanyanya melihat penumpangnya hanya melongo di kursi dan tak juga turun. Dia tampak khawatir. Apakah anak ini habis kabur? tanyanya dalam hati. Cepat-cepat Lintang membuka pintu. Supir taxi masih memperhatikannya. ”Rumah siapa sih itu, seperti belum pernah ditinggali, batinnya sebelum pergi meninggalkan pemuda itu sendirian terpaku. Memandang rumahnya seperti mencoba mengingat kenangan yang tersisa di setiap sudutnya.

Dengan perasaan yang entah apa kini, Lintang perlahan membuka pintu pagar. Jalan di lingkungannya tampak sunyi. Para tetangga sepertinya memilih berdiam di rumah sehabis hujan. Rumah itu seakan tak sabar menyambutnya. Rindu pada mantan bocah nakal yang dulu suka mencoret-coret dindingnya dengan spidol. Menggambar dirinya sendiri atau pahlawan dalam cerita komik-komik kesayangannya.

Hatinya merasa bersalah melihat tanaman bundanya banyak yang layu dan mati. Sisanya seperti hidup enggan, mati tak mau. Mungkin belum rela mati sebelum pemiliknya yang sekarang kembali. Di sapanya satu persatu bunga kering, dan kolam ikan hias yang ikannya sudah tak ada lagi. Lintang sudah memberikannya pada orang lain sebelum pergi dari rumahnya. Ah, aku juga belum menengok Rasta. Mudah-mudahan dia masih ingat padaku nanti.  Hatinya menjadi bercahaya setelah ingat anjing yang pernah di peliharanya dulu.

Sekarang dia berdiri di teras rumah. Memandang kursi dan meja kecil. Dulu di beranda ini dia suka duduk-duduk sambil minum teh sore dengan orangtuanya disaat libur. Sebagai anak tunggal, hanya pada orangtuanya dia kerap menceritakan segala aktifitas dan masalah pribadinya. Sepasang kursi dan meja ini tampak berdebu dan kotor. Lintang menghela nafas. Ramadhan tahun ini dia akan melewatinya tanpa kehangatan keluarga. Dia akan menjalaninya seorang diri. Mempersiapkan segalanya sendiri. Sahur dan berbuka sendiri. Ah, tidak. Kesendirian itu hanya ilusi. Salah seorang sahabatnya yang tinggal ngkost di kota lain pernah berkata, “Jangan pernah merasa sendirian. Bukankah ada Tuhan yang selalu menemani di manapun kau sembunyi?. ”

Sekarang dibukanya pintu rumah. Dibentangkannya lebar-lebar. Bau lembab langsung menerpa hidungnya. Tak ada senyum bunda. Tak ada sapaan ayah. Tak ada siapapun. Juga salakan Rasta, teman kecilnya.

Tanpa sadar dia berteriak, entah pada siapa, ”Aku pulang…!”

Sunyi…

 

 

 

Kesendirian begitu mewarnai kehidupan. Tapi alangkah menyenangkannya karena kita bisa memilih sendiri warnanya._Billy Graham.

 

 

 

On somewhere the sunshines, Agustus 2011

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *