Kotak Musikku

Saat itu aku berusia dua belas tahun.

Kotak musik itu kubuka. Terdengar alunan merdu mengiringi boneka penari ballet yang berputar , dan terkadang bertop shoe. Indah, sempurna, dan menggetarkan rasa. Mata, telinga, dan hatiku ikut bernyanyi. Jiwaku ikut menari. Berdansa dan berputar di kotak musik itu. Alunan jernih memecah malam, melenakan seluruh ragaku. Menghisapnya sampai jauh. Betapa ingin ku menjadi seorang ballerina. Dan kini di tanganku sepasang ballerina tengah menari mengikuti irama yang seindah nyanyian syurga. Ada satu jam kuberdiam. Menatap dua penari di kotak musikku. Membelainya penuh ingin tahu.

Aku ingin bertanya pada mereka. Kedua penari mungil itu. Bagaimana mereka bisa berada dikotak musik itu. Apakah mereka sudah lama tinggal di situ? Mengapa baru kali ini kulihat tempat tinggal yang sangat kecil. Hanya seukuran kotak musikku ini. Didalamnya berdiam sepasang penari ballet yang telah membuatku jatuh cinta. Bibir mereka tersenyum. Seakan memahami keingintahuanku. Tapi mereka tak bicara. Hanya tersenyum dan tersenyum. Benar-benar mengherankanku. Apakah mereka juga tak pandai bicara sepertiku? Tapi mereka bisa tersenyum. Aku tidak. Aku sudah lama melupakan senyumku. Bagaimana bentuk wajahku bila senyum itu kukembalikan lagi kebibirku yang kering.

Pasti tak tampak menawan. Menakutkan mungkin.

Sejak kotak musik itu tak sengaja kutemukan di atas loteng kamar kakakku. Aku merasa punya teman. Kedua boneka penari itu kini menjadi teman baruku. Menggantikan Reno anjingku yang sudah mati. Reno yang malang. Menitik air mataku bila mengingatnya kembali. Kotak musik itu kubuka kembali malam ini. Jantungku berdegup. Suara musik perlahan menerpa gendang telingaku. Kotak mulai membuka lebar. Kedua penari mulai berdansa. Akupun siap untuk bergembira bersama mereka. Aku tertawa…ya..aku tertawa. Bukan lagi tersenyum, tapi aku tertawa. Benarkah aku tertawa? Kumenoleh pada cermin di sebelah tempat tidurku. Wajah itu benar tertawa. Aku juga melihat diriku berdansa. Berputar dan bertop shoe. Bahagia menjalar kesegenap pori-pori jiwaku. Aku terus berputar dengan irama yang lembut dan matang. Akhirnya aku bisa menari kembali. Ballerina itu diriku sendiri.

Pagi ini, aku membuka kembali kotak musikku. Tapi aku tak tergerak untuk menari. Otakku tengah berfikir. Bagaimana agar aku bisa masuk kedalam kotak ajaib itu. Kotak yang mampu menghadirkan rasa bahagiaku yang hilang. Kotak yang mampu mengembalikan pendengaranku pada alunan musik. Kotak yang membuatku bisa menari kembali. Berdansa bersama boneka kesayanganku. Penari ballet mungil idolaku. Tapi aku tak mungkin bisa memasukinya. Kotak itu begitu kecil. Rumah penariku begitu sempit. Hanya cukup untuk mereka berdua. Mereka begitu kecil. Pasti kesempitan bila aku ikutan tinggal bersama mereka di rumahnya. Jadi aku kembali hanya memandangi isi kotak itu. Mengapa kebahagiaan begitu memancar dari kesempitannya. Apakah ruhku ada disana? Apakah sebenarnya jiwaku sudah lama tersimpan ditiap sudutnya?

Kututup kotak mungil itu. Lagupun terhenti sudah. Meninggalkan keheningan yang dalam. Aku didera rasa sedih. Aku ingin selalu membukanya. Apakah kotak itu tak bosan kubuka-buka terus? Apakah musik itu akan segera berhenti bila bosan memperdengarkan nada indahnya padaku? Apakah penari itu akan tetap membuka pintu rumahnya untukku? Apakah….

Kotak mungil itu tiba-tiba terbuka dengan sendirinya. Aku terkesiap. Alunan yang sudah begitu akrab ditelingaku mulai kembali terdengar. Kotak membuka lebar. Kedua penari membungkukkan tubuhnya padaku. Memberi hormat. Lalu dengan lembut dan indah menari dengan aura kebahagiaan yang nyata di kedua parasnya. Aku bergetar. Tubuhku mulai melayang. Kebahagiaanku kembali hadir. Meragai seluruh jiwaku….kubiarkan keindahan ini menyelimutiku. Kubiarkan lepas dengan segala kebebasannya. Aku menari dan berdendang… sesekali bertop shoe….kebahagiaan ini begitu nyata. Dan aku tak hendak menghentikannya, meski esok pagi matahari lupa menyinari jantungku.

Sejak saat itu kotak musik itu tak pernah menutup lagi. Terus terbuka memancarkan kebahagiannya untukku.

Kebahagiaanku terletak di dalamnya…..

 

Kilas Ulasan:

Awan Hitam

Penulis Buku “Awan Hitam”

“Cerita ini adalah yang dibuat dngan hati.Menggambarkan tentang suatu simbolik.Kotak menggambarkan tempat menyimpan sesuatu. Namun mungkin ini menggambarkan tempat menyimpan kenangan,suatu kenangan kebahagiaan. Betapa kenangan selalu berarti… dan membahagiakan jika menatapnya terus menerus…Aku dalam cerita memindahkan seluruh hati dan hidupnya pada kenangan yang tak pernah habis diamati.Aku memasukan kebahagiaan nya pada sebuah kotak kenangan.Kenangan tentang kebersamaan dalam sebuah keindahan …Mungkin crita ini nampak seolah olah menunjukan kesepian,namun bukankah segala sesuatu akan bermuara pada kesepian.Tak banyak kebahagiaan yang dimiliki oleh manusia.Kemampuan nya memahami bagaimana ia dapat berbahagia meskipun dalam miniatur kesunyian sesungguhnya adalah jalan dia untuk memahami kehidupannya……Ketika semua menutup,alam nyata menjadi tidak real,maka masuklah alam mimpi…dan akhirnya apakah beda mimpi dan kenyataan?Terimakasih SY. Cerita yang memikat dan menghisap rasa …ingat tentang salah satu kisah dari HC Andersen…

Selamat sore..
Salam bahagia untukmu

Syaiful Alim

Penulis Novel “Kidung Cinta Dari Pohon Korma”

“Saya kira esensi dari cerita SY ini adalah berporos pada adagium ‘habis gelap terbitlah terang”di mana sebuah kesedihan itu pasti berujung. kesedihan bisa ditandai dengan kematian atau kehilangan seseorang.“Sejak kotak musik itu tak sen…gaja kutemukan di atas loteng kamar kakakku. Aku merasa punya teman. Kedua boneka penari itu kini menjadi teman baruku. Menggantikan Reno anjingku yang sudah mati. Reno yang malang. Menitik air mataku bila mengingatnya kembali.”apa yang saya suka dari cerita ini adalah mengalirnya dunia simbolik yang diwakili oleh kotak musik itu. kotak musik yang dengan permainan imajinya mendedahkan atau menawarkan keceriaan dan kebahagiaan.

begitulah hidup itu: kesedihan atau kedukaan memang sepasang yang tak kan jauh dari hidup manusia. mereka berdua senantiasa menghiasi har-hari kita menjadi lebih indah.

Sayuri menggelar tema besar itu dengan meminjam alat ‘kotak musik’

kotak musik yang jika dibuka akan memunculkan boneka penari ballet, yang mengajak menari atau berdansa si aku lirik.

menari atau berdansa bisa kita maknai sebagai ajakan untuk bahagaia dengan segala yang terjadi dan melanda diri; suka ataupun duka luka.

akhir kata, semoga kita semua bisa punya ‘kotak musik’ SY itu. kotak musik yang tak sekadar.

terima kasih, salut dan salam hangat buatmu SY.

Perjalanan…

Aku memutuskan takkan pernah berhenti. Sampai aku tiba di akhir perjalanan dan mencapai tujuanku_David livingstone : 1813-1873


Perjalanan itu sebenarnya selalu indah. Sepanjang jalan kita bisa menikmati hijaunya pepohonan, warna warni bunga , lalu lalang orang-orang dengan dengan segala aktivitasnya. Pemandangan itu membuat sebuah perjalanan menjadi meriah dan tidak membosankan. Itulah teman kita sepanjang jalan. Teman mata dan telinga kita. Fikiran serta perasaan kitapun ikut mewarnai semua yang terwakili oleh segenap panca indra.

Namun perjalanan tak selalu mulus. Ada banyak batu kerikil disana sini. Berserakan ditengah jalan, di tepi jalan, di jembatan, rel kereta, dengan bentuknya yang tak selalu kecil. Kadang batu itu begitu besar. Perlu tenaga ekstra untuk menyingkirkannya. Tak mudah saat perasaan sedang tak jelas arah. Keindahan bisa seperti ilusi. Atau seperti kue yang dihias penuh warna. Hingga keindahan aslinya hilang ditelan ketakjuban rasa.

Perjalanan yang kutempuh sejauh ini belum banyak kurasakan terpaan anginnya. Akankah tiba dengan selamat atau berbelok kearah lain. Atau bahkan tiba-tiba harus terhenti dititik tertentu begitu saja. Adakalanya ditengah perjalanan aku merasa dikejar waktu. Atau cenderung santai karena yakin semua yang perlu ku bawa dan ku urus dalam menempuh perjalanan ini sudah kupersiapkan dengan sebaik mungkin. Sedangkan merasa dikejar waktu adalah saat aku merasa serba kurang mempersiapkan ini itu. Bagiku, bekal perjalanan tak pernah cukup, bahkan meski hanya untuk satu hari.

Perjalanan….seberapa perspektifnya aku memaknai kata ini?……PERJALANAN.
Terasa begitu jauh, lelah, indah. Akankah berakhir menyenangkan? menyedihkan? atau sekedar rasa lelah yang akan hilang tergantikan oleh harap yang akupasang sepanjang jalan. Sepanjang aku menempuhnya….bahkan jauh sebelum perjalanan itu kulakukan.
Aku dalam perjalanan ini….menembus ruang dan waktu, begitu banyak  yang kutempuh. Membuat kaya hati, kaya jiwa, hingga perasaan miskin rasa, miskin kreatifitas, kembali lagi, berdesir lagi….tenggelam di jurang tepi jalan…membasah lalu kembali kering di panah matahari…oh perjalanan ini begitu lambat…begitu ingin segera kutahu bagaimana akhir perjuangan ini. Perjuangan menjadi seorang pengelana.
Pengelana kehidupan.

Aku ingat, perjalanan yang kutempuh sejak kecil hingga dewasa, kadang kurasakan sama saja dengan yang orang lain tempuh. Lelah, bosan, senang dan sedih. Namun yang kulihat dan kurasakan, setiap orang menjalaninya dengan cara yang unik dan berbeda. Melihat bagaimana setiap insan menjalaninya dengan cara yang berbeda memberikan pembelajaran tersendiri bagiku. Sama sama menempuh perjalanan yang terus saja berjalan seolah tak pernah ada akhirnya. Sama sama melewatinya dengan cara masing-masing. Mengambil yang sesuai jiwaku, melupakan yang memberatkan perasaan. Hidup adalah perjalanan itu sendiri. Bagaimanapun akhirnya, kita hanya mampu berharap…yang terbaik mampu melarung yang belum sempurna.

pada sebuah jalan
panjang dan berkelok
aku menanti seorang teman

temanku tak datang,
perjalanan bukan untuk sebuah pertaruhan, ujarnya
karena didalamnya terselip filosofi kehidupan

kukembalikan waktu yang sempat terbelah dua

menjadi hitam putihnya kehidupan

aku melintas sendiri di jalan itu
tanpa dirinya

dengan segenap filosofi yang telah dia ajarkan…


Aku berusaha meminimalisir resiko. Dan membuat sebuah keputusan kadang perlu dengan istirahat sejenak, kalau tidak mau mati saja ditengah jalan. Berselimut debu, diguyur hujan, diterpa salju musim dingin, di gulung ombak tsunami, dibakar mentari. Itulah yang mungkin akan terjadi. Perjalanan ternyata tak sesederhana yang kita bayangkan. Disetiap perhentian, selalu ada keputusan yang harus diambil. Ke kanan atau ke kiri. Terus atau lanjut. Sesuai rute atau lewat jalan alternatif. Semua ternyata perlu kompromi. Perjalanan yang awalnya indah pada titik tertentu bisa jadi lelah. Dan kelelahan kadang mengakibatkan salah mengambil keputusan.

Ya, kalau keputusan itu hanya berakibat pada diri sendiri mungkin masih bisa diterima. Tapi kalau efeknya kemana-mana, akan berpengaruh pada orang lain.Keputusan yang kita ambil saat ini kadang mampu mengubah masa depan kita dan juga orang lain.Aku kadang bingung bagaimana memulai sebuah perjalanan. Atau kadang malah terfikir bagaimana bila aku hentikan saja perjalanan yang tengah kutempuh. Kembali ke rumah dan tidur. Namun itu tak mungkin kulakukan dalam hidupku. Perjalanan ini belum selesai. Mungkin masih panjang dan jauh. Ke arah masa depan yang masih gelap. Memilih berhenti berarti mengorbankan waktu dan energi. Mengorbankan perasaan diri sendiri juga. Bisa jadi kita menyesalinya setelah kembali ke rumah. Kita takkan pernah tahu kalau tak ingin mencobanya.

Aku tetapkan hati berkemas , kembali menempuh perjalanan ini. Yang membahagiakan sudah kulewati dibelakang hari. Yang menyedihkan baru saja kutempuh. Dan kini jauh di depan mata, sahara kehidupan telah menanti. Dengan memicingkan mata, kutatap kehidupan didepan sana.

Perjalanan ini tampaknya akan semakin jauh…panjang dan kosong. Belum ada tetumbuhan seperti perjalanan sebelumnya. Tampak gersang dan penuh liku.  Adakah perjalanan ini tetap kulanjutkan? Aku menoleh pada sebuah bayang yang melintas. Tanpa sadar kubertanya, “Bagaimana denganmu? ajak aku bila jawaban itu telah yakin kau temukan. Kita akan menempuhnya bersama. Karena setengah dari perjalanan ini, telah kulalui bersamamu…

“…waktu berjalan di dalam diriku. Lebih hening daripada bayanganku, aku berjalan melewati gerombolan tamak  yang sombong itu. Mereka tak  tergantikan, unik, layak untuk masa depan. Namaku adalah seseorang dan siapa saja. Aku berjalan perlahan, seperti seseorang yang datang dari tempat sedemikian jauh sehingga dia tak berharap akan sampai_Jorge Luis Borges

 

Penulis Yang Sakit Punggungnya

Penulis sepuh itu memijat kembai punggungnya dengan tangan yang dilingkarkannya ke belakang. Agak sulit memang. Namun demi mengurangi rasa sakitnya yang mulai mengganggu konsentrasi kerjanya, dipaksakannya tangan lemah itu memijat belakang punggungnya. Punggung yang sudah membungkuk dimakan usia dan derita hidup. Kacamatanya nyaris melorot. Wajahnya sedikit meringis, menahan nyeri. Baginya tak ada yang lebih mengganggu selain serangan periodik nyeri punggngnya itu.

“Akh, mungkin memang sudah saatnya aku istirahat dari aktifitas yang menguras segala sisi kehidupanku ini “, batinnya pasrah. Setelah agak reda diambilnya secangkir teh hangat buatan wanita yang sudah lima tahun ini membantu mengurus rumah tangganya. Ya, mereka hanya tinggal berdua di tempat sunyi itu. Agak dipinggiran kota, dan sedikit masuk hutan kecil yang asri.

Wanita yang biasa di sapa Sofia itu awalnya adalah penduduk desa tetangga. Usianya tak lebih sepuh dari tuannya yang berprofesi sebagi penulis ternama dunia. Wanita itu mengabdikan diri dirumah sang penulis, setelah bencana di kampung halamannya lima tahun lalu merengut habis keluarganya. Rumahnya dan masa depannya. Begitu pula dengan sisa keluarga lainnya yang juga lenyap di telan bencana. Wanita sepuh akhirnya hanya seorang diri. Tetapi kemudian seorang penulis yang tinggal tak jauh dari desanya kini telah mengangkatnya menjadi pekerja tetap yang bertugas mengurus segala keperluannya sehari-hari

Tak banyak yang diketahui wanita tua itu akan masa lalu sang tuan yang kesehariannya tak lain hanya berkutat dengan mesin tik tuanya dan setumpuk buku buku yang mengelilinginya. Ditambah lagi lembaran lembaran naskah yang seakan berlomba memasuki keranjang sampah mungilnya di sudut meja antik itu. Sang tuan yang sering di sapanya dengan tuan penulis, betah berjam jam memainkan jemarinya yang entah terbuat dari apa itu, hingga selama lima tahun ini tak hentinya jemari itu menari nari diatas mesin tik yang agaknya sudah layak dimusiumkan. Setiap pagi dan sore wanita itu menyediakan secangkir teh hangat kesukaan tuannya. Teh hangat beraroma lavender. Bagus untuk meredakan kepenatan yang mungkin menyapa konsentrasi kerja tuannya hari itu. Sang tuan juga harus rutin minum obat anti kejang. Dia pengidap epilepsi. Bila terlalu lelah tak jarang penyakitnya kambuh dan itu sangat menguras kesabaran wanita lembut tersebut. Penduduk desa sudah lama mengetahui penyakit sang penulis yang sering mereka juluki dengan si penyair. Sebagian dari mereka pernah menyaksikan saat sang penulis itu kambuh penyakitnya Beberapa diantaranya mengiranya kesurupan. Atau bahkan sakaw karena over dosis. Namun mereka tak pernah benar benar berani mengusiknya lebih jauh. Kehidupan sang penyair tua itu begitu misterius. Nyaris tak pernah terlihat berkumpul dengan penduduk sekitar. Mereka hanya melihatnya sesekali saat sang penyair menyiram bunga gardenia kesayangannya. Bunga gardenia yang subur itu adalah kebanggannya.

Baik wanita pekerja rumah tangganya maupun penduduk sekitar tak pernah tahu bagaimana penyair tua itu bisa hadir di desa mereka. Namun dari kasak kusuk yang berseliweran diantara penduduk kota kecil sampai desa itu, mereka akhirnya tahu sedikit tentang sosok misterius tsb. Beberapa wartawan dalam dan luar negeri sering bertandang mengunjunginya. Dan dari merekalah para penduduk mendapat banyak keterangan yang meliputi aktifitasnya. Ternyata dia seorang yang ramah dan sopan. Namun tak suka bersosialisasi pada masyarakat banyak atau memang tak ada waktunya untuk lakukan hal itu. Lambat laun para penduduk mulai terbiasa dengan kehidupan penuh rahasia sang penyair yang agaknya punya pandangan tersendiri akan gaya hidupnya. Hidupnya yang selalu di liputi kesunyian. Namun tak pernah menolak siapapun yang bertandang kerumahnya. Asal bukan dia yang disuruh meninggalkan rumah mungilnya yang lengang tersebut.

Kembali di teguknya sisa teh hangat yang tersisa, Lalu dia mulai merasakan jarinya gemetar. Akhirnya dengan langkah tertatih dia meninggalkan kursi dan mesin tiknya. Novelnya hampir selesai. Kali ini kisah diambil sebagian besar dari perjalanan hidupnya sendiri. Kisah yang diputuskannya sebagai tulisan terakhir sepanjang karirnya dari dunia menulis. Dunia yang telah menghidupinya sejak remaja. Dunia yang dicintainya meski sepanjang perjalanan menuju puncak kejayaannya sebagai penulis dunia, harus dilaluinya dengan pengorbanan kehidupan pribadinya. Rumah tangganya yang dibangun sebanyak tiga kali, semua kandas ditengah jalan. Anak anaknya yang berjumlah lima orang dari masing masing istrinya, tak ada satupun yang mengikuti jejaknya. Mereka tak suka dengan kehidupan dan profesi sang ayah. Sang ayah yang awalnya sempat membuat bangga saat menerima hadiah Nobel sebagai puncak prestasinya. Namun semua itu ternyata tak bisa membuat keluarga yang dibangunnya sesempurna hasil karyanya dibidang sastra.

Keluarganya kehilangan dia. Kehilangan sosok yang hangat dan normal. Hingga fondasi keluarganya mulai runtuh satu persatu. Sampai akhirnya mereka semua benar benar meninggalkannya. Membuat sang ayah semakin bebas bergelut dalam dunia yang tak bisa mereka fahami. Dan kini sang penulis memilih menyepi di kota kecil pinggiran kota Allamo, sebuah kota kecil di selatan negeri yang selalu tak jelas cuacanya itu. Saat badai salju, sang penulis makin mendekam di kamarnya yang sunyi. Hanya berteman dengan suara mesin tik tuanya. Desa itu damai , tenang tak tersentuh perang dunia yang tengah melanda seantero negeri. Sesekali terdengar sirine meraung di tengah kota sampai ke desa kecil itu. Namun sampai kini tak pernah desa dan tempat tinggalnya terkena serangan dadakan. Sesekali terlihat dari kaca buram di jendela kamarnya iring-iringan pengungsi dari arah utara menuju desa mereka. Agaknya desa mereka merupakan zona aman hingga sang penulis merasa semuanya akan baik baik saja.

Dan memang bukan perang yang membuatnya resah. Melainkan nyeri punggungnya yang makin menghebat. Wanita sepuh pekerjanya itu sesekali membantunya memijat selama sejam. Tak hendak pula penulis itu berobat kerumah sakit terdekat. Ataupun memanggil dokter desa. Entah apa yang ada dalam fikirannya hingga bisa bertahan terus menerus menahan sakit. “Kukira lebih baik tuan kedokter saja. Akan sangat mengganggu bukan kalau dibiarkan terus? “ , Saran wanita sepuh itu pada majikan kesayangannya suatu hari saat kembali memijat punggung sang tuan yang kembali kambuh.. Sang majikan diam saja, menarik nafas.

Suatu hari sang tuan memanggilnya. Diajaknya wanita tua itu duduk disampingnya.

“Aku ingin menyampaikan sebuah pesan penting untukmu. Hanya kau yang bisa kupercaya. Benarkan kau bisa kupercaya?“, tanyanya untuk lebih meyakinkan. Wanita tua itu cepat cepat menganggukan kepalanya. Perasannya terasa aneh. Dia merasa tak nyaman pada rona wajah tuannya yang tampak memucat. “ Sakit parahkah dia? “ benaknya bertanya.

Sang tuan masih menatapnya. “ Sophie, aku mau menitipkan sebuah surat wasiat. Tolong kau tandatangani juga sebagai saksi satu-satunya. Ini hanya surat wasiat biasa. Tak perlu sampai mendatangkan orang orang penting dari biro hukum yang sering membuatku emosi itu. Fahamkah dirimu? “

Wanita tua itu mengangguk. Ada sedikit raut cemas di wajahnya yang berkerut. Sang penulis itu tersenyum arif. “ Tak apa. Kau tahu aku ini tak suka ribut ribut. Tak suka banyak orang ikut campur dalam urusan pribadiku. Surat ini untuk keluargaku. Anak anakku. Tanpa ibunya masing masing tentunya. Tadi aku telah menelpon mereka semua, kelima anakku itu. Dan setelah mengetahui apa pesanku, mereka langsung menyetujui untuk berkunjung kesini. Menyelesaikan urusan surat wasiat ini. Dan karena aku enggan banyak kata, ditambah lelah pula, maka kau saja yang jadi perwakilanku ya. Kau cerdas dan baik. Usia tak menghalangimu untuk mengetahui persoalan penting ini. Dan aku percaya padamu selama ini. Kejujuran dan kesetiaanmu.” . Wanita sepuh itu tak mengatakan apapun untuk merespon amanat tuannya. Hanya didengarnya semua pesan tuannya dengan sepenuh jiwa. Tuan yang telah ikut membangun kehidupannya selama ini.

Setelah menerima berkas surat yang terlihat amat penting itu, dan sepucuk surat kecil berstempel. Sang tuan dibimbingnya memasuki kembali ruang kerjanya. Dipijatnya kembali punggung yang seakan sudah menjadi bagian dari kawan setianya beberapa tahun ini. Menemaninya dalam kesakitan fisik dan bathinnya yang sepi.

Punggung tua yang membungkuk. Yang telah ikut menanggung beban derita kehidupan pribadinya. Bahkan juga perjalanan karirnya yang tampak gemilang.

Lalu sang tuan mulai lagi mengetik. Sofia, wanita tua itu beranjak meninggalkannya untuk menyimpan wasiat tuan besarnya. Seraya menunggu buah hati sang majikan berdatangan kerumah yang sudah tiga tahun sepi dari suara sanak keluarganya. Ada rasa bahagia, akhirnya putra putri sang majikan mau juga berkunjung lagi ke tempat sunyi ini. Menengok sang ayah yang dia tahu sangat merindukan mereka. Wanita tua itu tak ingin memikirkan apakah karena surat wasiat itu, maka belahan jiwa sang majikan akhirnya bersedia datang kembali mengunjungi ayahandanya yang unik itu.

Suara mesin tik tak lagi terdengar. Sementara sore mulai menjelang. Saatnya dia menyiapkan teh hangat kesukaan tuannya.Juga untuk menyambut kedatangan putra putri sang majikan.. Di musim gugur itu hawa terasa mulai menusuk tulang. Dingin dan tajam. Namun diluar tampak damai dan tenang. Sesekali tampak kereta kuda penduduk sekitar melintas di jalan setapak tak jauh dari rumah tuannya.

Dimatikannya kompor yang mulai mendidihkan teh panas aroma lavender kesukaan tuannya. Lalu di potongnya roti gandum hangat buatannya. Sang tuan sangat menyukai tradisi minum teh sore hari yang menghangatkan jiwanya itu.

Tak lama kemudian terdengar suara kereta kuda beriringan dan berhenti tepat di depan rumah asri majikannya. Wanita tua itu segera menyambut kehadiran putra putri tuannya yang tampak lelah dalam pakaian gemerlap mereka yang ala kota.

Suasana tampak sedikit ramai. Menghangatkan kebekuan udara yang menusuk.

Angin musim gugur yang gelisah.

Mereka bertanya dimana sang ayah, dan tersenyum setelah mendapat penjelasan wanita pekerja rumah tangga ayahnya itu. “ Akh , masih seperti biasanya ayah kita itu. Bersunyi sunyi dalam kamarnya yang pengap dan penuh buku. Apakah dia baik baik saja? “, Tanya si bungsu yang tampak lebih ceria. Seorang wanita pengacara yang sukses. Sofia menganggukan kepalanya dengan hormat. “ Punggungnya selalu sakit. Hanya itu yang mengganggu aktifitasnya selama ini. “, Jawabnya pelan. Anak-anak sang majikan saling melirik satu sama lain, lalu mengangkat bahunya tanda maklum. Baginya wajar sang ayah berpenyakit punggung. Karena sepanjang hidupnya tak lain hanya duduk di kursi antik itu guna menghasilkan karya –karya yang memang gemilang. Yang dulu sempat membuat mereka bangga, namun justru berbalik jadi bumerang bagi kehidupan remaja mereka yang serasa dinomorduakan. Merekapun mulai beristirahat.

“Aku akan membangunkan tuan, nona. Pasti dia tertidur karena lelah mengetik seperti biasanya.” wanita tua itu berkata pada Irena, salah satu anak tuannya. Namun yang menjawab si sulung. Edu.

“Baiklah,” jawabnya acuh tak acuh. Edu seorang pemain sepakbola yang sedang merintis karirnya.

Mereka masih asyik membereskan barang bawaan dan sebagian mulai menikmati teh hangat dan roti gandum, saat terdengar jerit pilu wanita penjaga rumah tangga ayahnya. Terpana sesaat , lantas berlarian kelima putra putri sang penulis itu kearah kamar sang ayah di sudut rumah. Tampak sang penulis terkulai di meja kerjanya dengan mulut menyisakan busa. Di sampingnya terlihat dua botol obat yang entah apa itu, namun sudah tak ada lagi sisanya. Agaknya ayah mereka telah menelannya semua dengan sengaja untuk mengkahiri hidupnya yang sekelam karya-karyanya yang gemilang. Sang putra sulung dengan tangan bergetar hebat membuka sepucuk surat kecil yang di letakkan ayahnya di atas bingkai foto. Hatinya remuk seketika. Isi surat itu sangat mengharukan.

” Kutinggalkan hanya sepucuk surat tak bermakna, Bagi kalian belahan jiwa yang sempat tercecer di tanganku. Maafkanlah ayahandamu yang tak pandai berdamai pada dirinya sendiri ini. Titip Sofia diantara kalian. Serta naskah terakhir sebagai sosok diriku yang tak pandai meretas waktu. Salam ”

Maka denga rasa tak percaya mereka menjadi histeris. Ada rasa sesal yang tiba tiba menyelinap dalam hati masing masing. Sementara angin Oktober disenja kelam itu semakin kencang bertiup.

Mengugurkan segala rasa yang ada…