THE PILLARS of the earth By. Ken Follet

Mengambil setting abad tengah yang memang selalu menjadi minat saya, kisah ini mengalir indah penuh intrik tak berkesudahan, serta kompleks. Kisah bermula saat seseorang dituduh mencuri lalu dihukum gantung di depan umum. Namun saat eksekusi selesai seorang wanita tiba2 melontarkan kutukan mengerikan pada tiga orang yang dianggapnya bertanggungjawab atas kematian pencuri yang ternyata suaminya.

 

Kemudian cerita bergulir pada sosok Tom si tukang batu handal yang sangat tertarik membangun katedral. Didorong oleh idealisme dan keahlian rancang bangunnya, membuat Tom membawa keluarganya berkelana utuk mencari katedral yang akan di bangun. Namun kenyataan yang dihadapi tak selalu sesuai bayangannya. Hidup yang sulit membuat Tom beralih membangun kastil milik kaum bangsawan. Tapi tragedi kehilangan istri saat melahirkan putra bungsunya, sempat membuatnya limbung. Namun pertemanannya dengan seorang wanita aneh yang pernah ditemuinya dalam pengembaraannya, membawanya pada titik terang rahasia pribadi yang coba disimpannya. Sampai pada cita-citanya membangun sebuah katedral meskipun lewat tragedi kebakaran yang dilakukan anak tirinya,Jack.

 

Pada bab ini kita mulai mengenal sosok Philip sang kepala biara baru di katedral Kingsbridges. Sosok Philip digambarkan sebagai biarawan muda yang penuh idealisme. Dimasa itu sosoknya mungkin dianggap sangat puritan dan tanpa kompromi. Terutama untuk urusan moralitas dan duniawi. Hal ini terlihat lewat perselisihannya mulai dari lingkungan terdekatnya di biara, para pekerja katedralnya, sampai pada uskup Waleran Bighot yang notabene atasannya sendiri. Sang uskup juga merupakan orang yang ikut andil mengangkatnya sebagai kepala biara, lewat negosiasi yang kemudian di sesalinya sendiri.

 

Lewat idealismenya, Philip berjuang membangun kehidupan biara yang penuh kemulyaan lewat katedralnya yang menjadi ruh dari kehidupan biaranya yang sederhana dan nyaris tanpa perkembangan sebelumnya. Dia juga nekad menghadapi keangkuhan para petinggi gereja dan kerajaan demi keberhasilan misinya. Hambatan terbesar justru datang dari sang uskupnya sendiri. Sang uskup lebih memilih berkomplot dengan para bangsawan dan bergelut dengan politik kerajaan demi ambisinya pribadi. Hal ini sempat membuat Philip gamang dan nyaris putus asa. Namun berbekal ketekadan dan keyakinannya pada campur tangan Tuhan dalam misinya, membuatnya tetap bangkit kembali. Sampai pada akhirnya, cita-citanya satu persatu mulai terwujud.

 

The Pillar juga mengambil latar belakang sejarah terbunuhnya uskup agung Canterbury, Thomas Becket yang menjadi legenda dalam sejarah hubungan yang penuh ironi antara pihak gereja dan kerajaan, yang naik turun dan penuh intrik dimasa itu.

 

Diceritakan dengan penuh daya pikat, penulis Ken Follet mampu membaurkan antara imajinasinya sebagai penulis dalam memadukan korelasi kejadian pada tiap inti cerita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *