Sekar Hanya Ingin Jadi Priyayi

Sekar bersimpuh memijat kaki simbah yang napak kelelahan setelah seharian bekerja menjadi kuli panggul hasil bumi di ujung pasar dekat alun alun kota. Namun senyum tulus yang membias di sudut bibir simbah sempat membuatnya lega. Ah, simbah ndak sakit toh? Cuma lelah, Ya kan mbah?” Batin Sekar dalam hatinya. Bocahlugu itu kian giat memijat tiap lekuk jemari simbahnya dengan sekuat tenaga. Keringat mulai mengalir membasahi keningnya. Simbah melihat itu. Diangkatnya tangan cucu tercinta semata wayangnya itu. Diusap usapnya penuh sayang.

 

“Sudah nduk, simbah sudah segeran. Sekarang kamu ayo makan dulu. Kamu juga capek kan?” ujar simbah penuh sayang. Sekar mengangguk tersipu. Disiapkannya dua piring nasi beras kualitas rendah yang agak keras itu. Beserta sambal terasi dan beberapa potong tempe beserta lalap daun singkong kesukaan simbahnya. Mereka makan penuh khidmat. Sebagai kuli panggul pasar, simbahnya yang meski sudah uzur namun masih nampak gesit itu, penghasilannya tidak menentu. Sekali manggul kadang hanya diupah tak seberapa. Hanya cukup untuk makan sehari. Tak heran kehidupan mereka berdua selalu prihatin. Sekar hanya bisa sekolah di SD gratis binaan kakak kakak mahasiswa dari kampus negeri d kotanya. Sekolah calon guru, ujar Diah anak tetangga sebayanya yang tinggal di sebelah rumah gubuknya.

 

Setiap hari dia harus bersekolah. Belajar membaca dan menulis. Serta ilmu lainnya. Sekar tak pernah mengenal sekolah sebelumnya. Usianya kini 6 tahun. Tak pernah masuk Taman Kanak Kanak. Dia hanyalah anak yang terlahir tak diinginkan. Tidak mengenal siapa orangtuanya. Ditemukan sebagai bayi mungil di sudut pasar pada suatu malam oleh pedagang yang nginap dipasar. Tak ada yang mau mengambilnya. Tak ada pula yang mau melapornya tentang kejadian itu pada aparat setempat. Simbah yang hidup sebatang karapun mengambilnya sebagai cucunya. Dan orang orang pasar tampak lega seakan terlepas beban mereka akan juga dikenai tanggungjawab atas kehidupan bayi malang itu selanjutnya. Maklum kehidupan ekonomi merekapun sudah kembang kempis.

 

Tak ada yang bertanya, bagaimana mungkin simbah yang miskin dan hanya kuli panggul itu mampu merawatnya? Karena selain hanya sebagai kuli panggul, simbah juga hanya bekerja sebagi buruh cuci. Maka adakalanya Sekar membantu simbahnya melipat baju2 yang telah di gosok simbah agar tampak rapi. Simbah tak mengizinkan Sekar ikut jadi pengamen jalanan seperti anak lainnya yang berkeliaran di jalan atau pasar demi rupiah. Simbah tak rela melihat cucu pungutnya itu kepanasan. Meski tak mampu membelikan apa apa, namun simbah berusaha memenuhi kebutuhan pangan sang cucu kecilnya tsb. Baginya itu saja dulu yang utama. Agar sang cucu dapat tumbuh sehat dan kuat. Maka simbah yang sudah uzur itupun makin giat mengangkat hasil bumi pedagang di pasar pasar demi rupiah yang tiada artinya bagi orang lain, namun sangat berarti bagi dirinya dan sang cucu tercinta.

 

Suatu malam saat mereka sedang santai di dipan kayu rumah reyot yang lebih tepat disebut gubuk itu. Simbah memandang cucunya dengan penuh arti.

“ Nduk. Kamu harus rajin sekolah ya. Agar bisa mentas nanti. Jangan dadi wong cilik terus seperti simbah iki. Syukur syukur kamu kelak bisa jadi priyayi . Hidupmu senang, simbahpun ikut senang nanti. Ya nduk? “

 

“ Inggih mbah, Sekar akan rajin sekolah. Tapi kata mba Icha, sekolahnya mau dipindah sama orang lain. Sopo iku, Sekar ndak tahu mbaaah. Mungkin orang gede. Gitu mbah kata ibunya Diah juga kemareen “.

 

Simbah terdiam sesaat. Merenungi kembali peristiwa setahun lalu. Saat dia mau daftarkan sang cucu ke sekolah gratisan di dekat rel kereta itu. Namun rupanya justru bertepatan dengan acara pembubaran sekolah gratis itu, lagi2 atas klaim sang pemilik area yang mengaku tak lagi bisa meneruskan proyek sosialnya karena hal hal yang tak jelas menurut daya nalarnya sebagai orang tak berpendidikan. Maka simbahpun pulang sambil menggandeng tangan sang cucu yang hanya bisa melongo tak mengerti.

 

Maka berita dari Sekar malam ini cukup membuatnya menahan nafas beberapa detik. Tak ada kata lain yang bisa diperbuatnya kecuali berdoa diam diam dalam hati, agar Gusti Allah dapat mencarikan jalan terbaik untuk kelanjutan pendidikan sang cucu tercinta.

Maka malam itu meski lelah seharian bekerja, simbah dengan khusyuk berdoa memohon agar Tuhan mau menolongnya. Demi sang cucu. Karena dia tak bisa berharap dari manusia, kecuali pada-NYA.

 

Namun di pagi itu, Sekar yang siap membantu keperluan simbahnya terkejut mendapati sosok kaku simbahnya yang bersimpuh di atas sajadah panjang yang kumal. Dibangunkannya simbah pelan pelan. Tubuhnya kaku, diam dan dingin. Namun parasnya tampak lembut dan damai.

Bocah itu bingung dan tiba tiba merasa takut. Ditinggalkannya simbah dan dia berlari ke tetangga depan rumah. Menggedor pintu rumah mereka dan menceritakan bahwa simbahnya kok seperti sudah mati. Kaget dan gempar seisi rumah tetangganya itu. Sebagian mengikuti Sekar kerumahnya untuk melihat simbah. Sebagian bergegas memberitahu tetangga lainnya. Maka tak berapa lama pun terdengar lengkingan pilu suara bocah kecil yang sangat berduka kehilangan orang yang dikasihinya. Para tetangga bertanya padanya apa simbahnya sakit sebelumnya. Namun bocah itu tak memahami apa yang terjadi. Tak sampai pada alam fikir kanak-kanaknya bahwa jantung simbah tak lagi kuat menahan kesedihan pada berita yang sempat didengarnya dari mulut cucunya semalam , saat dia baru saja menyampaikan harapannya. Bahwa sekolah gratis itupun bakal terancam dibubarkan lagi. Seperti tahun lalu.

 

Seminggu setelah kematian yang mengagetkan itu, Sekar hidup dari pemberian sedekah para tetangganya. Bergantian mereka memberinya uang ala kadarnya dan makanan apa saja yang kebetulan mereka punya. Namun tak ada yang mengajaknya untuk tinggal bersama dirumah mereka masing masing. Mungkin karena rumah merekapun tak lagi mampu menampung tanggungjawab satu nyawa yang akan resmi tinggal dirumahnya kelak. Sekolah gratis itupun memang bubar sudah. Tak ada respon dari pejabat setempat atas kelangsungan pendidikan anak anak golongan syudra itu selanjutnya. Semua sibuk mencari pembenaran dan tentunya saling mengkambinghitamkan satu sama lain.

 

Karena hal seperti itu sudah biasa terjadi di kota itu, maka peristiwa yang dialami Sekar dan juga sekolah gratisnya itu sering luput dari pemberitaan media masa setempat. Apalagi media saat ini lebih fokus memburu berita tentang para teroris yang entah siapa itu. Berita berita tentang mereka menjadi headline di semua media. Ditayangkan terus berulang ulang dan dikupas dari berbagai sisi di acara-acara di tivi. Seakan hanya itu hal paling penting yang jadi prioritas media untuk selalu diberitakan terus menerus ke publik.

Dan setiap orangpun seakan melupakan tugasnya masing masing. Sibuk sana sini membicarakan soal pengepungan di rumah teroris yang lagi lagi entah siapa mereka.

 

Sekar tak hirau pada segala hiruk pikuk tentang sepak terjang para teroris itu. Baginya mereka tak penting dan bukan keluarganya pula. Sore itu fikirannya sedang sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan seorang mahasiswi yang sedang memegang tanganya sambil memandangnya dengan senyum. Mba Ambar seorang mahasiswi diantara beberapa kakak-kakak mahasiswa yang beberapa waktu lalu sempat mengajarnya , kini tengah duduk dihadapannya. Menatapnya penuh empati.

Mereka bertemu saat Sekar yang tak sengaja bertemu dengannya di dekat pasar kopi. Sekar menyapanya malu malu..Tak terkira betapa pertemuan itu menjadi sangat mengharukan. Terlebih bagi Ambar setelah mendengar apa yang dialami mantan anak didiknya tsb. Ada perasaan menyesal yang tak bisa diungkapkan, namun dia tahu dirinya dan kawan-kawannyanya ikut berperan atas apa yang terjadi pada salah satu mantan muruidnya ini. Kepanikan dan kurang profesionalnya mereka dalam mengetahui kehidupan keluarga muridnya satu persatu adalah salah satu penyebab , mereka telat mendapat berita duka cita itu. Tapi setidaknya sekarang mereka belum terlambat untuk turut memikirkan nasib bocah yatim piatu ini, pikir gadis semester akhir itu. Kesempatan masih ada untuk membuat kehidupan bocah cilik itu menjadi lebih baik. Akan segera dirundingkannya dengan kawan kawan dalam komunitasnya nanti.

 

Maka lewat perjuangan para mahasiswa yang sebenarnya hanyalah anak anak rantau yang hidup ngekost itu, dapatlah diusahakan agar Sekar bisa diajak tinggal disalah satu tempat penampungan anak anak terlantar. Bocah cilik itu menurut saja. Baginya hidupnya mungkin lebih terjamin disana ketimbang seorang diri mengemis pada tetangganya yang juga hidup prihatin. Di rumah baru tersebut dia masih dapat makan minum, bermain dengan teman teman baru, dan yang baginya teramat penting adalah, dia masih dapat belajar lagi dengan gratis. Karena dibenaknya Sekar tak ingin jadi apapun selain ingin mentas sesuai pesan simbahnya sebelum meninggal mendadak itu. Sekar tak ingin jadi dokter, insinyur, pelukis ataupun sastrawan seperti yang dicitakan teman teman sebayanya. Dia tak mengerti semua istilah itu. Baginya hanya satu keinginan yang kelak akan dikejarnya. Menurut pemahamannya yang selugu simbahnya itu, ada istilah yang lebih akrab di telinganya sebagai wong cilik, yang pastinya akan menjadikan kehidupannya sejahtera turun temurun.Yaitu…menjadi Priyayi !!!

 

 

mentas : jadi seseorang yang tlah jadi/berhasil

dadi : jadi

iki : ini

inggih : iya

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *