Yang Terus Berjalan

Dia berjalan. Lurus dan dengan sikap tak acuh. Langkah-langkahnya tak tergesa. Menyusuri rel kereta yang sepi itu. Di sebuah pinggiran kota yang lengang. Hanya beberapa anak kecil berlarian. Mengejar bayang-bayang mereka sendiri. Dia terus melangkahkan kakinya. Dengan backpack di punggung dan raut wajah tanpa senyum. Kadang tampak kerut di keningnya menatap matahari. Tapi dia terus melangkah ditengah sepi. Di tengah pagi yang merata. Menghitung langkahnya sendirian. Jejak –jejaknya. Entah sudah berapa mil dilaluinya. Dia akan terus melangkahkan kakinya. Mencari sebuah jejak. Apa yang dia cari? Apa yang dia tunggu? Mungkin hanya saat-saat.

Ditangannya ada sebuah buku kecil. Semacam catatan perjalanan. Kadang kulihat dia duduk di peron menulis sesuatu. Memandang catatan-catatan yang tampak kusam. Mungkin hanya catatan-catatan itu temannya selama ini. Mungkin hanya catatan-catatan itu yang mengajaknya pergi. Apa yang dicatatnya? Tak ada yang bisa menjawab. Mungkin dia sendiripun tidak. Catatan-catatan itu mungkin mengisahkan perjalanannya sendiri. Menuliskannya agar terbaca olehnya. Dia yang tak pernah berhenti menyusuri jalan.

Sesekali dia istirahat di sebuah pembatas. Termenung. Matanya menatap lurus kedepan. Apa yang dia lihat? Lalu ditundukannya kepala. Seperti menghitung langkah-langkah yang terlewati. Limabelas menit kemudian, dia mengangkat tas punggungnya. Kembali berjalan menyusuri rel itu. Ada yang dipikirkannya. Mungkin tentang seseorang yang telah pergi. Meninggalkannya sendirian. Seseorang yang pernah menjadi bagian hidupnya. Menjadi mimpinya. Yang pernah akrab dalam sebuah percakapan. Seseorang yang tak pernah dikenalnya benar-benar. Yang tak sempat ditemuinya.

Seseorang itu aku…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *