Pelan Dan Pasti

Lihat disana, jalan~jalan kembali basah. Semalam hujan. Dan sebelumnya pepohonan menggugurkan dedaun. Senantiasa musim~musim kembali datang lalu pergi. Seperti sejarah berulang dan berulang. Mungkin sejatinya hidup seperti daun~daun itu. Bertunas, menumbuh mekar untuk kemudian luruh dipaksa waktu. Saat itu, ranting~ranting berhenti bernyanyi. Saatnya mengucap selamat tinggal pada yg selama ini menemani. Ranting pada daun. Adalah keniscayaan. Seperti katamu tentang pertemuan perpisahan di stasiun, halte, bandara dan pelabuhan. Maka pandanglah matahari yang menghangatkan akar akar willow, sakura dan tumbuhan empat musim yang melahirkan Peoni Peoni bermekar memerah. Dan itu, lihatlah. Taman taman menjadi sunyi saat pohon pohon menggigil. Meski matahari hadir menghangatkan pagi, kulihat alam tetap suram. Langit melukis mendung yang mengalirkan kristal bening di hati dan pelupuk. Pada tebing mata, tertahan karena hidup tak baik selalu ditangisi. Dan daun daun jatuh mengajarkan kita bagaimana prosesi alam berlangsung. Tak ada yang benar~benar abadi. Aku yang kadang tertatih berjalan diantara serakannya. Daun daun itu. Begitu warna warni. Beberapa diantaranya kupunguti. Mereka berbisik bisik padaku. Mengingatkan tentang senja yang bertemu fajar. Romantisme yang gagal di epilogkan. Epitaf masa lalu dan masa depan. Juga yang sesaat terlupakan. Demikian daun daun terus berjatuhan. Melayang menerbangkan cita cita. Bagaimana harus kuterjemahkan musim gugurmu? sementara aku hanyalah musim dingin yang membekukan bumi. Saat ini tubuhku penuh daun merah, kuning, ungu dan hijau. Mewarnai langkah kecil kecil jalan setapak penuh kerikil. Aku disini. Masih termangu diantara guguran daunmu.

Terus berjatuhan. Pelan dan pasti…

 

hanya catatan kecil tanpa edit dalam perjalanan kereta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *